Fenomena Polisi Moral yang Problematis

KolomFenomena Polisi Moral yang Problematis

Menghakimi pilihan orang lain dalam berbusana, terlebih pihak asing, adalah hal konyol dan meresahkan. Bayangkan saja, kita sedang duduk santai sekadar menikmati suasana atau momentum liburan tiba-tiba disatroni orang tak dikenal yang melempar retorika penuh penghakiman atas apa yang kita kenakan, ditetapkan sebagai pelaku maksiat, menyakiti Tuhan sebab tak berhijab, belum lagi dilakukan di tengah keramaian. Siapa yang tidak meradang? Kanal Youtube Zavilda TV memproduksi konten problematis semacam ini. Dengan berkeliling menarget perempuan-perempuan yang dilabeli berpakaian seksi, sang kreator beradegan seperti polisi moral yang seolah memegang draf penentu kebajikan dan kejahatan sebagai acuan mendakwa orang lain secara sepihak.

Konten-konten yang dibuat menampilkan konsep serupa. Menggelikan dan memalukan. Perempuan tak berhijab yang diasumsikan seksi didatangi, sekonyong-konyong diminta untuk menutup aurat dengan seperangkat pakaian gamis beserta cadar yang dibawa si pembuat konten. Meski sang target enggan, tetap dipaksanya sembari disirami ceramah yang menyudutkan, diskriminatif, merendahkan, dengan menyertakan pertanyaan pamungkas terkait agama yang dipeluk. Saat mengaku Muslim, ia pun dinilai sebagai Muslimah ingkar karena membuka aurat dan harus lekas bertobat, setidaknya dengan sekali mencoba menutup aurat sebagai bentuk perenungan. Berdalih sebagai wujud toleransi, wanita non-Muslim juga tak lepas dari sasaran untuk mencoba mengenakan hijab. 

Dengan bumbu retorika dakwah yang menggurui, segmen akhir biasanya menampilkan adegan haru yang seolah menggambarkan terketuknya hati si target untuk berhijrah. Memoar dosa karena mengumbar aurat dipadu dengan sentuhan sentimental tentang hubungan dengan orang tua, dirancang untuk membangun nuansa emosional. “Apakah kakak sayang sama ayah? Tapi tanpa sadar kakak dengan sengaja telah membukakan pintu neraka untuk ayah dengan berpakaian terbuka.” Demikian tutur Vilda. Umumnya orang akan merasa tersentuh–jika bukan terpojok–ketika sudah disangkut pautkan dengan ide-ide surga neraka juga orang tua. 

Baik setting-an maupun tidak, konten-konten itu jelas problematis dan bagaimanapun terlanjur beredar luas disaksikan banyak pasang mata. Vilda, aktor pembuat konten, telah bertindak jauh mengintervensi ranah pribadi orang lain, bahkan area spiritualitas dengan dalih dakwah. Menggunakan nada suara lembut, didahului permintaan izin, memakai bahasa yang diselingi kosa kata khas Arab saat beraksi, itu semua tidak lantas menghilangkan unsur menghakimi, merendahkan, dan menggurui lawan bicara dalam berbagai uraian Vilda. Dalam selipan videonya disisipkan pernyataan yang sarat penghakiman, misalkan “Astaghfirullah lebih terbiasa sexy”. Vilda memang tidak mengajak keburukan, tapi memaksakan hal baik pada orang yang enggan adalah keburukan itu sendiri. Jika kebaikan tentang mengenakan jilbab telah diakui bersama, yakni sebuah aksioma di masyarakat kita, maka baik buruk yang sangat krusial untuk diperhatikan di sini adalah menyangkut cara dan etika mengajak (berdakwah).

Uraian sang kreator menyiratkan bahwa orang yang berjilbab rapat adalah yang paling benar dan lebih baik dari perempuan yang masih terbuka auratnya. Akhlak hingga kesalehan seorang perempuan direduksi menjadi terbatas pada selembar kain. Jilbab seolah mewakili moralitas dan kesalehan perempuan sepenuhnya. Kisah tentang seorang perempuan ahli maksiat yang berprofesi sebagai pelacur namun diampuni Allah dan dimasukkan ke surga, adalah contoh yang jelas mengenai rumusan kehendak dan ketentuan Allah yang khas, yang kadang tak sejalan dengan alur logika manusia. 

Baca Juga  Islam Ramah TV: Muslim dan Budaya K-Pop

Kita tak pernah tahu di mana Allah meletakkan ridha-Nya atas tiap manusia. Kepedulian perempuan pelacur itu pada anjing yang kehausan ternyata menjadi penyebab ridha Allah padanya. Sebab itu, manusia diperintah untuk melestarikan kebaikan dengan hati yang tulus, dengan cara-cara yang juga ma’ruf. Cerita tersebut juga mengajarkan kita untuk tidak mudah menghakimi orang lain, tidak menjatuhkan vonis seenaknya pada orang yang bermaksiat sekalipun. Boleh jadi, kita yang rutin mendengar ceramah agama, rajin beribadah, berpakaian sesuai syariat, tidak lebih baik dari seorang pelaku maksiat. Hati dan keimanan adalah ruang terdalam manusia yang paling rentan berubah. Karenanya kita harus terus mengevaluasi diri.

Persoalan tak berhenti sampai di situ. Pemahaman sang kreator bahwa pakaian yang dikenakan perempuan adalah pemicu terjadinya pelecehan seksual juga problematis. Data menunjukkan, tak ada korelasi antara pelecehan terhadap perempuan dengan pakaian yang dikenakan korban. Melansir dari asumsi.co (16/12/2021) yang mengutip hasil survei Koalisi Ruang Publik Aman, bahwa pelecehan seksual tak hanya terjadi pada perempuan dengan pakaian terbuka, tapi juga menyasar mereka yang berhijab, yang justru mencapai prosentase cukup tinggi yakni di angka 17 persen. Karenanya, pakaian terbuka tak bisa dijadikan pembenaran untuk menyalahkan korban.

Yang tak kalah menggelikan adalah publikasi video itu sendiri. Gambar-gambar sampul videonya berseberangan dengan gerakan menutup aurat yang digencarkan sang kreator, karena justru para perempuan yang dinilainya seksi itu dijadikan gambar sampul tanpa sensor. Deretan thumbnail kontennya pun penuh dengan redaksi yang lebih terlihat untuk tujuan komersil dan popularitas ketimbang dakwah. Menasihati orang di muka umum bahkan disebarluaskan, itu jauh dari etika dakwah Islam. Jika memang bermaksud mengingatkan, tak semestinya dijadikan konten. Imam Syafi’i mengingatkan kita untuk menasihati orang lain di kala sendirian. Sebab, memberi nasihat di hadapan banyak orang adalah salah satu bentuk pelecehan, dan itu menyakitkan. Maka dari itu, jangan heran jika nasihat yang disampaikan justru diabaikan oleh sasaran.

Paksaan, ketergesaan, dan cara-cara instan biasanya akan berujung pada hal-hal yang kontraproduktif. Biarkan perempuan menempuh proses hijrahnya masing-masing atas kesadaran personal-spiritualnya. Dengan demikian, perjalanannya akan lebih bermakna dan tulus. Tugas kita adalah mendampingi, berdakwah dengan prinsip hikmah, tidak merendahkan, dan tentunya dengan bekal ilmu yang mumpuni. Jangan hanya bermodal “sampaikanlah walau satu ayat” sehingga yang dipelajari juga hanya satu ayat lalu disebar secara agresif tanpa perhitungan.


Orang tidak akan terketuk jika dakwah dan nasihat lebih terlihat seperti penghakiman moral. Ajaran agama bukan barang dagangan, sehingga bisa dijajakan sembarangan. Alih-alih meninggikan citra Islam, dakwah agresif justru menjatuhkan marwah agama kita. Dakwah itu mengajak, memahami kondisi yang diajak, menyesuaikan strategi ajakan dengan obyek, bukan semata-mata menyodorkan butir-butir perintah syariat melalui paksaan apalagi ancaman. Hadirkan keindahan Islam dan kerahiman Allah dalam dakwah, bukan menebalkan ide-ide ancaman, teks-teks azab, dan menggambarkan Tuhan sebagai Maha Murka. Ketika cinta yang menjadi kesan permulaan, maka gagasan ajaran agama akan lebih nyaman diterima. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.