Allah SWT Memuliakan Seluruh Umat Manusia

RecommendedAllah SWT Memuliakan Seluruh Umat Manusia

Kehidupan di dunia saat ini selalu berada dalam keadaan pergolakan yang konstan terkait hubungan sosial, konflik antar agama, diskriminasi terhadap komunitas tertentu, kekerasan agama, dan terorisme. Berbagai faktor dari beragam peristiwa kekerasan memang bergantung pada konteks. Namun, benang merah dari semua kekerasan adalah kurangnya rasa hormat dan menghargai martabat sesama manusia. 

Dalam sejarah yang penuh tragedi, ideologi yang mengajarkan supremasi sekelompok orang selalu mendatangkan malapetaka total dan berdampak buruk pada kemanusiaan. Ras, suku, agama, atau kriteria superioritas buatan lainnya telah digunakan secara sewenang-wenang untuk memberikan pembenaran atas pelanggaran martabat sesama manusia, contohnya, Nazisme, fasisme, dan rasisme.

Belakangan, politisasi doktrin al-wala wal bara’ yang membagi manusia menjadi dua kubu bertetangan yaitu kubu orang beriman dan kubu musuh, juga menyebabkan krisis martabat kemanusiaan. Ajaran ini menjadi ideologi supremasis setelah diadopsi oleh banyak kelompok Islam militan, untuk meyakinkan pengikutnya bahwa mereka berhak dan boleh menyerang orang lain yang dianggap lebih rendah atau berbeda. Terutama siapa saja yang dianggap kafir, karena kekafiran meniadakan hak-hak manusiawi mereka.

Padahal pada dasarnya, menghormati dan menghargai satu sama lain sebagai manusia, merupakan ajaran fundamental dari banyak tradisi keagamaan, termasuk Islam. Dalam Islam, penghormatan terhadap kemanusiaan manusia merupakan nilai yang tidak dapat diganggu gugat. Pada dasarnya, kemuliaan manusia tidak tergantung pada ikatan kondisional. Manusia itu mulia dan patut dihormati semata-mata karena menjadi manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.

Allah SWT berfirman, Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (QS. Al-Isra’: 70) 

Ayat ini secara eksplisit mengakui bahwa seluruh keturunan Adam, yaitu seluruh umat manusia, saling bersaudara dan memiliki martabat yang melekat pada kemanusiaannya, tanpa terkecuali. Ini menunjukkan bahwa manusia, atas dasar penciptaannya, memiliki martabat dan kemuliaan. Penghargaan yang tinggi dari Allah SWT ini alami dan universal, terlepas dari latar belakang seseorang berasal.

Dalam mengomentari ayat khusus ini, banyak mufassir al-Quran berpendapat bahwa martabat yang dianugerahkan kepada “anak-anak Adam” mencakup umat manusia secara keseluruhan tanpa batasan agama maupun kebangsaan. Wahbah Zuhaili dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al-Munir, menulis bahwa martabat adalah kodrat setiap manusia (haqq tabi’i), dan Islam telah menjunjungnya seperti itu dan menjadikannya sebagai prinsip pemerintahan dan kriteria interaksi antar manusia.

Syekh Muhammad Ali Al-Shabuni dalam kitabnya Safwah al-Tafasir juga mengatakan bahwa manusia memiliki nilai dan martabat yang tidak dapat diganggu gugat melalui anugerah kecerdasan, pengetahuan, ucapan yang telah dikaruniakan Allah kepadanya. 

Baca Juga  Lebih dari Sekadar Bergembira Menyambut Ramadhan

Mahmud al-Alusi dalam tafsirnya, Ruh Al-Ma’ani, menulis bahwa setiap anggota umat manusia, terlepas dari latar belakang identitasnya, apakah mereka saleh atau berdosa, diberkahi dengan martabat, kemuliaan, dan kehormatan yang tidak dikhususkan untuk kelompok atau kelas tertentu saja. Tidak ada kelebihan kelompok mana pun atas yang lain, semua adalah sama dan harus saling menghormati.

Banyak ulama Islam lainnya yang mempertahankan pemahaman universal tentang martabat kemanusiaan ini. Al-Quran telah menekankan bahwa martabat yang dianugerahkan kepada manusia adalah karena kualitasnya sebagai manusia, dan tidak ada perbedaan antara Muslim dan non-Muslim. Dalam QS. Al-Isra’ ayat 70 di atas, al-Quran menggunakan istilah Bani Adam, keturunan manusia pertama (Adam). Jika martabat yang melekat hanya diperuntukkan bagi umat Islam, al-Quran tentu akan menggunakan istilah yang lebih spesifik seperti muslimin atau mukminin. Dari ayat ini, dan beberapa ayat lainnya, al-Quran menekankan bahwa Allah SWT telah memuliakan semua manusia, bukan hanya umat Islam. Itu artinya, seluruh manusia dilahirkan dengan bermartabat dan setara.

Selain ayat-ayat Al-Quran, pentingnya martabat kemanusiaan seseorang juga ditekankan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Ada banyak sekali perbuatan Nabi SAW yang mencontohkan untuk menghargai sesama manusia, tanpa memandang ras, suku, atau agama. salah satunya peristiwa saat Nabi SAW berdiri ketika ada prosesi pemakaman jenazah orang Yahudi melewatinya. Seorang sahabat yang masih duduk, berkata kepada Nabi, “itu adalah jenazah orang Yahudi” Mendengar kata-kata ini, Nabi SAW menjawab, “bukankah ia juga seorang manusia?” 

Dengan tindakan seperti itu, Nabi SAW membela kemanusiaan. Pesan Nabi jelas, manusia harus dihormati terlepas dari apapun agama mereka. Melalui keteladanannya, Nabi SAW mengajarkan kepada umat manusia untuk saling menghormati, baik kepada yang sudah meninggal apalagi yang masih hidup. Islam memandang semua manusia bermartabat karena telah diciptakan Allah SWT dengan sebaik-baiknya dan diberikan banyak anugerah potensi yang luar biasa. Jadi, bagaimana mungkin organisasi kekerasan dapat mengaku bertindak atas nama Islam dan membenarkan tindakan mereka vis-à-vis dengan visi al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW?

Singkatnya, Allah SWT telah memuliakan seluruh umat manusia, dan Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan rasa kemanusiaan yang mendalam bagi umatnya. Maka dari itu, kehidupan dan martabat manusia harus dihargai, dan setiap manusia wajib saling menghormati. Hak ini tidak dapat dicabut dan tidak dapat diubah terkait dengan nilai universal dari ajaran Islam. Semangat di balik konsep tersebut adalah untuk mendukung lingkungan kerja sama dan interaksi manusia yang positif dalam kehidupan sehari-hari. Penghargaan terhaddap martabat kemanusia adalah dasar dalam memahami keadilan, kemaslahatan, dan keamanan.

Selvina Adistia
Redaktur Islamramah.co. | Pegiat literasi yang memiliki latar belakang studi di bidang Ilmu al-Quran dan Tafsir. Menuangkan perhatian besar pada masalah intoleransi, ekstremisme, politisasi agama, dan penafsiran agama yang bias gender.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.