Sultan Malik Ash-Shalih: Kesultanan Islam Pertama Nusantara

KhazanahSultan Malik Ash-Shalih: Kesultanan Islam Pertama Nusantara

Salah satu nama yang familiar dalam ujian sejarah Islam dalam segala jenjang pendidikan adalah Sultan Malik Ash-Shalih. Nama tersebut kerap muncul untuk mengingat besar jasanya sebagai kesultanan pertama yang mengembangkan dakwah Islam di Tanah Air. Kehadiran Islam menjadi bagian dari peradaban baru bagi Nusantara, karena ia memberikan pengajaran kuat dalam gerakan dan paling sulit di taklukan tatkala para kolonial bermuslihat buruk ingin menguasai Aceh.

Nama pribadi Sultan Malik ash-Shalih adalah Meurah Silo, anak Meurah Seulangan/Meurah Jaga (Makhdum Malik Abdullah) keturunan keenam dari Makhdum Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat, ketika itu Sultan Perlak yang memerintah antara tahun 365-402 H/976-1012. makamnya terletak di Kecamatan Samudera di Aceh Utara. Nama Meurah di sini sendiri menunjukkan sebagai keturunan bangsawan Meurah dan keaslian warga pribumi.

Adapun sebutan Malik ash-Shalih merupakan gelar agung. Sebab, pada masa itu tingkat kesejahteraan warga Aceh berada di atas rata-rata. Mereka mengagumi pemimpinnya sampai memberikan gelar tersebut. Dalam buku, Atlas Wali Songo, karya Agus Sunyoto (2019), keadaan negeri Samudera Pasai sangat Makmur dan berlimpah harta kekayaan, memiliki Angkatan laut yang kuat dan Angkatan darat yang teratur, Islam ahlussunnah dijadikan dasar negara. Lantaran hal itu, Syaikh Ismail al-Zarfi memberinya gelar Sultan Malik ash-Shalih yang dewasa itu digunakan penguasa Mesir, “Sultan Malik ash-Shalih Najmuddin al-Ayyubi.”

Setelah kewafatan sang raja Islam pertama, kiranya kerajaan Samudera Pasai ini berusia cukup panjang, yang eksistanya telah ada sejak abad ke-13 hingga ke-16. Kerajaan Samudera Pasai dilanjutkan oleh keturunan-keturunannya.

Kendati disebut-sebut sebagai pelopor raja Islam pertama, sebenarnya spirit yang dibawa Sultan Malik ash-Shalih bukan sekadar labelitas Islam. Namun, nilai-nilai kepemimpinan yang dijalankan terkait tanggung jawab, menyejahterakan rakyat, mendakwahkan Islam dengan tujuan mendidik bagian dari substansi universal. Semangat Islam merupakan semangat peradaban dan kemakmuran bagi manusia. Untuk itu, tak ayal seorang pemimpin yang beriman dapat mengembang jabatannya dengan amanah dan memberikan banyak kemaslahatan bagi rakyatnya.

Baca Juga  Kebencian Jadi Cinta Umar bin Khattab terhadap Islam

Kemudian dalam rangka memperkuat kedudukan, Sultan Malik ash-Shalih sendiri menikahi Putri Ganggang, putri Raja Perlak Sultan Makhdum Alauddin Malik Muhammad Amin Syah II John Berdaulat. Dengan begitu, syiar Islam di wilayah perlak kian meluas. Menurut catatan Marcopolo yang pernah singgah di Ferlec (Perlak), penguasa Muslim Perlak menerapkan hukum Islam kepada saudagar asing dan penduduk pribumi.

Kendati demikian, kebijakan-kebijakan kerajaan Islam Samudera Pasai ini mampu memperbaharui semangat politik sebelumnya yang terpengaruh budaya india. Agus Sunyoto mengungkapkan, jika dalam semangat lama, elit-elit penguasa berada di tengah-tengah dataran pesawahan yang kaya, maka zaman kesultanan Sultan Malik ash-Shalih elit-elit baru berada di kota-kota Pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan dan peradaban baru.

Dengan kemunculan raja Islam pertama di Nusantara, maka secara langsung maupun tidak langsung kerajaan Islam yang didirikan Sultan Malik ash-Shalih ini telah menenggelamkan kerajaan besar sebelumnya, yaitu kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dan Kerajaan Sunda.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.