Senin sore kemarin (15/02/21), KH. Jalaluddin Rakhmat atau yang akrab disapa Kang Jalal, dikonfirmasi telah berpulang ke haribaan Allah SWT. Saya tahu Kang Jalal, tapi saya bukan seorang yang intens membaca pemikirannya. Bukan pula pihak yang ikut menyaksikan euforia era “kebangkitan Islam di abad 15 Hijriah” sekitar tahun 80-an, di mana Kang Jalal turut tampil dalam pentas intelektual Islam nasional kala itu. Karena saya angkatan baru yang lahir medio 90-an.

Sosok KH. Jalaluddin Rakhmat mulai akrab di pendengaran ketika guru saya kerap mengisahkan kedekatannya dengan Kang Jalal, juga kecanggihan pemikirannya yang bahkan telah menginspirasi guru saya sejak ia masih di pesantren. Riwayat lisan tersebut menjadi sekotak bekal yang menggambarkan betapa luar biasa figur cendekia asal Bandung ini.

Ia seorang intelektual tangguh, komunikator ulung, seorang salik yang sangat peduli pada Islam dan persaudaraan keislaman, kemanusiaan. Kang Jalal jatuh hati pada tasawuf. Perjumpaannya dengan ulama-ulama Iran yang memiliki kualitas spiritual juga intelektual tinggi, membuatnya memutuskan ambil bagian dalam mistisisme Islam ini. Ia pun larut dalam titian jalan cinta Tuhan, dan sufisme ia jadikan sebagai basis dakwahnya. Kalau boleh menghubungkan, dari namanya saja kita akan temui cinta kasih di sana; “Rakhmat”. Dan Kang Jalal sukses mengaktualkan mazhab cinta dalam praktik kehidupannya.

Keilmuan yang digali benar ia hidupi. Buah dari keluasan dan kedalaman pemahamannya. Ajaran Ahlul Bait yang ia teladani, mengantarkan pada cara hidup akhlak Nabi. Di tengah hegemoni Sunni Tanah Air, Kang Jalal berani mendeklarasikan diri sebagai seorang pengikut Syiah. Ia selalu berikhtiar membangun jembatan damai antara Sunni dan Syiah. Karena perbedaan cara pandang tidak akan menghapus darah persaudaraan. Dan saling menyayangi adalah konsekuensi.

Salah satu puncak upayanya dalam mendekatkan dua saudara Muslim ini adalah keikutsertaannya dalam mendirikan Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia. Terma Sunni-Syiah lahir karena persoalan perbedaan preferensi politik, menjalar menjadi komplikasi kebencian yang mengurat akar. Umat Islam harus sadar, bahwa Sunni-Syiah hanyalah cangkang yang isinya adalah sesama Muslim.

Kang Jalal selalu mengajak orang untuk melepaskan diri dari sekat-sekat mazhab yang sempit menuju Islam yang teduh dan substansial. Tanpa memandang dari bilik mana ia datang. Seorang yang terlalu fikih-oriented seringkali bersikap kaku dan mudah menyatakan salah pada praktik yang berbeda. Hal ini bukan berarti fikih tidak perlu.

Dengan basis tasawuf, kehangatan dalam beragama akan lebih terasa. Karena jantung dari sufisme adalah akhlak dan cinta. Tolok ukur tasawuf bukan hanya hitam-putih dan benar-salah dari suatu persoalan, sehingga dalam koridor tasawuf, tukang maksiat pun tak akan didakwa begitu saja sebagai penghuni neraka. Salah satu karyanya bahkan berjudul Dahulukan Akhlak Daripada Fikih. Menunjukkan betapa dimensi utama dalam beragama adalah budi pekerti.

Kang Jalal terinspirasi integritas moral tinggi dan gejolak darah pejuang para ulama Iran tadi. Sosok seperti Murthada Muthahhari adalah salah satu ulama intelektual yang dikaguminya. Dari para pemikir Syiah, Kang Jalal belajar menjadi penganjur keterbukaan. Segala rupa mazhab dalam Islam dihargai, bahkan pemikiran di luar Islam pun tidak ia tolak begitu saja. Gagasannya ialah wawasan non-sektarian. Tasawuf adalah lintasan cinta yang meniscayakan persaudaraan.

Di era 80-an, terjadi animo keberagamaan di tengah masyarakat. Kecenderungan ‘pasar’ kala itu menghendaki sesuatu yang mendatangkan ketenangan batin. Perjuangan keagamaannya pun menjamah spiritualitas masyarakat urban. Ia membidani komunitas tasawuf perkotaan. Mendakwahkan Islam dengan ceramah bernuansa sufistik. Kekayaan referensi, kemampuan lintas bahasa, dan komunikasi yang menarik, paket lengkap ini membuat audiens kerap terpikat dengan materi yang ia bawakan.

Ketika membuka Islam Aktual, buku anggitan Kang Jalal tahun 1991, apa yang saya temukan dalam prolognya adalah kerendahan hati. Rangkaian paragraf berikutnya, memerlihatkan kepeduliannya akan masa depan Islam dan persaudaraan kemanusiaan. Sebagai seorang intelektual kaliber, Kang Jalal tak luput memberdayakan kampung halamannya. Baktinya diwujudkan dengan membangun lembaga pendidikan di sana. Sejak puluhan tahun lalu, Kang Jalal telah mendirikan yayasan Muthahhari. Sama seperti nama ulama yang ia gandrungi.

Lembaga pendidikan miliknya memiliki misi progresif untuk pencerahan pemikiran Islam. Sebagai tanggapan kritis akan dunia Islam yang sedang krisis. Beberapa kali sekolah dari yayasan ini meraih prestasi sebagai sekolah model untuk pengembangan budi pekerti level nasional. Jenjang SMP yang berdiri sejak 1997 pun menggratiskan biaya sekolah, sebentuk sumbangsih bagi masyarakat sekitar.

Sebagai seorang Syiah (pengagum Ahlul Bait), Kang Jalal benar-benar mempertanggungjawabkan identitasnya. Setiap langkahnya adalah proses tafakur. Selalu mencoba kompatibel dengan ajaran Imam Ali, sang pintu keilmuan Nabi Muhammad SAW. Apa yang dilihatnya dari Imam Ali, maka itu terhubung sampai Rasulullah SAW.

Pribadi Kang Jalal sungguh jauh dari stigma-stigma brutal terhadap pengikut Syiah yang selama ini beredar. Kita terlanjur diperbudak istilah, dan enggan mengenal isi. Jalan hidupnya adalah lintasan cinta dan moral. Sejalur dengan mandat pengutusan Raslullah SAW di muka bumi, untuk memparipurnakan akhlak dan menjadi penebar cinta bagi keseluruhan alam.

Pengotakan mazhab semacam Sunni-Syiah telah menjauhkan Muslim dari jati diri kemanusiaan dan membuat saling curiga terhadap saudara sendiri. Saya prihatin dengan keadaan sarat pembalikan kini. Kang Jalal yang seorang Syiah, menghimpun sekian banyak teladan dan hikmah. Oleh sebab identitas itu, ia diredupkan, dihina. Padahal kontribusinya paripurna.

Untuk memerjuangkan hak-hak kalangan yang termarjinalkan, Kang Jalal bahkan pernah berusaha melalui jalur pemerintahan. Ia sempat menjadi anggota legislatif di tahun 2014-2019. Saya tidak membayangkan, betapa lelahnya hidup sebagai kalangan minor tertindas yang harus selalu mengklarifikasi dan meluruskan pandangan bengkok arus utama.

KH. Jalaluddin Rakhmat adalah kompendium ilmu, kebijakan, dan cinta. Ia mengajak kita untuk kembali pada fitrah. Yaitu menghidupkan ulang pendar kasih sayang kemanusiaan berbasis iman yang selama ini terabaikan. Ia berpandangan bahwa keseluruhan ajaran Islam dimaksudkan untuk mensucikan manusia. Pulang pada sifat kemanusiaan mereka.

Jalan kehidupan Kang Jalal adalah untuk mendakwahkan Islam cinta. Karena ibadah cinta adalah ibadahnya orang merdeka. Ia hendak menciptakan kehangatan dalam beragama. Riset sejenak ini tentu tak mewakili bagaimana Kang Jalal seutuhnya. Namun, definisi yang saya simpulkan dari figurnya adalah keteduhan spiritual dan postur intelektual yang nyaris rapat.

Kiranya boleh mengakui Kang Jalal sebagai guru saya. Setidaknya melalui jalur perjumpaan ideologis yang ditransmisikan melalui tuturan kisah oleh guru saya sebelumnya. Kepulangan Kang Jalal menegaskan kembali tugas kita untuk mempromosikan Islam yang penuh kasih, ramah, dan dinamis. Karena langkahnya adalah titian cinta, maka tak akan pernah kadaluarsa. Wallahu a’lam. []

%d blogger menyukai ini: