Keshalehan Sejati, Bukan Hasil Imitasi

KolomKeshalehan Sejati, Bukan Hasil Imitasi

Sebagian besar, sistem pengembangan manusia adalah tiruan. Manusia belajar dengan meniru. Banyak orang, khususnya para pencari pahala dan keshalehan, biasanya sangat bersemangat dalam meniru amal orang lain yang telah berhasil mendapat apa yang dianggap sebagai ‘buah dari amalnya’, yaitu keberuntungan dan bukti keshalehannya. Meniru amal orang shaleh memang penting untuk mengawali proses pengembangan diri kita. Namun sebenarnya, tiruan atau imitasi amal belaka, bukanlah mekanisme ideal dalam mengembangkan potensi keshalehan seseorang.

Alkisah, pernah ada seorang wanita miskin membantu makhluk spiritual yang menyamar sebagai pengembara dari jauh. Kisah ini dicatat dalam buku yang mempublikasikan hasil penelitian tentang psikologi dan spiritualitas para sufi dala meniti jalannya, Learning How To Learn (1990, h. 24). Wanita tersebut memberinya keramahan ketika orang lain mengusirnya. Saat meninggalkan rumahnya, pengembara itu berkata, “semoga tugas pertamamu besok berlangsung sepanjang hari!”. Sang wanita berpikir bahwa itu hanyalah cara yang aneh untuk berterima kasih kepada seseorang, tetapi ia segera melupakannya.

Keesokan harinya seorang pedagang membawakannya seutas benang emas pendek dan memintanya untuk menyulamnya ke sebuah pakaian. Menyulam adalah pekerjaan Wanita itu, jadi diapun menerimanya. Dia membuka gulungan emas dan mulai menyulam kainnya. Ketika dia selesai, dia melihat ada lebih banyak benang emas di lantai daripada yang awalnya dia gunakan. Semakin dia menggulungnya menjadi bola, semakin banyak yang ada. Dia menggulung benang emas sepanjang hari, hingga malam hari dia mengumpulkan begitu bnyak benang emas.

Sesuai dengan tradisi saat itu, sisa benang akan menjadi milik penyulam. Wanita itupun menjual benang emasnya. Dengan uang itu, dia dapat merenovasi rumahnya dan melengkapinya, serta mendirikan toko yang bagus. Para tetangga pun menjadi penasaran, dan wanita itu memberi tahu mereka bagaimana keberuntungannya yang telah merubahnya, dan apa yang menyebabkan dirinya bisa seberuntung itu.

Beberapa waktu kemudian, seorang saudagar di kota yang sama melihat dan mengenali ‘orang asing dengan kekuatan ajaib’ yang diceritakan wanita itu. Saudagar itupun mengundangnya ke toko dan rumahnya. Dia menunjukkan keramahtamahan yang luar biasa, meniru cara orang-orang yang bertangan terbuka berperilaku, bahkan memberikan perhatian yang berlebihan.

Saudagar itu berpikir, “pasti ada imbalan untukku, dan tentu saja untuk semua orang di kota ini”. Meskipun ia serakah, dia membayangkan bahwa hanya dengan memikirkan orang lain, ia akan mendapatkan imbalan untuk dirinya sendiri. Karena, bagaimanapun, dia meniru amal baik orang lain. Dia tidak menganggap kebaikan orang lain sama dengan kebaikannya sendiri, tetapi hanya menjadikan hal itu sebagai hasrat awal. Itulah yang membedakannya dengan ketulusan wanita yang beramal sebelumnya.

Baca Juga  Jangan Mudah Mengharamkan

Ketika orang asing itu hendak pergi, saudagar itu berkata, “beri aku berkat”. Orang asing itu menjawab, “saya tidak melakukan itu. Namun, saya berharap urusan pertama mu hari ini, akan bertahan selama seminggu”. Orang asing itupun melanjutkan perjalanannya, kemudian saudagar itu berangkat ke tempat penyimpanan hartanya. Dia berencana untuk menghitung uang, dan mengalikannya selama seminggu penuh.

Baca Juga  Menebarkan Islam Cinta

Dalam perjalanan melintasi halamannya sendiri, saudagar itu berhenti untuk minum air di sumurnya. Ketika ia mengambil satu ember, seketika ia terus mengambil air. Hal ini berlangsung selama seminggu penuh. Air pun membanjiri rumahnya, kemudian tetangga, dan akhirnya seluruh kota, hampir menyebabkannya tenggelam.

Kisah tersebut merupakan analogi popular tentang amal imitasi yang palsu dan tidak bernilai bagi pengembangan keshalehan seseorang, bahkan justru menbahayakan hatinya. Seseorang yang terobsesi oleh tahap awal sesuatu, yang membayangkan permulaan itu sebagai keseluruhan, tidak akan berkembang. Misalkan, ada orang yang berada pada tahap di mana ia hanya bisa mengikat simpul tali, dan puas dan mendapat imbalan akan hal itu. Kemudian, jika orang-orang hanya meniru fase simpul, dan menganggap simpul sebagai keseluruhan seni tekstil, tenun tidak akan muncul. Berapapun banyaknya imbalan dan kepuasan yang muncul ketika membuat simpul, hal itu tidak akan meningkat dan berkembang menjadi sesuatu yang lebih baik.

Selain itu, kita patut mengingat ajaran dari orang bijak dan arif, Abu al-Hasan Khirqani, yang tercatat dalam Recitals of the Saints karya Attar. Ia berkata “Orang-orang di dunia memiliki tujuan yang tetap. Tetapi, orang yang berkembang secara spiritual mendapatkan apa yang tidak dalam ada dalam tujuan mereka”. Itu artinya, orang shaleh sejati tidak menargetkan keberuntungan dari amal shalehnya. Walaupun mereka mendapatkannya, hal itu bukan tujuan mereka dalam beramal baik.

Singkatnya, kesenangan, kebahagian, dan kepuasan yang berbuah dari amal tentu bukan untuk ditentang. Namun, mencari imbalan ‘kebahagiaan’ sebagai bagian spesifik dari suatu amal, pada akhirnya mengarah pada kebingungan dan kerancuan. Meniru amal dan mengharapkan hasil yang konstan, akan menjadi penghalang seseorang untuk melangkah lebih jauh. Orang yang berpikir bahwa hanya amal tertentu yang dapat dilakukan seseorang dalam ‘menjadi shaleh’, tidak akan berkembang. Keshalehan sejati bukan hasil imitasi amal belaka. Maka dari itu, penting untuk menjaga amal kita tetap original dan aseli. Kita harus berlatih tentang ajaran orang arif bahwa, “balasan dan imbalan bukan tujuan utama dalam beramal.”

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.