Mengapa Banyak yang Lapar, Tapi Sedikit yang Berpuasa

KhazanahMengapa Banyak yang Lapar, Tapi Sedikit yang Berpuasa

Ramadhan tiba, sekalian umat Muslim pun serentak berpuasa. Namun demikian, sejak lama Nabi Muhammad SAW telah menyangsikan sekaligus memperingatkan orang-orang yang berpuasa itu dengan berkata, “Berapa banyak orang yang berpuasa tapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga”. Banyak shaim (orang berpuasa) yang berakhir dengan keletihan fisik semata, sebab kelalaiannya dari inti puasa, yakni menjaga diri (al-wara’). Ketika Rasulullah ditanya Ali bin Abi Thalib mengenai apa amalan utama di bulan Ramadhan, Nabi menjawab: “Wahai Abal Hasan! Amal paling utama di bulan Ramadhan adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah.”

Boleh jadi seorang shaim memang menutup mulut dari makanan dan minuman, tapi tidak memuasakan dirinya dari pembicaraan tercela, ucapan menyakitkan, pikiran-pikiran menyeleweng, atau segala perilaku bermuatan maksiat lainnya. Ketika Nabi mendapati seorang perempuan mencaci maki pekerjanya, sontak beliau menyuruhnya untuk makan. “Tapi aku sedang berpuasa, wahai Nabi”, protes perempuan itu. Dijawab oleh Nabi, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa tapi kamu mencaci maki budakmu? Alangkah banyaknya yang lapar, betapa sedikitnya yang berpuasa”. Nabi mengisyaratkan bahwa menahan lapar dan haus bagi perempuan itu tak lagi berguna. Puasanya tiada makna.

Sebagai ciptaan paling mulia, manusia diuji dengan dua dimensi yang dimilikinya; yakni sisi liar kebinatangan dan sisi malaikat. Berpuasa ditujukan untuk menjinakkan kecenderungan dimensi kebinatangan dan lebih menguatkan sisi malaikat dalam diri manusia agar ia tidak terjerembab dalam lembah kesengsaraan. Sebab, sumber utama dari segala derita manusia adalah kekalahannya melawan hawa nafsu. Pantas saja, perlawanan pada hawa nafsu sendiri dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai jihad akbar. Sebuah peperangan yang lebih sulit dan sengit ketimbang pertempuran di medan perang. Sengsara pun bakal jadi tanggungan manusia yang gagal menundukkan desakan nafsunya sehingga terhalang dari pendar ketuhanan.

Rumi menggambarkan penderitaan jiwa kita seperti seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya, di mana Tuhan adalah “rumpun bambu” kita. Artinya, derita manusia yang berkepanjangan adalah karena berkeliaran mengejar nafsu duniawi, padahal “Sesungguhnya, kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan hiburan” [6: 32]. Penderitaan tadi tak ubahnya jerit kerinduan kita untuk kembali pulang kepada-Nya, karena kita mengalami keterpisahan dengan rumah yang hakiki, rumpun bambu tadi; Tuhan. Selama ini kita terlampau asyik bermain, terlalu sibuk ‘jajan’ aneka macam: popularitas, kekayaan, kekuasaan, dan berbagai barang duniawi semisalnya.

Baca Juga  Ngaji Maraqi Al-‘Ubudiyah: Meninggalkan Perbuatan Maksiat (Bagian 3)

Di lain tempat, Rumi bercerita tentang seorang bijak yang berkali-kali memukuli orang tidur dengan tongkatnya. Orang yang tidur tadi lari ketakutan menuju pohon apel, sementara si bijak tetap mengejarnya bahkan memaksanya pula untuk makan apel-apel busuk yang bertebaran di tanah. “Makanlah! Hai orang malang, makanlah!”, kata si bijak. Orang itu terus dipaksa makan apel dan dipukuli. Pada akhirnya, setelah kelelahan dan perut penuh dengan apel busuk, orang tadi terjatuh dan memuntahkan seluruh isi perutnya, segala yang baik dan yang buruk, apel juga ular dari perutnya. Ternyata orang itu tak sadar, saat tadi sedang tertidur ada ular yang masuk ke dalam mulutnya. Itulah kenapa si bijak memburu dan memukulinya. Tak lain agar ular hawa nafsu tadi keluar dari dirinya.

Kata Rumi, “Berterimakasihlah ketika apa yang nampak kasar datang padamu dari orang bijak”. Sebab seorang arif menyadari bahaya dan keburukan apa yang bersarang pada diri kita. Demikianlah, puasa yang Allah wajibkan memang terlihat berat dan kasar. Tapi itulah tempaan. Kedatangan Ramadhan adalah datangnya orang bijak dalam kisah yang dituturkan Rumi. Bulan ini memukuli kita dengan lapar dan haus, kita dipaksa memuntahkan ‘jajanan’ duniawi, agar selamat dan tak menderita di hari akhir nanti.

Perlu ketetapan hati dan perjuangan menjaga diri secara kontinu dari hal-hal yang Allah haramkan untuk mencapai puasa yang sebetul-betulnya, puasa yang tidak sekadar menyisakan lapar dahaga, puasa yang bisa membuahkan ganjaran dan perkenan Tuhan, serta puasa yang dapat menuntun kita ke rumah yang hakiki penuh lapang bahagia. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.