Para Ibu dalam Hidup Nabi Muhammad SAW

KhazanahPara Ibu dalam Hidup Nabi Muhammad SAW

Sejak kecil, Rasulullah SAW hidup dari satu pengasuhan ke pengasuhan. Sebab sang ayah, Sayyid ‘Abdullah, telah wafat semenjak beliau berusia empat bulan di dalam kandungan, Sayyidah Aminah pun menjadi ibu tunggal, dan sosok ayah diperankan oleh Sayyid Abdul Muthallib, kakek Nabi SAW. Kebersamaan Nabi Muhammad dengan ibunda terkasihnya juga terbilang sebentar. Aminah binti Wahab, perempuan mulia nan suci itu wafat ketika Nabi berusia enam tahun, dan pengasuhan beliau kemudian praktis diambil alih oleh sang kakek. Selain Sayyidah Aminah sebagai ibu biologisnya, perjalanan hidup Nabi pun melibatkan sejumlah perempuan yang menjadi figur ibu bagi beliau, yang turut merawat serta membentuk pribadi Nabi.

Adalah Tsuwaibah al-Aslamiyah, perempuan pertama selepas Sayyidah Aminah yang berkesempatan menyusui Nabi Muhammad SAW. Tsuwaibah merupakan budak dari paman Nabi, Abu Lahab. Ia dapatkan kemerdekaannya karena menjadi pembawa kabar menggembirakan bagi Abu Lahab yang tak lain adalah berita mengenai kelahiran Nabi Muhammad SAW. Keberkahan Nabi bahkan telah beredar seketika setelah beliau hadir di muka bumi. Konon Tsuwaibah menyusui Nabi Muhammad tidak lama, ada yang menyebutnya tiga hari, ada pula yang mengatakan selama sepekan. Meski hanya sebentar, Nabi Muhammad tak pernah melupakan jasa Tsuwaibah. Beliau telah menganggapnya sebagai ibu sendiri. Hubungan baik dengannya pun terus Nabi jaga, seperti dengan berkirim makanan hingga pakaian untuk ibu susuannya tersebut. 

Perempuan beruntung selanjutnya adalah Halimah al-Sa’diyah. Namanya menjadi yang paling populer sebagai ibu asuh yang menyusui Nabi Muhammad SAW. Halimah adalah perempuan Badui dari Bani Sa’ad yang gigih dan penyayang. Memang menjadi salah satu tradisi masyarakat Arab untuk menitipkan para bayi mereka kepada perempuan Badui untuk disusukan. Tujuannya supaya bayi-bayi itu tumbuh sehat, memiliki fisik kuat, dan terhindar dari penyakit yang merebak di kota. Selain itu, terselip pula tujuan edukatif agar anak-anak tersebut fasih berbahasa Arab. Ini semua karena wilayah pedesaan Badui masih memiliki lingkungan yang bersih, udara yang baik, serta bahasa Arab mereka masih murni.

Nabi diasuh oleh Halimah selama kurang lebih empat tahun sebelum kemudian dikembalikan ke pangkuan Sayyidah Aminah. Betapa keberkahan besar dirasakan Halimah dan keluarganya selama merawat Nabi. Hewan ternaknya tumbuh gemuk-gemuk dan menghasilkan banyak susu. Halimah adalah perempuan dusun miskin yang mengasuh Nabi dengan penuh cinta. Ia bahkan meminta perpanjangan waktu untuk tetap merawat Nabi setelah masa dua tahun menyusui usai. Dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud, dikisahkan betapa Rasulullah menghormati ibu yang memberinya ASI tersebut. Suatu ketika, ‘Amir bin Watsilah al-Kinani saat usianya masih kecil, melihat Nabi tengah membagikan daging di Ji’ranah. Lalu ada perempuan tua yang mendekati beliau, dan seketika Nabi menyudahi aktivitasnya, menghampiri perempuan itu lalu menghamparkan serbannya untuk alas duduk wanita tua tersebut. Ternyata perempuan itu tak lain adalah ibu yang dulu menyusui Nabi.

Selanjutnya ada nama Ummu Aiman. Ia bernama asli Barakah binti Tsa’labah. Ummu Aiman merupakan budak kulit hitam dari Habasyah milik Sayyid ‘Abdullah, yakni ayah Nabi sendiri. Meski demikian, Rasulullah sangat menghormatinya dan secara langsung pernah berkata, “Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibundaku”. Tentu ucapan itu bukan tanpa sebab. Sejak masa Nabi dalam kandungan, Ummu Aiman telah ada di sisi Sayyidah Aminah untuk membantu dan melayaninya. Ia pula yang menemani Sayyidah Aminah beserta Nabi pergi ke Yatsrib untuk berkunjung ke kerabat sekaligus menziarahi makam ayah Nabi. Pasca wafatnya Sayyidah Aminah, Ummu Aiman hadir sebagai sosok ibu yang merawat Nabi di bawah penanggungan sang kakek Abdul Muthallib, bahkan sampai beliau ditanggung oleh sang paman, Abu Thalib, Ummu Aiman masih mendampingi Nabi. Pada gilirannya ketika Nabi mulai menerima wahyu, ia termasuk salah satu sahabat awal yang menyambut dan mengimani ajaran beliau. Ummu Aiman adalah perempuan istimewa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Nabi.

Baca Juga  Rasisme Bukan Ajaran Nasionalisme Kita

Di bawah penanggungan sang paman, Abu Thalib, yang amat mendukung dakwah Nabi, hadir pula Fatimah binti Asad yang tak kalah suportif terhadap dakwah beliau. Istri Abu Thalib yang tak lain merupakan bibi Rasulullah tersebut turut berperan sebagai orang tua yang merawat dan mendidik Nabi. Pada tahun kesedihan saat Nabi ditinggal wafat oleh dua orang terkasihnya, Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah, Fatimah binti Asad hadir untuk Nabi, menguatkannya, pasang badan untuk mendukung perjuangan Nabi, hingga ia turut serta hijrah ke Madinah akibat tekanan Quraish. Fatimah binti Asad dikenang sebagai pendamping perjuangan dakwah Nabi yang setia. Rasulullah sempat menyatakan, “Sesungguhnya tidak ada orang yang lebih baik padaku setelah wafatnya Abu Thalib selain dia”. Nabi begitu menghormati dan mengasihinya. Ketika Fatimah binti Asad wafat,  Nabi bahkan turun ke liang lahat untuk membaringkan jenazah perempuan yang telah dianggapnya seperti ibu sendiri tersebut. Beliau juga melapiskan jubahnya sebagai kafan bagi perempuan mulia itu. Nabi menuturkan, “Kupakaikan gamisku kepadanya supaya dia memakai pakaian surga. Aku merebahkan diri di sisinya agar dia diringankan dari siksa kubur.”

Ibu merupakan figur sentral dalam membentuk diri seorang anak. Bagaimana dirinya, itu pula yang akan berpengaruh pada pengasuhan sang anak. Rasulullah lahir dari rahim perempuan salehah, mulia dan terhormat, Aminah binti Wahab. Allah juga memilihkan jajaran perempuan istimewa dengan beragam latar belakang yang secara bergiliran memberikan sentuhan didikan dan kasih sayang yang mengisi diri Nabi. Menarik untuk memperhatikan makna dari kehadiran perempuan-perempuan tersebut di kehidupan Nabi. Nabi lahir dari kalangan aristokrat Arab yang secara genealogis mencitrakan kehormatan. Namun, kemudian beliau bahkan disusui oleh perempuan budak yang menjadi representasi kasta sosial rendah kala itu. Dalam darahnya juga mengalir air susu dari seorang wanita pedalaman dari kalangan ekonomi miskin. Catatan sejarah ini menyiratkan, bahwa beragam kelas sosial yang turut menyusui dan mengasuh Nabi telah membentuk pribadi beliau menjadi seorang yang penyayang, egaliter, penuh empati, pluralistik, juga reformis. Mereka adalah perempuan-perempuan utama yang berjasa agung. Sangat mengasihi Nabi dan Nabi pun amat mencintai mereka. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.