Kebijaksanaan al-Quran

KolomKebijaksanaan al-Quran

Kebijaksanaan al-Quran berarti kebijaksanaan Tuhan. Mata rantai kearifan pun mengalir hingga figur Nabi Muhammad selaku penutur wahyu langit itu. Menempatkan kebijaksanaan firman Allah sebagai aturan main tertinggi, menurut saya adalah poros pijak dan cara pandang utama untuk memahami butir-butir ayat al-Quran agar tak terlempar jauh dari batas sahih ajaran. Artinya, harus kita yakini, bahwa mustahil dimensi-dimensi ayat Tuhan berisi kecerobohan dan ketidakbijaksanaan. Sudah sejak lama, ayat tentang bidadari sebagai salah satu janji surgawi menjadi bola panas yang bergulir liar di benak para pembaca kitab suci. Bola panas itu setidaknya berpijar menjadi paham delusif tentang jihad hingga munculnya narasi-narasi pembanding yang kasar dan minus etika. Sakralitas al-Quran meniscayakan kebijaksanaan yang menyeluruh.

Jagat digital dalam beberapa waktu terakhir dibuat gaduh karena penghinaan salah seorang pegiat media sosial, Eko Kuntadhi, terhadap Ning Imaz Fatimatuz Zahra, putri dari pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdul Khaliq Ridwan. Sebagai seorang ahli fikih sekaligus penghafal al-Quran, Ning Imaz selama ini turut aktif berdakwah di media sosial. Pembahasannya berkisar pada persoalan fikih ibadah, fikih perempuan, isu gender, seputar pernikahan, parenting, dan lain sebagainya.

Di luar eskalasi keributan yang terjadi karena menyangkut seorang tokoh besar—Ning Imaz—yang direndahkan dengan ucapan kotor, kejadian ini merupakan salah satu wujud percikan bola panas dari wacana bidadari surga yang memang populer di masyarakat kita. Dalam sebuah video singkat, Ning Imaz tengah menjawab pertanyaan yang terus bergulir tentang mengapa hanya laki-laki yang kelak dijanjikan bidadari di surga, tapi tidak demikian dengan perempuan.

Dengan menyitir ayat 14 dari surat Ali Imran, Ning Imaz menjelaskan bahwa melalui pembacaan nash ini, orientasi kenikmatan tertinggi seorang laki-laki adalah perempuan. Sebab itu, hadiah kelak di surga digambarkan sebagai sosok wanita. Lain halnya dengan perempuan, di mana kenikmatan tertinggi baginya bukanlah laki-laki, melainkan perhiasan (hal-hal yang indah), sehingga tak ada narasi bidadara untuk perempuan dalam al-Quran. Perempuan adalah perhiasan, suatu hal yang diasosiasikan dengan keindahan. Karenanya, secara naluriah orientasi kenikmatan perempuan adalah perkara yang indah.

Saya menangkap penjelasan tersebut sebagai uraian akademis yang diupayakan dari pembacaan terhadap al-Quran, bukan ceramah dogmatis yang bersifat menggiring maupun provokatif. Penggalan video penjelasan Ning Imaz yang diunggah akun Instagram @nuonline itu pun diunggah ulang oleh Eko di akun Twitter-nya disertai komentar kasar dengan ungkapan “Tolol tingkat kadal. Hidup kok cuma mimpi selangkangan”. Inilah pemicu gegar warga media belakangan. 

Selain menyasar yang berbicara, caci maki semacam itu besar kemungkinan diarahkan untuk mencibir kalangan ekstremis yang termakan doktrin jihad teror dengan iming-iming imbalan 72 bidadari surga. Sebagaimana kita tahu, selama ini kelompok-kelompok teror melakukan indoktrinasi, proses cuci otak, dan menjejali pemikiran para pengikutnya dengan ayat-ayat agama yang dibajak. Mati syahid, janji surgawi dan hamparan kenikmatannya digambarkan sebagai imbalan bagi yang bersedia melakukan aksi pengeboman. Orang-orang kian tergiur dan mengantri untuk meledakkan diri ketika puluhan bidadari dikabarkan menunggu mereka di keabadian nanti.

Eko memang dikenal kerap melontarkan kritik pedas hingga narasi rasis untuk mengomentari fenomena ekstremisme pengantin bom, sehingga siapapun yang membahas tafsiran tentang ayat bidadari menjadi seolah hina dan peyoratif. Dalam hal ini, tak ada yang bisa dibenarkan dari cibiran, komentar kasar dan segregatif meskipun dalam rangka mengutuk terorisme. Justru kita perlu menyebarluaskan tafsiran yang logis, manusiawi, dan dialogis tentang bidadari untuk mencegah lebih banyak orang terjerumus pada jihad delusif akibat buta paham atas ayat. 

Di banyak tempat, al-Quran menjelaskan kenikmatan surga secara mendetail dan gamblang. Surga digambarkan sebagai tempat dengan pepohonan rindang, nuansa sejuk, mengalir di dalamnya sungai yang jernih dan menyegarkan. Penduduk surga bebas menyantap segala macam buah, daging, berbagai jenis minuman mulai dari susu, madu, mata air, hingga khamr (arak). Yang konon, sekali meneguk minuman surga kita tak akan merasa haus selamanya. Apapun yang diinginkan, semua tersedia. Mereka yang menghuni surga pun ditempatkan di istana yang berhias permata dan batu zamrud lengkap dengan fasilitas perabotan unggul. Permadani yang lembut, bantal-bantal yang berjajar rapi, kasur berbahan sutra, tak lupa piring dan gelas yang terbuat dari emas dan perak. Dan yang paling masyhur adalah adanya bidadari bermata jeli dengan segala identifikasi keindahannya. Bukankah semua itu adalah wawasan kenikmatan yang sanggup dijangkau nalar manusia? Itulah definisi manusiawi tentang keindahan. Adalah kebijaksanaan Allah yang memvisualkan imbalan ukhrawi dengan menyesuaikan naluri serta kecenderungan hamba-Nya. 

Baca Juga  Darurat, Ajari Anak Sex Education Sejak Dini

Cerita-cerita demikian bisa kita dapati dalam banyak ayat, seperti pada surat al-Taubah [9]: 72, surat Muhammad [47]: 15, ayat 33 surat Fathir [35], surat al-Dukhan [44]: 53, surat al-Zukhruf ayat 71, juga surat al-Insan ayat 20. Secara lebih dekat, ketika menilik konteks sosio-historis al-Quran turun, kitab suci itu hendak memberi gambaran di benak masyarakat Arab tentang taman keindahan, yang rindang, nyaman, dan penuh kenikmatan bagi yang mau beriman serta beramal saleh. Bayangan keindahan itu sangat kontras dengan kondisi geografis dan iklim di tanah Arab yang tandus, kering, juga panas. Pendek kata, karena al-Quran adalah kitab untuk umat manusia, maka isi dan bahasa komunikasinya tentu disesuaikan dengan konteks kemanusiaan dalam rangka mengajak untuk mengimani Allah dan merawat kehidupan.

Ada setidaknya dua hal yang perlu digarisbawahi dari kasus Eko Kuntadhi ini. Pertama, ketidaksetujuan terhadap paham dan sikap para ekstremis atas ayat al-Quran jangan sampai  menjadi kabut yang menutup nalar jernih, etika, dan sikap adil kita, sehingga hinaan kotor dan lisan arogan seperti di video itu pun tak perlu adanya. Kedua, muatan wawasan tentang bidadari surga dalam al-Quran sangat penting dibaca sebagai kebijaksanaan Allah yang Maha Tahu atas hamba-Nya. Dengan begitu kita dapat terhindar dari tafsir-tafsir ekstrem, baik yang berujung tunduk pada dogmatisme ayat bidadari hingga rela meledakkan diri, maupun ekstrem yang berujung pada nada mencibir ayat dan perilaku rendahan. Jangankan bidadari, Allah bahkan tak segan mengangkat nyamuk atau yang lebih kecil dari nyamuk sebagai perumpamaan dalam firman suci-Nya (QS. Al-Baqarah [2]: 26).

Bidadari, aneka macam nikmat surgawi, dan segala tafsirannya, pada akhirnya hanyalah sejengkal pengetahuan dari makna hakiki di balik ayat-ayat Tuhan. Allah melalui salah satu hadis qudsi-Nya telah jelas mengabarkan, dari Abu Hurairah, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman: Aku (Allah) telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh suatu balasan (surga) yang belum pernah dilihat mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas di hati manusia” (HR. Muslim). Dengan kata lain, wawasan manusia tentang surga sejujurnya adalah metafora untuk sesuatu yang tak terdefinisi.

Seorang hamba harus go beyond. Atur fokus kita untuk beriman dan setia pada amal saleh. Itu tugas kita. Sungguh melelahkan jika cara dialog kita dengan Tuhan serta ajaran-Nya terlalu matematis dan transaksional. “Ketika saya melakukan ini maka akan diganjar intan permata, buah-buahan surga, madu, juga susu”, “Jika saya berjihad maka akan ada puluhan bidadari menanti di nirwana”, dan hitung-hitungan lain semisalnya. Di luar itu semua, ridha Allah adalah nikmat murni dan paling utama. Dan keridhaan Allah; itulah kemenangan yang agung (Al-Taubah [9]: 72). Maha Bijak Allah dengan segala ayat-Nya. Dan berhati-hatilah kita dalam memahami tafsirannya. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.