Meninggalkan yang Haram, Demi yang Halal

KhazanahHikmahMeninggalkan yang Haram, Demi yang Halal

Manusia diciptakan Allah SWT dengan keadaan yang sempurna. Kesempurnaan yang dimaksud bukan berarti tak memiliki cela, justru itu yang membuatnya disebut manusia karena sebagai tempatnya salah dan dosa. Kalau tidak, namanya malaikat. Demikian akal budi manusia ini yang kelak akan menyelamatkan manusia dari keharaman untuk mendapat sesuatu yang halal.

Sebagaimana dalam buku Ketawa Sehat Bareng Ahli Fikih (2016), Yahya bin Ayyub berakata, di Madinah ada seorang pemuda yang sempat membuat Umar bin Khattab terkagum-kagum. Dikisahkan, seorang pemuda sedang menuju ke rumahnya usai shalat isya. Di tengah perjalanan, pemuda tersebut dihadang seorang perempuan yang kemudian menawarkan dirinya. Ia tergoda, lalu mengikuti perempuan tersebut hingga tepat depan rumahnya, secara tiba-tiba sang pemuda teringat firman Allah SWT yang membuatnya sadar akan niat buruknya.

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (QS. Al-A’raf: 201).

Tanpa pikir panjang, pemuda ini pura-pura pingsan. Perempuan itu masih memerhatikannya, berharap dapat segera siuman. Namun, pemuda tak juga kunjung bangun seperti orang yang mati. Alhasil, bersama seorang pembantunya perempuan tersebut berusaha menggotongnya. Mengantarkan pemuda yang pingsan itu sampai depan pintu rumahnya, sebagaimana ia pingsan tepat di depan pintu rumah perempuan.

Ayahnya yang melihat anaknya tergeletak tidur di depan pintu terkejut dan membawanya masuk ke dalam rumah. Setelah siuman ayahnya bertanya, “Apa yang terjadi, hai anakku?”. Akan tetapi sang anak masih saja terus diam, tak mau bercerita. Ayahnya mendesak, kemudia ia bercerita apa yang dialaminya. Ketika ayat yang mengingatkannya sedang dibaca, mendadak ia menarik nafas panjang dan keluarlah ruh. Pemuda yang berusaha menjaga kehormatannya itu telah meninggal dunia.

Baca Juga  Istilah Khilafah Nihil Dalam Al-Quran
Baca Juga  Perhatian Nabi pada Kelestarian Alam

Pada saat orang-orang ramai dengan kejadian itu, Umar bin Khattab berkata, “Mengapa kalian tidak memberitahu kematiannya padaku?”. Lalu Umar pergi menuju pusaranya, sambil berdiri dan berkata, “Hai Fulan, Dan bagi orang yang takut saat menghadapnya Tuhan-nya, (baginya) ada dua surga.” (QS. Ar-Rahman: 46). Tiba-tiba Umar mendengar suara dari dalam kuburan itu, “Allah telah memberikan itu padaku, hai Umar”.

Semestinya kisah-kisah seperti ini mendapat perhatian signifikan. Mengingat semaraknya kasus pelecehan seksual yang tengah terjadi membuat korban trauma dan pelaku masifnya menggunakan topeng agama. Sangat menyesalkan, pelecehan seksual tersebut menelan korban hingga puluhan anak-anak perempuan yang hingg entah kapan waktunya mereka akan sembuh dari luka memori yang terus menghujam dalam ingatan.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.