Mulai dengan “Mengapa”

BeritaMulai dengan “Mengapa”

Apa yang sering kita tanyakan pada diri sendiri saat akan melakukan sesuatu atau mengambil keputusan? Misalkan saat akan membeli gawai, ketika hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, saat akan membuka bisnis, saat memutuskan untuk menikah, hendak mencalonkan diri sebagai wakil rakyat, atau kondisi-kondisi lain dalam kehidupan. Tanpa ada pertanyaan pendahuluan tentang motif dan tujuan kita dalam berkeputusan, atau bahkan dimulai dengan pertanyaan yang keliru, jawaban yang benar sekalipun, pada akhirnya tidak akan tepat mengarahkan kita.

Judul tulisan ini meminjam karya menarik Simon Sinek yang berjudul Start With Why: Cara Pemimpin Besar Menginspirasi Orang untuk Bertindak. Bagi penulis, judul tersebut seperti magnet dan menjadi semacam afirmasi terhadap hal-hal personal yang pernah penulis alami terkait dengan pertanyaan “Mengapa”. Sinek mengajukan tesis dalam buku tersebut, bahwa kemampuan menginspirasi orang lain meliputi cara berpikir, bertindak, berkomunikasi merupakan pola berulang yang muncul secara alami dan bisa dipelajari. Tentu pentingnya memulai dengan “Mengapa” tidak hanya dicadangkan untuk strategi menjadi pemimpin inspiratif saja, tapi berlaku pula bagi segala hal dalam kita mengambil keputusan.

Pertanyaan “Mengapa” mencoba mengidentifikasi tujuan, kepercayaan, serta isu yang diperjuangan. Faktor ini yang menurut Sinek akan menginspirasi dan menghasilkan kesetiaan. Jika seseorang memutuskan melanjutkan strata dua misalkan karena ingin memperbanyak gelar atau menjaga gengsi semata, lalu berkuliah dan lulus, maka setelah selesai ia akan sangat rentan mengalami disorientasi. Ia tak punya pegangan tujuan yang kokoh. Gelar boleh jadi memang didapat, tapi bukan rasa setia atas proses maupun gelombang inspirasi bagi orang sekitar. Sebatas kepuasan instan. Orang tersebut hanya mendasarkan keputusannya pada “Apa” dan “Bagaimana”. Pun demikian, bukan berarti “Apa” dan “Bagaimana” tidak penting dalam suatu keputusan. Tapi melupakan faktor “Mengapa” adalah permulaan yang dangkal.

“Mengapa” adalah untuk merumuskan diri. Pertanyaan tersebut mengajak kita berkomunikasi dari dalam ke luar, bukan sebaliknya. Menempatkan tujuan kuliah S2 untuk terus mempelajari bidang pendidikan yang diminati sebagai upaya untuk menguatkan kontribusi seseorang dalam memberdayakan pendidikan di daerah terpencil misalnya. Ada energi dan isu perjuangan dalam tujuan ini. Kesulitan-kesulitan yang mungkin muncul tak akan lantas mengoyak usahanya, karena tujuan prinsipnya adalah belajar dan mengembalikan nilai tambahnya pada sekitar. Kita punya kebebasan untuk merumuskan. Dan “Mengapa” akan memfasilitasi kita untuk mencapai sasaran tujuan filosofis yang akan menjadi penyokong.

Hal sederhana yang penulis sadari tentang pentingnya “Mengapa” adalah saat proses melengkapi berkas untuk pengajuan beasiswa. Para pelamar diberi pertanyaan-pertanyaan bernada “Mengapa”. “Mengapa Anda memilih beasiswa ini?” “Mengapa Anda mengambil jurusan tersebut?” “Mengapa Anda memilih kampus itu?” Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu adalah proses menggali apa yang menjadi jantung tujuan yang tulus dari pelamar beasiswa. Jawaban pragmatis yang sebatas mengandalkan unsur luaran, seperti beasiswanya bernilai besar, kampusnya bereputasi bagus, akan dengan mudah diendus penyeleksi sebagai jawaban praktis dan instan. Sebab “Mengapa” adalah proses kreatif untuk menggali yang bernilai.

Baca Juga  Gus Ishom: Melawan Kezaliman Butuh Keberanian

Dalam politik, ada pemimpin dan ada juga orang yang memimpin. Jika berpolitik semata-mata ditujukan untuk menjadi pemimpin atau penguasa, dan bukan orang yang memimpin, lalu ia melakukan cara-cara manipulatif untuk meraup suara masyarakat seperti memberi tekanan atau bagi-bagi uang, maka kesuksesannya pun tak akan bertahan lama. Tak satu pun metode manipulasi yang menciptakan kesetiaan, sebab manipulasi mengarah pada transaksi bukan loyalitas. Seorang calon yang berlaga dalam politik memang dapat terbantu oleh metode manipulasi, namun tidak menciptakan landasan bagi kepemimpinan. Calon tersebut hanya menjual “Apa” yang bisa diberikan untuk membujuk warga agar memilihnya, dan mengobral “Bagaimana” program-program yang dijanjikan.

Saat kita mengawali dengan “Apa” atau “Bagaimana” dalam melakukan sesuatu, boleh jadi akan terjadi kesuksesan di awal, tapi itu tidak akan mempertahankan kesetiaan. Dalam berbisnis, banyaknya promo barang, iklan-iklan produk yang terlampau artifisial, mungkin akan menjadikan banyak barang terjual. Efektif untuk jangka pendek, tapi akan memakan biaya sangat mahal untuk jangka panjang. Saat modal yang dialokasikan untuk menanggung diskon telah habis, pelanggan akan dengan mudah berpaling.

Dengan mengajukan kisah pemimpin dan perusahaan berpengaruh seperti Martin Luther King hingga Steve Jobs, Sinek mencoba menunjukkan magis dari mengawali sesuatu dengan “Mengapa”, dan bahwa apa yang orang-orang berpengaruh itu lakukan berlawanan dari kebanyakan orang. Sinek mencontohkan Apple.Inc sebagai contoh perusahaan yang unggul dan menginspirasi karena merumuskan dirinya dengan “Mengapa”. Untuk memasarkan produknya, mereka tidak sekadar merangkai iklan produk lengkap dengan spesifikasinya lalu mengakhiri dengan ajakan untuk membeli. Apple tidak mematuhi norma itu, tapi menulis pesan pemasaran yang diawali dengan “Mengapa”.

Dalam segala sesuatu yang kami lakukan, kami percaya pada tindakan menantang status quo. Kami percaya pada tindakan berpikir secara berbeda.

Cara kami menantang status quo adalah menjadikan produk kami dirancang dengan indah, mudah digunakan, dan ramah pengguna.

Dan kebetulan kami membuat komputer yang hebat. Anda ingin beli?

Begitulah pesan pemasaran yang dibuat Apple sebagaimana penuturan Sinek. Produk Apple merupakan perwujudan dari tujuan yang mereka perjuangkan. Apa yang mereka buat berfungsi sebagai bukti kasatmata dari apa yang mereka yakini. Kita menyaksikan, betapa pelanggan Apple rela mengantri berjam-jam untuk mendapatkan produk baru yang diluncurkan. Apple tidak hanya menjual produk, tapi mampu fleksibel dan menyentuh apa yang berada lebih di dalam, sehingga menumbuhkan kesetiaan. Dan orang percaya bahwa Apple itu autentik.

Tulisan ini bukanlah ulasan atas buku sebagaimana kerangka resensi pada umumnya. Namun, sebatas catatan pengalaman yang kebetulan mendapat dukungan dari gagasan buku Simon Sinek tersebut. Tujuan serta isu perjuangan yang direpresentasikan baik itu oleh pemimpin, perusahaan, produk, atau seseorang lah yang akan menginspirasi kesetiaan dan aksi. Jangan lupa untuk mengawali keputusan dengan faktor “Mengapa”. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.