Mereka yang Tangannya Dicium Nabi

KhazanahMereka yang Tangannya Dicium Nabi

Mencium tangan merupakan kultur sopan santun yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan menunjukkan rasa cinta pada seseorang. Budaya ini sangat lekat di keseharian masyarakat Indonesia. Murid mencium tangan gurunya, anak kepada orang tuanya, cium tangan pada yang lebih tua, atau mencium tangan kiai dan seorang alim. Mencium tangan dengan demikian merujuk pada kedudukan baik orang yang dicium tersebut. Maka betapa istimewa orang yang tangannya pernah dicium sosok mulia Nabi Muhammad SAW.

Suatu ketika sepulang dari perang Tabuk, Rasulullah berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari, kemudian bersalaman dengannya. Nabi mendapati tangan sahabatnya itu keras, kasar, juga kering. Beliau menanyakan kenapa tangannya demikian. Ternyata pekerjaan sehari-harinya mengolah tanah serta mengangkut air di ladang menyebabkan tangannya kasar. Itu semua dilakukan Sa’ad untuk menafkahi keluarganya.

Tangan yang kapalan dengan buku jarinya mengeras itu pun direngkuh dan dicium Nabi. Beliau menuturkan, bahwa tangan itu tak akan disentuh oleh api neraka, juga merupakan tangan yang dicintai Allah sebab dipakainya bekerja keras untuk menyambung hidup dirinya serta keluarga. Sa’ad bin Mua’adz adalah sahabat agung yang berperan banyak dalam sejumlah peperangan. Ia syahid setelah bertahan kurang lebih sebulan setelah terkena anak panah dalam perang Khandaq.

Hal serupa juga terjadi pada sahabat Mu’adz bin Jabal. Rasulullah SAW mencium tangannya setelah tahu tangan kasar dan melepuh Mu’adz yang beliau jabat itu adalah bekas dari kerja kerasnya untuk bertahan hidup. Nabi juga mengatakan, tangan pekerja keras yang hitam dan kasar itu dicintai Allah serta tak akan tersentuh api neraka. Bukan hanya beretos kerja tinggi, Mu’adz merupakan salah seorang cendekiawan di kalangan para sahabat.

Orang-orang beruntung yang tangannya dikecup oleh Rasulullah bukanlah para ahli ibadah, bukan orang berpangkat, orang kaya, atau tidak pula orang pintar. Tapi mereka yang mengerahkan daya diri untuk bekerja secara optimal. Dua kisah di atas menjadi isyarat tajam akan kemuliaan dan pentingnya kerja bagi seorang manusia. Rasulullah menaruh hormat tinggi pada seorang pekerja keras. Karena dengan bekerja artinya ia tak menyia-nyiakan kemampuan berpikir dan aksi yang dititipkan Tuhan.

Baca Juga  Manhaj Islam Internet

Islam sangat menentang sikap malas dan meminta-minta, sehingga aktivitas kerja begitu utama derajatnya. Artinya umat Muslim diajarkan kemandirian, karena sikap berpangku tangan akan menjadi beban bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda, Salah seorang di antara kalian memikul kayu bakar di punggungnya itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada seseorang baik ia diberi atau ditolak (HR. Bukhari). Segala jenis pekerjaan selagi halal, Allah akan menghargainya.

Kerja adalah fitrah dan keniscayaan bagi manusia. Eksistensi dengan segala entitasnya ini bisa berjalan jika kerja-kerja dilakukan. Kerja keras pun menjadi inti ajaran Islam dan menjadi pokok terjalinnya peradaban. Suatu kenyataan pahit mengetahui umat Islam kini adalah sekadar konsumen peradaban. Betapa hampir semua benda yang kita gunakan dalam keseharian adalah buah kerja umat non-Muslim. Sebuah penghinaan yang tak diucapkan, sebagaimana perkataan Enzensberger dalam “Si Buntung”, Catatan Pinggir Gunawan Moehammad.

Umat Islam kerepotan untuk mengambil alih kembali tuas kemajuan peradaban yang pernah dipegang saat periode klasik. Pandangan negatif dan pesimistis pada dunia dan berkembangnya teologi fatalistis di tengah umat Islam mau tidak mau membangun paradigma yang merendahkan dunia. Pada akhirnya berpengaruh pula pada konsep kerja serta seberapa jauh umat Muslim memandang pentingnya kerja.

Bekerja membuat kita bernilai. Susah payah yang dialami dalam kerja sejatinya adalah kenikmatan, karena Allah memang mengatur mekanisme rasa puas dan nikmat seseorang setelah ia menempuh upaya serta lelah kerja. Untuk bertahan hidup, bertanggung jawab pada keluarga, hingga tugas kekhalifahan berupa memakmurkan bumi harus ditempuh manusia dengan aksi kerja. Demikianlah, mengapa orang-orang yang menggerakkan diri untuk bekerja dicintai Allah dan dimuliakan Rasul-Nya. Meskipun peristiwa orang yang tangannya dicium Nabi sangat terbatas, tapi hakikat penghormatan beliau selalu hadir untuk siapapun yang mau bekerja. Bekerja keras, kerja ikhlas, dan selaras. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.