Strategi Bijak Dakwah Kedua Cucu Nabi SAW

KhazanahStrategi Bijak Dakwah Kedua Cucu Nabi SAW

Darah kebijaksanaan Nabi mengalir kuat di nadi kedua cucu terkasihnya. Tak heran jika Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein disebut sebagai duplikat Rasulullah, baik dari segi akhlak maupun fisik. Ramainya dakwah agresif yang justru membuat pendengar menutup telinga dan memilih pergi merupakan keprihatinan kita bersama. Sebuah catatan pengalaman dakwah dua cucu Nabi adalah profil dakwah yang bijak dan cerdas. Yang patut dijadikan referensi untuk menciptakan dakwah penuh empati dan kesantunan. 

Suatu ketika, dua cucu mulia Nabi Muhammad sedang berada di masjid untuk menunaikan shalat. Tanpa sengaja keduanya melihat lelaki tua yang tengah berwudhu, namun wudhunya tak sesuai tuntunan dan banyak kesalahan. Dalam praktik shalatnya pun juga didapati banyak yang keliru. Melihat hal tersebut, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein terdorong untuk mengingatkannya, namun bingung bagaimana cara yang tepat agar tak menyinggung perasaan laki-laki tua tersebut.

Setelah berdiskusi, akhirnya keduanya menemukan ide brilian. Dua cucu Rasulullah tersebut pura-pura bertengkar di hadapan orang tua tadi. Keduanya berdebat bahwa tata cara shalat dan wudhu masing-masing dari mereka adalah yang paling tepat. Orang tua itu kemudian diminta untuk menengahi dan menilai, mana kiranya cara wudhu dan shalat yang paling benar di antara Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein. Keduanya kemudian memperagakan cara shalat dan wudhu di hadapan sang lelaki tua.

Melihat tata cara sempurna yang dipraktikkan keduanya, orang tua itu terperanjat dan kemudian menyadari bahwa praktik wudhu serta shalatnya selama ini jauh dari tuntunan. Pertengkaran rekaan itu pun membuat kakek tersebut menyadari titik kekeliruan dalam ibadahnya tanpa merasa digurui atau direndahkan. Ia pun sangat berterima kasih karena merasa diingatkan secara tidak langsung.

Adegan debat tersebut adalah taktik dakwah yang cerdas dan jitu. Sasaran dakwah sangat dihargai, dan justru ditempatkan sebagai lakon yang terhormat, dalam hal ini menjadi orang dimintai saran untuk menengahi skenario pertengkaran dua cucu Nabi Muhammad SAW. Keduanya paham betul, bahwa meluruskan kesalahan seseorang harus disertai kehati-hatian agar pesan yang ingin disampaikan bisa diterima dengan lapang, tanpa membuat orang tersebut tersinggung bahkan sakit hati. Yang bersangkutan justru sangat bersyukur dan berterima kasih sebab telah diberi tahu sisi mana yang keliru. Menurut laman akurat.co (09/08/2022) kisah ini terdapat dalam buku berjudul Kisah Inspiratif untuk Anak Muslim karya Aryani Syurfah.

Baca Juga  Langkah Beragama di Jalan Tengah

Gus Baha dalam salah satu ceramahnya pernah menyampaikan, bahwa pemahaman mengenai fikih dakwah sangatlah krusial, terutama dalam kaitan obyek dakwah yang sangat beragam. Fikih dakwah adalah pengetahuan tentang prinsip-prinsip dakwah, ketentuan dan strategi berdakwah, juga tanggung jawab pendakwah. Pada prinsipnya adalah tentang bagaimana materi dakwah bisa tersampaikan kepada masyarakat secara baik, santun, tepat sasaran, tidak dogmatis dan tidak menyakiti orang yang mendengarkan.

Kita sering mendengar istilah–di lembaga pendidikan khususnya–al-thariqah ahammu min al-maddah, bahwa cara atau metode itu lebih penting dari materi. Bukan berarti mengesampingkan pentingnya menyiapkan materi yang baik. Namun, sebaik apapun isi ceramah kita, jika disampaikan dengan cara yang tidak menyenangkan, orang justru cenderung menampilkan sikap pengabaian dan penolakan, bahkan lebih parahnya bisa menjadi ragu pada institusi agama. 

Minimnya akomodasi serta pemahaman akan fikih dakwah bisa berujung pada dakwah yang tak terarah. Masih menurut Gus Baha, para penceramah saat ini dominan memakai fikih ahkam, yakni fokus orientasinya masih pada materi terutama seputar hukum, sehingga sisi seputar cara penyampaian yang strategis dan kreatif cenderung belum tersentuh. Apa yang dilakukan dua cucu Rasulullah adalah teladan dakwah yang arif. Kita bisa menirunya sekaligus mengembangkan metode serta pendekatan kreatif lain dalam berdakwah dengan memegangi prinsip hikmah dan etika. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.