KH. Miftachul Akhyar: Memulai Era Baru NU dengan Peneguhan Strategi 4G

BeritaKH. Miftachul Akhyar: Memulai Era Baru NU dengan Peneguhan Strategi 4G

Dalam rangkaian pembukaan Muktamar NU ke-34, Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama, KH Miftachul Akhyar menyampaikan sambutannya. Kiai Miftach mengawali orasinya dengan narasi penuh kerendahan hati. Terdengar, jabatan sebagai Rais ‘Am yang ia sandang dipelesetkannya menjadi Rais Awam. Suatu sikap meneduhkan, cerminan seorang yang benar-benar alim dan tawadhu’. Sehubungan dengan usia NU yang hampir memasuki abad kedua, organisasi Islam terbesar di dunia ini mesti melakukan kilas balik dan evaluasi guna mempersiapkan langkah baru NU yang lebih segar, adaptif, dan meluas. Dalam pidatonya, Kiai Miftach menyinggung tentang penyegaran strategi 4G.

NU adalah organisasi sosial keagamaan tradisional yang memiliki kekuatan dan potensi untuk mengglobal. Setali tiga uang dengan hal tersebut, gelaran Muktamar kali ini pun menggandeng tema utama mengenai bagaimana NU bisa berperan bagi kemajuan peradaban serta perdamaian dunia. Dunia saat ini tengah menantikan kiprah NU. Karenanya, karakter yang mendunia harus terus digali dan diperkokoh. “Perilaku membebek dan tak berpendirian harus segera disingkirkan karena hal itu akan membuat kita terpecah belah dan terombang-ambing”, demikian tutur Kiai Miftach.

Sebagaimana nasihat Nabi yang mengatakan, Janganlah kalian menjadi orang-orang yang plin-plan dan latah. Kalian mengatakan, jika orang-orang berbuat baik, kami juga ikut baik, dan jika mereka berbuat zalim kami pun ikut zalim. Namun, mantapkanlah jiwa perjuangan kalian. Jika masyarakat berbuat baik kalian tetap melakukan kebaikan. Dan jika mereka melakukan kejahatan, jangan ikut-ikutan berbuat zalim (HR. Tirmidzi). Hadis itu mengingatkan kita agar selalu meneguhkan karakter dan kepribadian penuh semangat kebaikan dan kemandirian dalam bersikap.

Momentum pergantian abad usia NU ini harus dimulai dengan penyegaran gerakan serta sistem komando. Perubahan dunia ini terjadi sangat cepat. Kiai Miftach menawarkan gagasan 4G guna mengimbangi era modern 4.0, sekaligus menyongsong era baru NU dalam kiprahnya untuk peradaban kemanusiaan.

Baca Juga  Vaksinasi, Sarana Hifzun Nafs

Jika diurai, G yang pertama adalah grand idea, “Yaitu visi misi NU sebagai instrumen untuk menyatukan langkah, baik ulama stuktural maupun kultural, terutama para ulama pondok pesantren agar berada dalam satu langkah dan satu keputusan untuk menggalang kekuatan bersama”, tutur Kiai Miftach.

Baca Juga  NU-Muhammadiyah Perkokoh Islam Damai untuk Indonesia

Kedua adalah grand design, yakni dalam bentuk program-program unggulan yang terukur. Dalam proses menuju abad baru dibutuhkan spirit penyegaran. Penyegaran mengandung arti proses evaluasi dan perbaikan terhadap kinerja dan pencapaian NU sebagai jam’iyyah, agar diperoleh program-program yang inovatif dan terukur.

Ketiga yaitu grand strategy. Menurut Kiai Miftach, poin ini dapat dilakukan dengan mengintensifkan penyebaran inovasi yang terencana, terarah, dan dikelola dengan baik. Tak lupa, distribusi kader-kader terbaik NU ke ruang-ruang publik yang tersedia harus pula diintensifkan. Mengingat, peran para kader NU saat ini belum cukup optimal.

Keempat yakni grand control. “Sistem dan gerakan NU harus bisa melahirkan garis komando secara organisatoris, dari PBNU sampai kepengurusan di tingkat anak ranting. Dari situ NU akan menjadi organisasi keagamaan dan sosial yang bergerak secara sistemik, proaktif, dan responsif. Yang secara terus-menerus dapat menebarkan kasih sayang dan rahmat bagi semesta alam, serta bersaing di segala bidang dengan organisasi-organisasi lainnya”, pungkas Kiai pengasuh pondok pesantren Miftachussunnah Surabaya ini.

Empat G tersebut sejatinya adalah instrumen yang telah ada dalam tubuh NU. Keempatya merupakan ajaran khas dan konsep akbar NU yang penting untuk selalu diteguhkan. Dengan sumber daya besar yang dimiliki NU, dipadu dengan strategi 4G yang komprehensif ini diharapkan dapat mengantarkan NU memasuki era baru yang kian maju dan memberi manfaat untuk umat serta dunia. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.