Revolusi Pendidikan Puncak Peradaban Abbasiyah

KhazanahRevolusi Pendidikan Puncak Peradaban Abbasiyah

Usai menguasai tahta politik Islam babak ketiga, Dinasti Abbasiyah tidak langsung berada dipuncak kejayaan. Abu al-‘Abbas yang menyebut dirinya sebagai al-saffah penumpah darah yang kemudian menjadi julukannya, menandakan kekuasaan yang di bawah naungannya berjalan lebih mementingkan kekuataan untuk mempertahankan kekuasaannya. Namun, hal itu tidak membuat Abbasiyah mencapai kejayaan, melainkan kemenangan tantara Islam atas Bizantium pada masa al-Mahdi dan al-Rasyid lantas merevolusi pendidikan dunia Timur hingga menjadi bangsa yang berperadaban.

Sebelum Islam ada dua peradaban besar yang telah menguasai kemajuan dunia, yaitu peradaban Yunani dan Bizantium atau Romawi kuno. Kedua peradaban tersebut sangat maju dari segi pemikiran, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Kenaikan al-saffah (750-754) memimpin Dinasti Abbasiyah masih mengalami transisi dari babak kedua Dinasti Umayyah. Dinasti Umayyah belum sepenuhnya terpukul mundur, di Spanyol justru sedang mengalami kejayaannya.

Baru pada masa Abu Ja’far (754-775) yang dijuluki al-Mansur, sebenarnya yang telah membangun dinasti baru ini, Abbasiyah. Meski bukan seorang Muslim yang saleh, ia cukup memperhatikan infrastruktur dan menjadikan ilmu perbintangan sebagai acuan untuk membangun markas militer, keluarga, dan lainnya, sepenuhnya mengandalkan baik dari para astrolog istana. Sebenarnya ilmu astrolog bukan semerta-merta hal yang mistik untuk membaca nasib, melainkan jika diilmiahkan ada unsur analisis yang terbaca para astrolog yang ditandakan alam untuk memprediksi keakuratan kausalitas suatu hal. Sayangnya, ilmu tersebut kurang bisa diteliti secara ilmiah karena keterbatas pengembangan ilmu, sehingga disebut hal-hal mistis belaka.

Melalui panduan astrolog istana, mendadak nasib mujur berpihak pada al-Mansur. Abbasiyah mengalami masa kejayaan yang memiliki ibu kota Mekkah tak tertandingi pada masanya, kecuali Konstantinopel. Dari sini kemudian membuka jalan tumbuhnya gagasan dan pemikiran dari Timur.

Menurut Philip K. Hitti dalam bukunya, History of The Arabs (2018), Islam Arab yang jatuh ke dalam pengaruh Persia memperhalus sisi-sisi kasar kehidupan primitive Arab dan melapangkan jalan era baru yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kepelajaran. Dari pengaruh ini pula, kebangkitan intelektual memasuki klimaks kejayaan Dinasti Abbasiyah. Pengaruh Asing Indo-Persia, Yunani yang paling penting mendorong gerakan revolusi Pendidikan dengan menerjemahkan karya-karya berbahasa Persia, Sansekerta, Suriah, dan Yunani ke Bahasa Arab.

Mereka melahap peradaban-peradaban tua, dengan semangat keilmuan yang tinggi dan minat belajar yang besar hingga menjadi pewaris peradaban. Tiga seperempat abad setelah berdirinya Baghdad, dunia-dunia Arab memiliki karya-karya filsafat utama Aristoteles, karya komentator para neo-Platonis, dan tulisan kedokteran Galen, juga karya ilmiah Persia dan Belanda. Dalam beberapa waktu puluh tahun, dunia sarjana Arab berhasil menguasai peradaban Yunani yang dikembangkan selama berabad-abad lamanya.

Baca Juga  Proses Pengharaman Minuman Keras dalam Al-Quran

Ini pencapaian luar biasa dalam bidang intelektual yang tentu saja menjadi pijakan peradaban kian kokoh. Para ilmuwan mendapat peran penting untuk berproses mengelola sistem pemerintahan. Dengan maraknya perkembangan ilmu di masa Abbasiyah, maka ada banyak kegiatan produktif dan kreativitas lain untuk dikerjakan yang tidak sekadar berurusan dengan istana.

Hidup pada masa peradaban itu sangat membantu potensial masyarakat. Ibarat, kehidupan yang ada di kota dan di kampung. Di kota yang penduduknya sudah tersentuh peradaban, barang tentu lebih banyak kegiatan untuk dilakukan dan insting pemikirannya lebih maju untuk mensejahterakan diri sendiri. Sementara di kampung halaman, masih banyak yang berpangku tangan atas kebijakan pemerintah agar memberi bantuan dan cara berpikirnya kurang mapan untuk memperbaiki hidup yang lebih baik.

Ini penting mengapa peradaban mudah tersentuh melalui jalur pendidikan. Sebab pendidikan itu modal kemandirian untuk memiliki kemapanan dalam berpikir. Pemikiran menghasilkan gagasan, gagasan melahirkan upaya tindakan, Tindakan mengarah pada tujuan yang akan dicapai. Kiranya begitu kehidupan akan terus berulang.

Adapun mereka yang miskin dalam pemikiran dan materi akan membentuk lingkaran setan yang tak pula berujung. Ibarat lingkungan yang terbelakang kehidupannya, maka akan melahirkan masyarakat yang terbelakang pula, kecuali ada perjuangan keras di dalamnya. Sebagaimana tidak mendapat mimpi besar karena ketidakpercayaan diri, sehingga memutuskan ambisi untuk mencapai cita-cita tinggi. Teman yang berada di sekitarnya juga sama dalam pemikiran, syahdan tak ada hal kontras untuk melihat dunia baru. Pertumbuhan kesejahteraan pun akhirnya ikut tersendat.

Beda halnya dengan hidup diperkotaan. Ada banyak fasilitas yang menunjang untuk mengasah kemampuan diri dan kemapanan lingkungan yang sudah terbentuk baik. Jadi secara kuantitas dan kualitas, baik pengangguran maupun ketidaksejahteraan lebih minim. Walhasil, pendidikan itu penting untuk memutus mata rantai kemelaratan dan kehidupan yang lebih sejahtera.

Beberapa peradaban Islam, Yunani, Romawi, dan lainnya mengalami kejayaan karena ada perhatian penuh dalam bidang intelektual. Semakin banyak tenaga ahli dalam suatu bidang yang dikerjakan, maka profesionalisme dapat mempertahankan kualitas yang unggul. Pendidikan itu ruh yang membentuk akal budi, bukan sekadar gelar sarjana yang bersrtifikat ijazah tanpa mengindahkan nilai-nilai. Maka dari itu, Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu agar menjadi lentera bagi umat manusia.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.