Kebebasan Beragama di Zaman Nabi

Pergolakan terorisme di Tanah Air menjadi dekadensi umat Islam dalam beragama. Itu sebabnya, penting menilik kembali sejarah Nabi Muhammad SAW, meski beliau bertanggung jawab penuh menyampaikan syiar Islam karena misi kerasulannya. Namun, di lain sisi beliau tetap memberi kebebasan dalam beragama kepada umat Yahudi, Nasrani dan umat lainnya dalam melakukan ritual sesuai keyakinannya masing-masing. Bahkan, beliau sendiri menjamin keamanannya sebagaimana yang terdeklarasikan dalam Piagam Madinah. ... READ MORE.......

Jihad Pancasila ala Milenial

Aksi teror bom bunuh diri di Katedral Makassar pada Minggu (28/3/2021), serta penyerangan Mabes Polri yang baru terjadi pada Rabu (31/3/2021), tentu sangat mengkhawatirkan. Sebab, kedua aksi tersebut dilakukan oleh kaum milenial. Melihat keterlibatan milenial dalam aksi terorisme yang semakin serius, tentu perlu menjadi perhatian bersama. Milenial perlu disadarkan bahwa mencintai Tanah Airnya, merupakan sebagian dari iman. Oleh karena itu, perlu diingatkan kembali, jika milenial berperan dalam menjaga persatuan bangsa serta perdamaian. Jihadnya bukan jihad menebar ketakutan dan membuat kerusakan, tetapi jihad yang menebar kasih sayang dan kedamaian. ... READ MORE.......

Bahaya Slogan; Hidup Mulia atau Mati Syahid

Ada sebuah slogan heroik yang merebak menjadi sebuah fenomena di masyarakat kita. Kalimat itu adalah “hidup mulia atau mati syahid” (Isy kariman au mut syahidan), terdengar indah tetapi sejatinya amat problematis. Komunitas garis keras menjadikan kalimat ini sebagai shortcut (pintasan) dari gambaran ideologi perjuangannya. Di mana mereka mengajukan doktrin biner bagi umat Muslim. Bilamana kehidupan yang diasumsikan mulia tak berjalan sesuai ekspektasi, maka mati syahid menjadi pilihan selanjutnya yang tak jarang ditempuh lewat aksi kekerasan dan terorisme. Padahal, baik mati maupun hidup mulia, keduanya bisa diupayakan tanpa harus didikotomikan, dan tentunya bukan lewat aksi teror ataupun pengeboman. ... READ MORE.......

Apalagi Islam Kalau Bukan Cinta

Sedih rasanya menyaksikan agama Tuhan yang berisi ajaran kasih sayang dikooptasi habis-habisan oleh oknum jahat sebagai kendaraannya melakukan tindakan biadab. Otentisitas dimensi Islam sebagai agama cinta pada semua sudutnya, seakan tenggelam di bawah hiruk-pikuk kekerasan dan peperangan. Tengok saja bagaimana kelompok yang menamakan diri sebagai ‘mujahid’ mengumbar begitu banyak akrobat kejahatan yang memenggal kemanusiaan sembari bersenandung takbir dan mengusung tinggi atas nama Tuhan. ... READ MORE.......

Terorisme Keluarga, PR Kita Bersama

Tren aksi terorisme keluarga, bukan barang baru di Tanah Air. Faktanya, sejak 2002 insiden Bom Bali ini dilakukan oleh tiga bersaudara, yaitu Ali Ghufron, Amrozi dan Ali Imron. Namun, bila dulu perekrutannya ditunjukkan pada kalangan laki-laki, kini motif baru terorisme keluarga terlihat lebih kompleks, yakni suami yang terpapar melibatkan istri dan anak-anaknya pun turut diikutsertakan menjadi pelaku terorisme. Fenomenalnya lagi pada 2018, tiga keluarga sekaligus menjadi pelaku teroris bom bunuh diri. Ini persoalan pelik yang menjadi PR kita bersama. Jika dalam lingkup keluarga tidak bisa diandalkan mencegah paham teroris, maka siapa lagi kalau bukan lingkungan sekitarnya yang harus siap siaga menyadarkan. ... READ MORE.......

Mematahkan Ideologi Ekstremis Bom Bunuh Diri

Aksi Bom Bunuh Diri di depan Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/02/2021) menjadi fakta ideologi ekstremis masih berkeliaran di Indonesia. Itu sebabnya, ideologi ekstremis yang membahayakan ini harus segera dipatahkan mata rantainya. Demikian, pihak pemerintah masyarakat berperan penting untuk berkontribusi secara cermat dalam mewaspadai dari segala paham yang mudah menyalakan api peperangan. ... READ MORE.......

Keliru Memahami Agama, Aksi Teror Imbasnya

Peristiwa bom bunuh diri kembali menghebohkan publik. Tragedi ini terjadi di depan gereja Katedral Makassar. Menariknya, sebelum melangsungkan aksinya, seorang pelaku sempat berpamitan kepada orang tuanya melalui sepucuk surat. Di dalamnya ia mengatakan siap untuk mati syahid. Tak ayal, bom bunuh diri atau aksi teror tersebut bersumber dari kekeliruan dalam memahami agama. ... READ MORE.......

Jiwa itu Dipelihara, Bukan Dibom

Aksi terorisme kembali menghebohkan masyarakat Tanah Air. Bom bunuh diri meledak tepatnya di halaman gereja Katolik di Makassar, Sulawesi Selatan. Ketika berita pengeboman tersiar, banyak orang mengecam tindakan tersebut. Terorisme yang mengatasnamakan agama ini begitu jelas dan nyata, mengabaikan keselamatan jiwa dan raga. Berbanding terbalik dengan kemaslahatan yang menjadi tujuan ajaran Islam. ... READ MORE.......