Khaled Abou El-Fadl: Jangan Hanya Menilai secara Dogmatis

BeritaKhaled Abou El-Fadl: Jangan Hanya Menilai secara Dogmatis

Dalam Halaqah Illumine dari Usuli Institute yang mengkaji Tafsir Surah Al-Fathir, Dr. Khaled Abou El Fadl membahas pelajaran moral dalam ungkapan metaforis tentang laut, malam, dan siang dari QS. Al-Fathir ayat 12. Pada sesi ini, Dr. El Fadl menjelaskan makna mendalam tentang peran dan tantangan utama setiap orang berilmu, cendekiawan, dan Ulama Islam dalam melihat persoalan Umat. Ia menekankan pentingnya memperhatikan area gradasi dari dua hal kontras, dan tidak hanya menilai secara hitam-putih.

Dalam Surat al-Fathir Allah SWT berfirman, Tidak sama (antara) dua laut: yang ini tawar, segar, dan mudah diminum serta yang lain sangat asin. Dari masing-masing itu kamu dapat memakan daging yang segar dan dapat mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Di sana kamu melihat bahtera (berlayar) membelah (lautan) agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan agar kamu bersyukur. (QS. Al-Fathir: 12). 

Dr. El Fadl menjelaskan bahwa pembahasan paling signifikan dalam konteks ini adalah ‘kontras antara dua lautan’ yang mesti dipahami sebagai isyarat Tuhan agar kita belajar untuk membedakan antara hal-hal yang tidak sama, tidak setara, terutama dalam hal kebaikan dan keburukan menurut standar hukum yang telah digariskan Tuhan. Namun lebih dari itu, penting untuk diperhatikan juga bahwa dalam hal yang sama sekalipun terkadang kontas, seperti dalam ayat ini, “Dalam ayat ini, kontrasnya antara dua lautan yang keduanya sama-sama menguntungkan” ucap Dr. El-Fadl.

Dalam memandang sesuatu, penting untuk memperhatikan gradasi agar kita tidak terjebak dalam pandangan yang hitam-putih. Lebih lanjut ia menjelaskan, “seperti yang akan Allah katakan secara singkat bahwa kegelapan dan terang tidak sama. Tetapi bahkan dalam kebaikan dan kejahatan, atau bahkan dalam menilai apa yang diridhai Tuhan atau apa yang bukan, anda harus belajar memahami bahwa ada gradasi, tahapan-tahapan. Karena kadang-kadang, bahkan pada apa yang terlihat tidak di pihak Tuhan, terdapat sesuatu yang baik.”

Professor di bidang Hukum Islam ini mengingatkan tentang pentingnya kesabaran dan proses bertahap dalam melakukan perubahan, serta tidak mengabaikan begitu saja hal baik yang ditemukan di luar apa yang selama ini diyakini. “Dari sini banyak pelajaran moral tentang kesabaran. Bahwa jika mendekati laut asin, kita tidak bisa berharap itu menjadi air tawar. Jika anda ingin air asin menjadi air tawar, itu akan membutuhkan banyak usaha dan banyak kesabaran” Jelas Dr. El-Fadl. 

Baca Juga  Nasionalisme Sepakbola Bung Karno

Dr. El Fadl juga mengajarkan untuk tidak dogmatis dalam menilai sesuatu. Ia menasehati agar kita tidak terjebak pandangan yang bersifat ‘buta’, atau mengikuti suatu ajaran tanpa kritik sama sekali.

“Pada saat yang sama kita diberitahu untuk cerdas dan tidak dogmatis dalam penilaian kita. Jika kita melihat laut asin dan mengutuk laut asin dan karena itu tidak dapat mengambil apa yang baik dari laut asin, kita telah menjadi dogmatis dalam penilaian kita. Begitu pula Jika kita melupakan fakta bahwa pertukaran siang dan malam diatur secara bertahap, kita kehilangan banyak kebijaksanaan” jelasnya.

Menurut Dr. El Fadl ada poin yang sederhana tetapi mendalam tentang bagaimana setiap ulama perlu memperhatikan kontras sekaligus gradasi di antara dua hal berbeda ini, sambil berusaha mengadopsi kebaikan dan manfaat di antara keduanya. Ulama sejati, akan melihat kegelapan sekaligus menyadari tentang potensi pencerahannya, begitupun sebaliknya, dalam terang, dia akan siaga terhadap datangnya kegelapan. Dr. El Fadl mengutip perumpamaan siang dan malam yang terdapat dalam ayat setelahnya, dan menjelaskan bahwa masing-masing dari keduanya bergantung pada yang lain. Malam bergerak ke arah siang dan siang bergerak ke arah malam yang lain secara bertahap .

“Seorang ulama sejati, akan melihat malam dan memberitahu orang-orang bagaimana caranya keluar dari malam dan membawa diri ke siang hari. Dan seorang ulama yang benar jika mereka ada di siang hari, akan memperingatkan orang-orang tentang datangnya malam” terang Dr. El-Fadl.

Berdasarkan ayat yang secara gamblang menjelaskan tentang kontras dan gradasi ini, Dr. Khaled El Fadl menyimpulkan bahwa peran ulama yang paling utama ialah untuk menyadarkan masyarakatnya tentang realitas yang sedang mereka hadapi, bukan untuk membuai mereka dalam khayalan, kisah, atau wacana yang tidak relevan. 

Ia berkata, “Peran para ulama adalah berbicara secara terbuka dan berani, bukan untuk membenarkan delusi orang-orang. Jika mereka ada di malam hari, dia akan memberitahu bahwa ‘anda ada dalam kegelapan, dan menggapai cahaya itu sangat mungkin, inilah yang perlu kita lakukan untuk menyongsong ke dalam cahaya’. Dan jika mereka ada dalam cahaya, dia memberitahu bahwa ‘Anda memang ada dalam cahaya, alhamdulillah, tapi inilah peringatan tentang apa yang bisa terjadi yang akan membuat hari turun menjadi malam’” jelas Dr. El-Fadl.

Selvina Adistia
Redaktur Islamramah.co. | Pegiat literasi yang memiliki latar belakang studi di bidang Ilmu al-Quran dan Tafsir. Menuangkan perhatian besar pada masalah intoleransi, ekstremisme, politisasi agama, dan penafsiran agama yang bias gender.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.