Surat Al-Furqon ayat 20: Manusia adalah Ujian bagi Manusia Lainnya

RecommendedSurat Al-Furqon ayat 20: Manusia adalah Ujian bagi Manusia Lainnya

Jangan heran ketika orang yang ada di sekitarmu pernah melukaimu. Ujian itu bisa datang dari siapapun, baik orang terdekat maupun yang jauh. Mereka bagian dari kehidupan yang Allah SWT hadirkan untuk saling menguji satu sama lain. Siapa yang bisa bersabar, ia lulus dari ujian tersebut, karena sesungguhnya ia mencoba memahami skenario apa yang sedang dibuat Tuhannya.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT:

وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّآ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً ۗ اَتَصْبِرُوْنَۚ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًا

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat (QS. Al-Furqon: 20).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Jika diberitahukan tentang para rasul yang terdahulu telah diutus bahwa mereka memakan makanan dan memerlukan gizi, serta berjalan di pasar-pasar untuk mencari mata pencaharian dan berdagang. Hal tersebut tidaklah bertentangan dengan keadaan mereka dan juga kedudukan mereka. Karena sesungguhnya Allah telah jadikan kepada diri mereka tanda-tanda yang baik.

Yakni, sifat-sifat yang terpuji, ucapan-ucapan yang utama, amal perbuatan yang sempurna, dan mukjizat-mukjizat yang cemerlang serta dalil-dalil (bukti-bukti) yang jelas, sehingga orang yang mempunyai hati yang sehat dan pandangan yang lurus akan membenarkan apa yang disampaikan oleh mereka itu dari Allah SWT.

Kemudian makna dari, Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat. Muhammad Ibn Ishaq mengaitkan menganalogikan ayat tersebut, seolah-olah Allah SWT berfirman “Seandainya Aku menghendaki dunia ini Aku jadikan bersama para rasul-Ku, agar mereka tidak ditentang (tidak memiliki musuk), tentulah Aku dapat melakukannya. Akan tetapi, sengaja Aku menghendaki untuk menguji hamba-hamba-Ku dengan para rasul-Ku, dan Aku menguji para rasul-Ku dengan mereka.”

Dari sini kita dapat memahami, bukan manusia ingin menyakiti satu sama lain segala persoalan itu terjadi begitu saja, meski secara kasat mata kita diperlihatkan melalui kausalitas dari sebuah peristiwa. Semuanya tak lepas dari takdir-takdir Allah SWT menguji hambanya dalam keimanan. Seseorang merasa dirinya dibuat marah atau kecewa karena orang lain,

Baca Juga  Merayakan Hari Pangan melalui Praktik Teladan Kenabian

Sebab itu, tertera kalimat “Maukah kamu bersabar?.” Allah Maha Melihat, kebanyakan manusia tidak bersabar saat diberi cobaan, ketimbang berupaya mengambil hikmah dari peristiwa ia justru lepas kendali dengan saling mencemoh dan pertikaian terjadi. Dalam persoalan, terdapat hal yang salah dan benar itu pasti ada. Namun, bagaimana dengan mereka yang konon merasa benar tetap bersikap baik, terhormat, tidak angkuh menyalahkan kepada yang dinilai salah. Ingat, bahwa ini cobaan, yang benar bisa menjadi keliru ketika ia tidak memiliki sikap yang tepat dalam merespons sebuah kesalahan.

Sedangkan, bagi yang salah, seseorang akan dihadapkan dengan keberaniannya bertanggung jawab. Maukah ia mengakui dirinya bersalah? Lantas meminta maaf dan tidak mengulangi kesalahannya kembali, serta memaklumi dirinya akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk kembali mendapat kepercayaan. Sebagai seorang Mukmin, maukah bersabar? Begitu Allah mengatakan kepada hambanya. Kesalahan yang dilakukannya adalah sebuah ujian. Jika ia dapat memaklumi dan berusaha bersikap baik, maka boleh jadi kekhilafannya menjadi petunjuk jalannya menuju kebenaran.

يَقُولُ اللَّهُ: إِنِّي مُبْتَلِيك، ومُبْتَلٍ بِكَ

Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman, bahwa sesungguhnya Aku akan mengujimu dan menguji (hamba-hamba)-Ku denganmu (HR. Bukhari).

Kendati kita mengetahui, di balik cobaan yang menguji hati manusia tak lepas dari kekuasaan Allah, tentu tak mudah melapangkan hati agar tidak kecewa. Paling tidak, ketika jiwa dididik untuk terus memahami ujian datangnya dari Tuhan, maka sedikit demi sedikit kekecewaan itu akan terkikis. Begitu para sufi melihat dunia, ia selalu terjaga dalam kesadaran saat cobaan didatangkan dari orang-orang terdekatnya, karena ia memahami hatinya akan digoncang dahsyat sehingga tak terkecoh. Sebaliknya, cobaan yang didatangkan dari orang yang dinilai jauh goncangannya lebih ringan. Untuk itu, perlu bagi Mukmin senantiasa memohon perlindungan Allah agar diberi kekuatan mampu melewati setiap cobaan dengan kebijaksanaan.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.