Penkaye dan Sebeos (Bagian IV)

RecommendedPenkaye dan Sebeos (Bagian IV)

Dua sumber non-Muslim yang kerap disebut oleh para sarjana terkait keterlibatan Kristen dalam penaklukan awal ialah kronikel karya Penkaye dan Sebeos. Dua sumber ini, dan beberapa sumber lain, didiskusikan dan dikomentari cukup detail oleh Robert Hoyland dalam karya pentingnya, “Seeing Islam as Others Saw It.”

Buku Hoyland ini merupakan karya massif yang mendiskusikan sumber-sumber non-Muslim dari berbagai bahasa selain Arab, seperti Ibrani, Suryani, Armenia bahkan China. Signifikansi karya ini bukan hanya terletak pada analisisnya yang detail, tapi – dan terutama buat saya – kutipan-kutipan panjang dari sumber-sumber primer tersebut.

Tentu, yang dilakukan Hoyland bukan memfokuskan pada penaklukan dan keterlibatan non-Muslim di dalamnya, melainkan lebih pada reaksi mereka terdapat kemunculan Islam. Sebagian bentuk reaksi mereka bersifat polemis, dan karenanya – lagi-lagi – harus disikapi secara kritis dan take it with a grain of salt.

Saya sangat rekomendasi buku in untuk dibaca oleh kalangan yang tertarik pada “Islamic origins.” Banyak hal dapat dipelajari dari bagaimana kemunculan Islam diobservasi oleh komunitas agama-agama sebelumnya yang sudah mapan. (Semoga ada penerbit di Tanah Air yang tertarik menerjemahkan dan menerbitkan buku ini.)

Dalam catatan singkat ini, saya bermaksud mendiskusikan serba-singkat bagaimana Penkaye dan Sebeos mendeskripsikan partisipasi Kristen dalam penaklukan Islam awal. Jangan dibayangkan kedua penulis Kristen itu membicarakan keterlibatan secara detail. Mereka hanya menyebutnya sepintas, karena memang bukan fokus kronikel mereka.

Seperti disebutkan dalam tulisan sebelumnya, Penkaye menulisnya tahun 687 M. di Mesopotamia dan, karenanya, dia merupakan saksi atas peristiwa penaklukan di wilayah itu. Dia memberikan kesaksian betapa dominannya pasukan penakluk Arab waktu itu (Penkaye tidak menyebut penakluk sebagai “Muslim”).

Misalnya, Penkaye menarasikan bahwa para pasukan penakluk menyasar wilayah-wilayah yang cukup jauh dan kemudian membawa pulang harta rampasan dan tawanan perang dalam jumlah yang besar. Ketika Penkaye menulis kronikelnya, Abd al-Malik bin Marwan baru saja menjabat sebagai “Amir al-Mukminin” dan kemudian mendeklarasikan diri sebagai “khalifah Allah.”

Saya mendiskusikan peran Abd al-Malik dalam buku “Rekonstruksi Islam Historis” dan “Kemunculan Islam dalam Kesarjanaan Revisionis.” Dialah yang berhasil menyatukan kantong-kantong kaum Beriman (mukminin) di bawah kekuasaannya, dan mengonsolidasikan kebijakan penaklukan secara institusional (pinjam istilah Fred Donner). Donner menggunakan istilah “penaklukan kharismatik” pada periode Khulafa’ Rasyidun, dan “penaklukan institusional” pada masa Umayyah.

Yang relevan dengan tema “partisipasi Kristen” ialah satu kalimat dalam kronikel Penkaye yang menyebutkan “There were among them not a few Christians, some belonging to the heretics, and some to us.” Di antara para penakluk itu terdapat tidak sedikit orang Kristen. Sebagian dari mereka berasal dari kelompok bidat, dan sebagian lain dari golongan kita sendiri.”

Baca Juga  Thabari dan Partisipasi Kristen (Bagian II)

Kita tahu, Penkaye adalah seorang Nusturi (dari sekte Nusturiyyah atau Nestorians). Jadi, ketika dia bilang “sebagian berasal dari golongan kita sendiri” maksudnya adalah Kristen Nusturiyyah. Istilah ini sudah tidak lagi digunakan sekarang, melainkan sebagai Gereja Timur, yang waktu itu berpusat di Mesopotamia.

Lalu, siapa “kelompok bidat” yang disebut Penkaye? Dia merujuk kepada sekte Monofisit yang biasanya dianggap mengimani satu watak Yesus. Sekte Monofisit terdiri dari banyak grup, sehingga penisbatan “satu watak” kepada mereka juga menyederhanakan kredo yang mereka anut. Istilah “monofisit” pun sekarang sudah tidak lagi digunakan, melainkan “Miafisit.”

Kalimat Penkaye begitu eksplisit tentang keterlibatan orang-orang Kristen dalam penaklukan Islam awal. Jika berminat, silakan baca “Chronicle of John Penkaye” yang diterjemahkan oleh Mingana (1908).

Sebeos menulis kronikelnya lebih awal dari Penkaye. Dia seorang Uskup di Armenia dan kronikelnya mencatat peristiwa hingga tahun 661. Jadi, bisa dipastikan dia meninggal setelah tahun tersebut (tidak diketahui kapan persisnya). Tahun 661 merupakan akhir dari kepemimpinan Ali bin Abi Talib.

Tak diragukan kronikel Sebeos merupakan sumber sangat awal yang memberikan kesaksikan tentang penaklukan Islam awal. Bagian yang relevan ialah kalimat-kalimatnya tentang perjanjian damai yang dibuat oleh para penakluk dan penduduk daerah taklukan di Suriah.

Dalam perjanjian itu, menurut Sebeos, disepakati bahwa orang-orang Kristen Suriah akan ikut terlibat dalam peperangan jika diminta oleh para penakluk. Informasi Sebeos ini memberikan semacam “insights” tambahan bahwa sebagian orang Kristen berpartisipasi secara suka rela, dan sebagian lain terikat oleh perjanjian kesepakatan.

Apapun motif dan bentuk keterlibatan Kristen dalam penaklukan Islam awal, gambaran yang dapat kita konstruksi dari relasi Kristen-Muslim di awal pertemuan mereka jelas lebih kompleks dari kesan bahwa mereka hanya berhadap-hadapan dalam peperangan yang tak berkesudahan. Bagaimana kita menafsirkan fenomena historis ini? Mengapa kalangan Kristen cenderung tidak resisten terhadap invasi penakluk Arab?

Ketika merefleksikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, teori tentang gradualitas formasi Islam sebagai agama yang distingtif menjadi menarik untuk didiskusikan. Apakah para penakluk sudah membawa agama yang distingtif, sepenuhnya berbeda, dari agama penduduk lokal? Dan bagaimana relasi “Muslim-Kristen” terjalin di awal pertemuan mereka?

Pertanyaan terakhir ini menarik didiskusikan. Saya ingin menuliskan refleksi singkat berdasarkan sumber-sumber yang tersedia, mungkin setelah retreat di kampus hingga tgl 15 untuk mendiskusikan Ensiklik Pope Prancis “Fratelli Tutti.”

Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.