Menemui Nabi di Tengah Kaum Papa

KhazanahHadisMenemui Nabi di Tengah Kaum Papa

Betapa kita cenderung mencukupkan diri pada ritualitas Islam, dan lalai pada persoalan aktual manusia seperti kemiskinan, kelaparan, kebodohan, penderitaan hidup orang-orang di sekeliling. Banyak umat Islam kaya yang membaca kitab suci, khusyuk meluruskan dahi di atas sajadah, hingga bolak-balik berkunjung ke Tanah Suci, sementara saudara-saudara di sekitarnya ringkih kelaparan karena malanutrisi, kesulitan berobat saat sakit, dan tak mampu mengakses pendidikan, tapi kurang mendapat perhatian. Di sana-sini masjid dibangun megah, bertatah emas, menghabiskan uang miliaran rupiah, sedangkan banyak rumah warga digusur, membuatnya terlilit hutang dan hidup di bawah garis kemiskinan akut.

Duka dan ironi itu terjadi karena keimanan yang samar diinsafi. Nabi Muhammad telah melukiskan, “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal jalinan kasih sayang, kecintaan, dan kesetiakawanan, seperti halnya satu tubuh, yang jika salah satu anggotanya mengeluh karena sakit, maka seluruh anggota lainnya menunjukkan simpatinya dengan berjaga semalaman serta turut menanggung demam (ikut merasakan sakitnya)” (HR. Bukhari-Muslim). Kemampuan peduli dan solidaritas kemanusiaan ditekankan Nabi sebagai bukti konkret dari orang yang menyatakan diri beriman.

Sejak awal, risalah Nabi sudah jelas. Semangat dakwah beliau adalah membela dan membebaskan kaum lemah serta mereka yang dilemahkan. Nabi Muhammad hadir di tengah masyarakat Arab Mekkah yang hidup dalam tema besar penindasan. Sekelompok kecil orang melangsungkan kehidupan di atas penderitaan sejumlah besar kelompok lain. Elite Mekkah sekuat tenaga melawan Nabi, bukan karena beliau mengajarkan peribadatan kepada umat—mengingat kaum Yahudi, Nasrani, dan golongan Hanif pun mendapat keleluasaan sebelum Nabi datang—melainkan karena elan dakwah Nabi mengancam status quo para aristokrat rakus dan penindas tersebut.

Nabi menanamkan benih-benih keadilan serta persamaan harkat kemanusiaan dengan mendorong pembebasan budak, menghapus praktik riba, perlindungan pada anak yatim dan wanita, pembelaan pada siapa saja yang mengalami kemalangan. Semua itu membahayakan bisnis kumuh sekelompok aristokrat tadi. Mereka marah karena hak-hak istimewanya terancam. Tak ada lagi nanti yang bisa diperbudak sesuka, yang bisa bebas dihisap hartanya, wanita-wanita yang dapat dieksploitasi sepuasnya termasuk jabang bayi perempuan yang bisa dibenamkan hidup-hidup apabila ajaran Muhammad dibiarkan tegak berdiri.

Sejarah terus berulang. Sampai hari ini, kemiskinan dan ketidakadilan sosial dilanggengkan oleh ambisi struktur kuasa serupa taktik para elite Mekkah yang menindas tadi, hanya kini lain bentuk dan rupa. Hari ini kita menyaksikan, kemiskinan masyarakat bergandengan erat dengan kemewahan pemimpin mereka dan sekelompok elite di sisinya. Segelintir orang cenderung berhasrat menumpuk harta, bermegah-megahan, enggan mendistribusikan sebagian kekayaan yang dimilikinya, menancapkan lebih dalam kuku kekuasaan agar leluasa memertahankan hak-hak istimewa, dan tutup mata pada daftar penderitaan umat manusia di kanan kirinya.

Baca Juga  Ngaji Maraqi Al-‘Ubudiyah: Nasehat Bagi Para Penuntut Ilmu (Bagian 2)

Maka dari itu, tiap bentuk perlawanan yang bersuara keras untuk keadilan, bahwa “pada harta si kaya ada hak si miskin” akan mendapat serangan balik berkali lipat lebih sengit. Tapi, Nabi mengajak kita untuk pantang gentar. Selama hidup, hari-hari beliau tetap diisi dengan ragam advokasi pada kelompok yang lemah (dhuafa) dan yang dilemahkan (mustadhafin). Sikap ini adalah wasiat. Nabi bahkan menunjukkan rute terbaik jika ingin menemui beliau. Dalam sabdanya, “Carilah aku di antara orang-orang lemah di antara kamu. Carilah aku di tengah-tengah kelompok kecil di antara kamu”.

Para sahabat menyaksikan Rasulullah SAW duduk sejajar dengan hamba sahaya, menyuapi pengemis buta di tepi jalan, lain waktu melihat beliau menjahitkan pakaian janda tua miskin, memberi makan mereka yang kelaparan, menggembirakan anak yatim. Termasuk menjadi saksi bahwa Nabi Muhammad menjalani laku hidupnya sendiri tanpa bermegahan dan bersedia mendaki bukit dakwah yang terjal.

Hadir membersamai kelompok kecil tertindas adalah langkah awal Nabi untuk membebaskan mereka. Sampai-sampai Nabi dijuluki Abu al-Masakin (Bapak orang-orang miskin). Keberadaan beliau di tengah mereka itu ditujukan untuk membangkitkan harga diri para fakir miskin, rakyat kecil, dan siapapun yang tak berdaya, sebab merekalah yang paling kerap diremehkan, dihina, direndahkan, dan dianggap tak penting. Kemiskinan itu dituduh terjadi akibat kebodohan dan kemalasan mereka sendiri. Padahal struktur kekuasaan kejilah yang mengekalkannya.

Nabi tak segan memeluk, mencium, bahkan memuji orang-orang miskin dan lemah di muka umum agar mereka tak merasa kecil pula rendah. Upaya edukatif untuk mendorong umatnya berbuat baik dan memberdayakan kaum papa juga terus-menerus Nabi kumandangkan melalui sabda-sabdanya. “Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin” (HR. Ahmad).

Selanjutnya, pilihan hidup sederhana laiknya kelompok kecil juga menjadi cara berkelanjutan Nabi membebaskan kaum tertindas. Nabi menaruh empati dan altruisme sebagai dasar perilaku. Karenanya, Nabi bisa sekian lama menahan lapar dan memberikan makanan yang dipunya untuk orang lain. Memilih tidur di atas tikar kasar, tak pernah menimbun harta bahkan makanan.

Dengan posisi sosialnya yang terkemuka, bukan mustahil bagi Nabi untuk hidup nyaman, berlebih, dan sarat keistimewaan. Laku hidup sederhana itu bukan karena Nabi mengharamkan yang halal, tapi untuk lebih dekat dengan kaum lemah dan tertindas sekaligus menunjukkan pada siapa beliau berpihak. Membela kaum papa adalah ibadah yang utama. Dan ingat, kita bisa menemui Nabi Muhammad di sana. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.