Introspeksi Diri adalah Akhlak Berkelas

KolomIntrospeksi Diri adalah Akhlak Berkelas

Bergeser dari satu titik benar menuju pemberhentian yang salah atau sebaliknya adalah dinamika paten manusia. Menjadi salah dengan demikian bukan suatu kejahatan atau aib, kecuali jika bebal dan enggan bergerak memperbaiki yang keliru di saat telah mengetahuinya. Ketika seseorang mau meninjau ulang perilaku, berarti saat itu ia terbuka menyadari jati diri manusia yang mustahil selalu benar. Mawas diri, berbesar hati mengakui kesalahan adalah perilaku kesatria, suatu konsep mengenai akhlak yang bermutu tinggi. Kalkulasilah diri kita dengan introspeksi.

Manusia hidup berupaya untuk sedekat mungkin dengan pemberhentian hal-hal yang tepat. Berperilaku sesuai norma dan nilai kebaikan bukan saja demi integritas diri sendiri, tapi juga berpengaruh bagi pihak lain secara umum. Sebab, ketika ada suatu pemikiran yang kita yakini benar, secara naluriah kita ingin mengekspresikannya di muka orang lain. Namun, apabila tampilan keyakinan kita itu justru menyakiti dan menimbulkan hal-hal kontraproduktif, artinya ada ihwal yang mesti dievaluasi dari sikap serta keyakinan tadi. Di sinilah maksud dari perilaku kita berdaya imbas pada orang lain.

Kontekstualisasi dari pentingnya introspeksi, sederhananya bisa kita kait hubungkan dengan pemberitaan mengenai Ustaz Abdul Somad (UAS) yang dikabarkan ditolak masuk oleh otoritas Singapura baru-baru ini. Berita tersebut menjadi bola panas yang menggelinding di tengah masyarakat Tanah Air, menghasilkan tanggapan pro-kontra dengan kadar ketegangan yang beragam. Catatan ini bukan hendak menghakimi siapapun yang terkait. Sekadar upaya reflektif dari isu sepola yang berulang dan selalu membuat gaduh publik kita.

Dalam hal ini, otoritas Singapura dikatakan menolak UAS karena ia dikenal sering menyampaikan ajaran yang potensial memecah belah masyarakat. UAS disebut membolehkan bom bunuh diri dalam konteks konflik Israel-Palestina. Selain itu, UAS pernah berkomentar merendahkan umat agama lain, seperti menyebut salib adalah tempat tinggal jin kafir. Penggunaan kata kafir sendiri adalah hal sensitif. Tidak ada penganut agama yang berkenan disebut kafir. Karenanya penting untuk hati-hati menggunakan istilah kafir meskipun tersebut dalam al-Quran. Akhlak tetap yang utama.

Singapura dihuni masyarakat yang multi-agama, multiras, sehingga negara ini bersikap tegas pada siapapun, termasuk kepada pengkhotbah agama yang dinilai dapat memicu perpecahan karena isi ceramahnya menjatuhkan agama lain. Komentar yang menganggap sikap otoritas Singapura itu sebagai tindakan keterlaluan dan bernuansa islamofobia, dengan sendirinya gugur sebab negara tersebut sebelumnya pernah menolak dua pengkhotbah Kristen karena alasan serupa.

Pihak Singapura mengatakan, kebijakan demikian dilakukan untuk menghindari friksi, menjaga kohesi sosial serta keharmonisan masyarakat yang telah susah payah dibangun. Nalar introspeksi diri sangat penting dikedepankan di sini. Sikap negara berjuluk kota singa itu adalah indikasi bahwa ada yang salah dari sikap dan isi ceramah UAS. Penolakan itu mestinya menjadi dorongan kuat untuk kita melirik ke dalam terlebih dahulu sebelum bereaksi ke luar tanpa pertimbangan.

Baca Juga  Grand Syaikh al-Azhar: Kebhinnekaan Indonesia Adalah Berkah

Islam sendiri mengenalkan konsep muhasabah al-nafs. Menerima kekeliruan sebagai hasil muhasabah diri adalah tindakan terhormat, alih-alih hina. Yang menggelikan dan membuat repot justru ketika kita menolak diluruskan, bertubi-tubi melakukan pembenaran, sedangkan kebenaran telah ada di depan mata. Tidak mau koreksi diri muncul dari gagasan merasa benar, menutup diri dari umpan balik orang lain atas dirinya karena berseberangan dengan tendensi pribadi.

Mengawali bab kitab al-Shaum dalam Shahih nya, Imam Bukhari menulis perkataan Abu Zinad, bahwa “Sesungguhnya mayoritas sunnah dan kebenaran bertentangan dengan pendapat pribadi”. Manusia pasti cenderung pada asumsi pribadinya, karena untuk mencapai kebenaran butuh lebih banyak energi. Itulah mengapa kita sering mangkir dan enggan introspeksi karena harus mempekerjakan diri lebih keras. Sejarah dakwah tauhid Rasulullah yang ditolak mentah-mentah musyrik Mekkah adalah visualisasi sederhana ungkapan Abu Zinad. Kebenaran dan popularitas al-Amin nya Muhammad mereka tolak karena tak sesuai dengan keinginan pribadi cum merugikan mereka.

Introspeksi diri adalah etiket yang syar’i. Allah berfirman, Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Hasyr: 18).

Mengevaluasi diri merupakan perilaku manusia takwa. Disebutkan dalam hadis, Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagimana dia mengoreksi temannya (HR. Al-Tirmidzi). Jangan hanya berisik pada orang lain tapi diam terhadap diri sendiri. Orang semacam ini barangkali tak sadar tengah terjebak dalam teritori kesombongan.

Bisa kita cermati, para ulama lampau bersedia mengoreksi pendapat atau fatwa yang telah dikeluarkannya, hubungan mereka tetap akur sekalipun berlainan pandangan. Itu semua merupakan keluaran dari seseorang yang mau memindai pribadinya. Para ulama paham betul, segala bentuk tindakan sedetik pun tak luput dari pantauan Allah. Menjaga kesadaran menjadi rutinitas yang melebur dalam alam pikiran mereka.

Prinsip introspeksi adalah keterbukaan. Mau mengurai yang kusut, lapang dada mendengar pandangan yang berbeda, dan tidak anti kritik. Sarana evaluasi paling esensial ialah dengan refleksi diri. Tempatkan cermin jiwa untuk melihat di bagian mana dari keseluruhan diri kita yang mesti diperbaiki dan mendapat perawatan. Jangan malu mengakui kesalahan, jangan pula segan meminta saran. Pendek kata, introspeksi berarti peduli pada kapasitas diri. Cara berkelas menunjukkan kualitas.

Sepenggal bait lagu Ebiet G. Ade berjudul “Untuk Kita Renungkan” menjadi sangat relevan untuk kita bicarakan di sini.

Tengoklah ke dalam sebelum bicara

Singkirkan debu yang masih melekat

Singkirkan debu yang masih melekat

Renungi diri. Bersihkan jelaga dalam hati kita untuk menemukan yang autentik dan suci dari jiwa. Betapa penting berdialog secara privat ke dalam sebelum berbuih-buih bicara di luar. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.