Menghormati Nabi SAW Seperti Saat Beliau Masih Hidup

KhazanahMenghormati Nabi SAW Seperti Saat Beliau Masih Hidup

Maulid Nabi SAW merupakan momen saat semua Muslim mengingat dan mengenang Rasulullah Muhammad SAW. Bahkan, orang yang sepanjang tahun tidak peduli dengan sunah dan sirah Nabi SAW pun, akan terbawa suasana bulan Maulid untuk memuji dan memuliakan Nabi Muhammad SAW.  Al-Quran menegaskan bahwa, orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Quran), mereka itulah orang-orang beruntung (QS. Al-A’raf: 157). Bagaimana caranya memuliakan Nabi SAW di era sekarang ini, sebab kita tidak bertemu langsung dengan beliau?

Pujian besar telah dicurahkan Wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat yang hidup semasa dengannya telah memberikan  penghormatan setinggi-tingginya. Kita juga diajarkan untuk selalu memuliakan Nabi SAW sebaik yang telah dilakukan para sahabat  beliau. Mendengar namanya, mengucap shalawatnya, membaca hadisnya, dan menerima ajarannya adalah anugerah besar dalam hidup kita. Qadi ‘Iyad dalam kitabnya al-Syifa’ (h. 519) menuliskan kepada kita bahwa, “menghormati dan memuliakan Nabi SAW setelah kematiannya sama pentingnya dengan selama hidupnya”. Untuk itu, kita perlu meneladani bagaimana cara para sahabat Nabi SAW, memperlakukan dan menghormati Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya. 

Para sahabat adalah generasi yang paling setia dan paling baik dalam memuliakan Rasulullah SAW. Ada banyak sekali riwayat yang menggambarkan betapa luar biasanya rasa ta’dzim dan hormat para sahabat kepada Nabi SAW. Ketika suku Quraisy mengirim ‘Urwah Bin Mas’ud kepada Rasulullah pada tahun Hudaibiyah, ia melihat penghormatan yang tak tertandingi yang diberikan para sahabat kepada Nabi SAW, tidak ada yang mampu berbuat tidak setia padanya. 

Jika beliau memerintahkan mereka sesuatu, mereka segera melaksanakannya, ketika  beliau berbicara, mereka diam mendengarkan. Tidak seorangpun dari mereka yang bisa memandangnya karena rasa kagum yang dahsyat di dalam dada mereka. Sahabat akan berlomba mengambil berkah dari apa yang ada pada Rasulullah, termasuk rambut, kuku, keringat, dan seluruh tubuhnya adalah barokah. Bahkan apapun yang bersentuhan langsung dengannya, akan menjadi sangat berharga mereka. Ketika Urwah bin Mas’ud kembali ke Quraisy, dia memberi tahu kaumnya, “Wahai suku Quraisy, aku pernah ke Khosrow di kerajaannya, Caesar di kerajaannya, dan Negus di kerajaannya. Tapi, demi Allah, aku belum pernah melihat seorang raja dari kaum itu yang diperlakukan sebagaimana Muhammad diperlakukan oleh para sahabatnya” (HR. Bukhari)

Begitulah para sahabat Nabi menghormati Rasulullah SAW semasa hidupnya. Tidak ada yang lebih penting dan lebih mereka cintai daripada Nabi SAW. Kita juga diajarkan untuk memuliakan Nabi Muhammad SAW, seakan-akan beliau masih hidup bahkan berdiri di hadapan kita. Abu Ibrahim Ishaq al-Tujibi, sebagaimana dikutip oleh Qadi ‘Iyad, mengatakan bahwa, “wajib bagi setiap orang beriman, setiap kali mereka menyebut Nabi atau setiap kali namanya disebutkan di hadapan mereka, mereka harus menunjukkan penghormatan dan kerendahan hati, tenang dan tidak gelisah. Mereka harus menunjukkan penghormatan tertinggi, seperti yang akan mereka lakukan seandainya mereka berdiri di hadapan beliau, menunjukkan adab terhadapnya yang telah diajarkan Allah kepada kita.” Itulah cara menghormati dan memuliakan Nabi Muhammad SAW setelah kematiannya. Hal demikian telah menjadi praktik yang membudaya di kalangan para pendahulu kita yang shaleh. Dan kita harus turut melestarikannya.

Baca Juga  Madinah, Negara Bangsa Bukan Negara Islam
Baca Juga  Mencintai Nabi Muhammad SAW ala Mbah Hasyim Asy’ari

Imam Malik mengisahkan tentang salah satu guru terbaiknya, Ayyub al-Sakhtiyani, dan mengatakan, “saya pergi haji dua kali dan saya tidak pernah mendengar Nabi disebutkan tanpa dia menangis, sampai kami mengasihani dia. Ketika saya melihat darinya apa yang saya lihat tentang penghormatannya kepada Nabi , saya kemudian mulai menulis hadits darinya.”

Generasi tabi’in, orang-orang yang tidak bertemu langsung dengan Rasulullah, sangat taat dan memuliakannya seperti telah bertemu langsung dengan beliau. Mereka adalah generasi yang memberikan contoh terbaik dalam memuliakan dan ta’dzim pada Nabi SAW tanpa bertemu langsung. salah satu contohnya ialah riwayat tentang imam Ja’far Bin Muhammad al-Shadiq. Ia orang yang periang dan banyak tersenyum. Tapi setiap kali Nabi disebutkan di hadapannya, dia akan mulai pucat. Imam malik berkata, “Saya tidak pernah melihat dia meriwayatkan hadits Rasulullah , kecuali dalam keadaan suci. Saya mengunjunginya untuk beberapa waktu dan tidak pernah melihatnya kecuali dalam salah satu dari tiga keadaan, dia sedang shalat, berdiam diri, atau membaca Al-Qur’an. Dia tidak pernah membicarakan hal-hal yang bukan urusannya. Dia adalah salah satu ulama yang sangat taat yang memiliki ketundukan yang benar kepada Allah.”

Ulama lainnya ialah al-Zuhri, dia adalah salah satu orang yang paling ramah dan paling mudah didekati. Namun setiap kali Nabi disebutkan di hadapannya, seolah-olah dia tidak mengenali orang lain, atau orang mengenali dia. 

Mengingat semua hal di atas, jelas bahwa ta’dzim kepada nabi merupakan satu hal yang sangat penting dan menentukan seberapa besar cinta kita pada Nabi SAW. Memuliakan Nabi SAW menggerakkan seseorang untuk melakukan perbuatan yang penuh rasa kagum dan hormat pada Nabi SAW dan warisannya. Rasa ta’dzim mendorong Imam Malik untuk meriwayatkan hadits hanya setelah mandi penuh atau berwudhu, mengenakan pakaian dan sorban terbaiknya, mengoleskan kohl dan wewangian dirinya. Begitulah caranya memuliakan Nabi SAW. Jadi, tidak bedanya menghormati Nabi SAW antara sebelum dan sesudah beliau meninggal. Kita harus membangun rasa kekaguman dan penghormatan yang dalam kepada Nabi SAW melalui shalawatnya, sunahnya, dan sirahnya.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.