Cermat Memilih Guru Agama

KolomCermat Memilih Guru Agama

Kasus pengajar agama atau guru ngaji yang melakukan aksi pencabulan serta kekerasan seksual kian marak terdengar. Tentu amat disayangkan, seorang yang dianggap pengajar akhlak malah melakukan tindakan amoral. Yang masih menjadi buah bibir publik saat ini adalah kasus di Bandung, di mana seorang ‘ustadz’ yang mengaku mengasuh pesantren, namun puluhan santriwatinya ia perkosa. Terbaru, seorang guru ngaji di Depok ditangkap karena mencabuli 10 orang muridnya dan mereka dipaksa bungkam. Mata rantai kejadian kekerasan seksual yang dilakukan oknum pengajar ini menuntut kita untuk lebih cermat dalam memilih guru agama atau guru mengaji.

Dalam adagium Jawa, guru diartikan sebagai sosok yang digugu dan ditiru (dipatuhi dan diteladani). Dua hal tersebut adalah idealitas yang semestinya dimiliki seorang guru. Adagium itu pun telah menjadi norma yang mengakar di masyarakat. Dan menjadikan seorang guru memiliki posisi tawar tinggi di mata mereka, terlebih para pengajar ilmu agama. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa seorang murid harus menuruti apapun yang dikatakan guru. Sayangnya, tidak semua pengajar layak atau memiliki kapasitas untuk dipatuhi dan dicontoh.

Ketika ada guru yang menyalahgunakan norma sosial tersebut, kekerasan seksual sangat mungkin terjadi. Yang mana, biasanya guru mencabuli muridnya sesuka hati dengan dalih kewajiban taat pada guru dengan disertai ancaman jika aksinya dibocorkan. Bagi murid, tak ada pilihan selain bungkam sebagai bentuk kepatuhan di bawah tekanan. Status sebagai seorang yang dianggap ahli agama semakin membuat guru agama atau mengaji jauh dari kecurigaan masyarakat atas perilaku menyimpang.

Kita harus lebih cermat dalam memilih guru agama. Kapasitas dan sanad keilmuan seorang guru tentu menjadi hal penting untuk diperhatikan, karena ilmu itu ada mata rantainya. Berguru pada orang yang jahil adalah suatu bahaya, sebab bukan cahaya yang ia bawa tapi kegelapan yang bisa membuat kita salah jalan. Sanad tadi ibarat garansi orisinalitas suatu ilmu. Ada perkataan Abdullah bin Mubarak yang terkenal, ia mengatakan:

الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Sanad (berguru) adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada kewajiban mengambil sanad, niscaya siapapun akan mengatakan apapun yang ia inginkan.”

Buya Arrazy Hasyim—seorang pakar tasawuf dan kajian keislaman—memberikan elaborasi, bahwa berguru dan mengetahui sosok guru adalah bagian dari inti beragama. Silsilah keilmuan yang terjaga, yang diambil dari guru dengan keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan, sanad itulah jembatan yang bisa menghubungkan kita hingga Rasulullah SAW.

Baca Juga  Rukhsah Mengganti Puasa dengan Fidyah

Kita diperintahkan untuk memperhatikan siapa guru kita, kemudian siapa sosok gurunya, bagaimana akhlaknya. Antara keilmuan dengan akhlak seorang guru mesti serasi dan sejalan. Sebab tidak cukup hanya berilmu saja, berakhlak adalah hal yang lebih penting. Akhlak merupakan aspek yang tak bisa ditawar adanya. Akhlak adalah nilai dari seseorang yang muncul dari batinnya. Dari perilaku seseorang bisa dicermati kualitas diri sekaligus kualitas keberagamaannya.

Baca Juga  Rukhsah Mengganti Puasa dengan Fidyah

Perlu dipahami, bahwa kebenaran perkataan seorang guru agama tidaklah mutlak. Artinya, tidak semua ucapan guru bisa begitu saja dituruti. Hal ini bukan berarti melawan atau tidak menghormati guru. Apabila yang disampaikan atau yang diperintahkan seorang guru adalah perkara yang janggal, tidak wajar, dan menabrak ajaran agama atau norma, seorang murid layak mempertanyakan bahkan menolaknya.

Dalam konteks menanggapi kekerasan seksual, yang mana guru kerap berdalih teori kepatuhan mutlak seorang murid, maka nalar kritis untuk tidak begitu saja patuh adalah hal penting. Minimal itu adalah senjata awal. Selain perangkat hukum yang mesti dikuatkan terkait kekerasan seksual, anak-anak utamanya sangat perlu dibekali wawasan mengenai pendidikan seks. Tak lain agar mereka memiliki kesadaran dan pemahaman utuh atas diri dan fungsi reproduksi mereka.

Agama adalah institusi yang kita butuhkan untuk mengenal Tuhan. Karenanya, keinginan atau kebutuhan  masyarakat untuk mempelajari agama akan selalu ada. Fakta pelecehan dan kekerasan seksual yang banyak dilakukan guru agama pun membuat masyarakat khawatir dan bingung kemana mereka akan menitipkan anaknya untuk menimba ilmu agama.

Mencari guru agama haruslah cermat. Ulama terdahulu jelas mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam mengambil ilmu agama. Kita mesti mencari guru agama yang berakhlak karimah, keilmuannya mapan, dan memiliki akidah yang salim. Dari seorang guru sejati, apa yang diajarkannya akan selalu memberikan kenyamanan dan menghidupkan hati, sehingga kita bisa merasakan kehadiran bahkan kedekatan dengan Tuhan. Guru yang benar-benar mengajarkan agama, ia akan menciptakan suasana yang teduh dan kondusif. Lebih dari itu, para muridnya bisa merasakan energi spiritual yang menenangkan. Sebagai pembelajar, nalar kritis untuk selalu mempertanyakan pun tidak boleh padam. Cermat dan waspada dalam berguru adalah upaya agar bisa belajar dengan tetap selamat. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.