Abdul Qadir Al-Jailani: Melihat Makhluk dengan Kacamata Fana

KhazanahHikmahAbdul Qadir Al-Jailani: Melihat Makhluk dengan Kacamata Fana

Tidak ada makhluk yang abadi di dunia ini. Sekalipun ada seseorang yang dilingkupi kemudahan selama hidupnya, tetapi manusia memiliki batas umur sebagai tanda kefanaan. Allah SWT menciptakan makhluk dengan segala skenario yang penuh kejutan. Nyaris tak ada satu makhluk satupun yang tidak pernah mengalami kesulitan dan kegagalan di dunia ini, termasuk para nabi yang merupakan kekasih Tuhan justru mendapat ujian yang lebih berat di balik keistimewaan yang diperolehnya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengatakan dalam Fathur Rabbani, berlarilah menuju Allah ‘Azza wa Jalla. Kaburlah dari manusia, dunia, dan segala selain-Nya semua. Kembalilah kepada-Nya dengan hari kalian. Tidaklah kau dengar firman, Ingatlah bahwa kepada Allah-lah semua urusanmu kembali (QS. Asy-Syura: 53). Wahai pemuda, janganlah pandang  makhluk dengan  mata kekekalan, tetapi pandanglah mereka dengan mata kefanaan. Jangan pandang mereka dengan mata mudarat dan manfaat, tetapi pandanglah dengan mata lemah dan hina. Esakanlah al-Haqq Azza wa Jalla dan bertawakallah kepadanya.

Tentu, memandang hina dan lemah kepada manusia bukan berarti dengan mencaci atau dengan menghujatnya. Pada dasarnya, kondisi zahir justru para sufi sangat toleran dan memuliakan manusia, hanya saja kebatinan mereka senantiasa mengunggulkan Allah di atas segala-galanya. Syekh Abdul Qadir meninggalkan hatinya dari dunia, tetapi uniknya zahir ia telah memiliki banyak harta. Di samping kedudukannya sebagai ulama yang tengah digandrungi masyarakat sebab keluhuran dan pengabdi ilmu mendapat jatah harta wakaf dari perkebunan-perkebunan. Syekh Abdul Qadir mendapat warisan berlimpah dari guru yang memercayainya, yakni Abu Sa’d al-Makhromi. Dunia seakan-akan terus menjemputnya, kendati ia tidak berharap.

Memang tidak mudah menata agar hati istiqamah melihat Allah SWT. Namun, sedikit dapat dijabarkan bahwa Tuhan yang Maha Menciptakan telah mengatur segala kejadian yang ada di alam semesta. Dalam ilmu psikologi juga menegaskan, orang stabil dalam mengatur emosi itu artinya ia dapat memahami dan memaklumi manusia dengan segala keterbatasan dan kelebihannya dengan baik. Terlalu terpukau karena pujian dan terjatuh karena celaan menandakan belum berpendirian kuat hingga masih terombang-ambing oleh orang lain. Perlu berlatih lagi dalam memahami manusia, lebih tepatnya mengembalikan segalanya pada Allah.

Baca Juga  Zuhairi Misrawi Pererat Hubungan Indonesia-Arab Saudi
Baca Juga  Mukasyafah Gus Dur sebelum Tsunami Aceh

Melihat manusia dengan kefanaan, sejatinya memotivasi bahwa hidup itu seperti roda yang berputar, yang pada masanya bisa di bawah atau di atas. Emosi kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, kegagalan semua itu akan berlalu, emosi tersebut akan meliputi perasaan manusia yang bernyawa pada setiap waktunya. Jangan berpangku pada manusia dan putus harapan pada Allah SWT, manusia itu hanya makhluk fana yang Tuhan jadikan sebagai perantara. Temukan jalan lain yang terus membuat bangkit dan positif. Sertakan kalbu pada Allah dalam setiap suka duka, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan (QS. Al-Insyirah 5-6). Semoga kita menjadi hamba yang taat, ahli dalam menebar kebaikan dan manfaat.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.