Meneladani Adab Nabi dalam Berkomunikasi

KolomMeneladani Adab Nabi dalam Berkomunikasi

Rasulullah SAW berperan besar dalam menaruh pondasi keteladanan berkomunikasi. Nabi mencontohkan formula komunikasi yang santun, berkualitas, dan jauh dari unsur menyakiti.  Dalam konteks hubungan antarmanusia (hablun min al-nas), komunikasi akan menjadi hal yang selalu ada. Berkomunikasi sendiri merupakan fitrah anak Adam. Yang jika dilakukan dengan buruk dapat menimbulkan kesalahpahaman dan menghambat harmoni sosial. Lisan yang tergelincir bisa berujung pada petaka. Sebaliknya, komunikasi yang baik adalah kunci mewujudkan berbagai tujuan.

Ketika berinteraksi dengan orang lain, Rasulullah SAW selalu meninggalkan kesan baik. Siapapun lawan bicaranya, sama-sama beliau hormati, hingga mereka merasa begitu dihargai dan seakan penting bagi Nabi. Karena saat berkomunikasi, Nabi selalu fokus pada yang mengajak bicara serta menghadapkan seluruh badan kepada mereka. Adab ini kian tergerus di masa kini, di mana orang kerap tak memedulikan lawan bicaranya karena sibuk dengan gawai di tangan. Komunikasi tak sehat semacam ini memerlihatkan ketidakpedulian yang memicu sakit hati.

Selain itu, teks-teks agama banyak menyeru agar kita mengatakan ucapan yang baik dan benar, seperti ayat “Dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik” (QS. An-Nisa [4]: 5) serta “Dan katakanlah perkataan yang benar” (QS. Al-Ahzab [33]: 70). Hal tersebut pun menjadi keseharian yang dipraktikkan Nabi. Tidak ada dusta dalam ucapan beliau. Kita tahu, akhlak Nabi adalah aktualisasi dari al-Quran.

Dusta merupakan suatu bencana. Jika terkait dengan orang lain, itu bisa menjadi fitnah yang dapat menghancurkan hidup seseorang. Perintah untuk jujur Nabi sampaikan melalui sabdanya, bahwa Hendaklah kalian selalu dalam kejujuran, karena kejujuran mengantarkan pada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga. Seseorang akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim).

Berkata yang baik-baik pun menjadi indikator bagi mereka yang mengaku mengimani Allah dan hari akhir. Mengacu pada hadis, Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam (HR. Muslim). Opsi untuk diam ketimbang berkata buruk dalam hadis tersebut, kian menunjukkan pentingnya seseorang untuk menjaga lisan pada kebaikan.

Syahdan, Nabi adalah sosok yang piawai dalam berkomunikasi. Beliau tidak bertele-tele dan tak mengatakan sesuatu yang tidak perlu. Rasulullah adalah komunikator yang efektif dan efisien. Cara penyampaian beliau tepat, tidak membuang-buang waktu, dan membawa hasil.

Nabi pun bersabda, Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada ibu, tidak memberi tapi mau menerima, dan mengubur anak wanita hidup-hidup, serta Allah membenci kalian mengatakan sesuatu yang tak jelas (qila wa qala/katanya), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta (HR. Bukhari).

Baca Juga  Islam Indonesia Islam Damai

Hadis ini menunjukkan tuntunan berkomunikasi, yakni kemestian berbicara efektif dan seperlunya. Terlalu banyak menanyakan hal yang tak penting adalah kesia-siaan yang harus kita hindari. Yang mana, Di antara tanda baiknya keislamanan seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tak berguna baginya (HR. At-Tirmidzi). Banyak bertanya pun justru bisa menyusahkan si penanya.

Baca Juga  Keutamaan Ramadhan dan Ibadah Sosial

Selanjutnya, Nabi adalah sosok yang amat peka dalam berkomunikasi. Beliau selalu mempertimbangkan kondisi dan kadar pemahaman lawan bicaranya agar apa yang diucapkan mudah dipahami. Ada kalanya Nabi cukup dengan metafora atau isyarat ketika berbicara dengan seseorang yang dinilai cerdas. Sedangkan, saat berbicara dengan orang yang tak cukup mudah menangkap, Nabi mengutamakan penjelasan dengan contoh yang lebih konkret.

Seperti kisah laki-laki Bani Fazarah yang mengadukan tentang anaknya yang berkulit hitam dan ia tak mau mengakui. Menanggapi aduan lelaki tersebut, Rasulullah pun mencontohkan unta merah dengan sedikit warna kelabu yang dimiliki pemuda Fazarah tersebut untuk memberikan gambaran. Bahwa, warna kelabu kehitam-hitaman yang ada pada unta merahnya bisa jadi berasal dari gen moyangnya. Demikian halnya dengan anak lelaki Fazarah tersebut yang berkulit gelap. Nabi benar-benar komunikator andal. Beliau memberikan pemahaman sesuai perspektif komunikan tanpa merendahkan atau menggurui.

Adab lain yang diajarkan Nabi adalah menjaga lisan dari perkataan keji atau menyakiti. Dalam suatu hadis, sahabat Nabi yang juga pembantu setia beliau, Anas bin Malik, memberikan kesaksian, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mencela, berkata keji, dan mengutuk. Jika Rasulullah ingin menegur seseorang, beliau hanya berkata, “Semoga dahinya dipenuhi debu” (HR. Bukhari).

Hal lain yang bisa kita tiru adalah kearifan beliau. Rasulullah bukan seorang ambisius yang ngotot ingin mengalahkan lawan bicaranya. Beliau justru menghimbau kita untuk menjauhi perdebatan sekalipun kita dalam keadaan benar. Bagi yang melakukan hal tersebut, ia mendapat jaminan istana di surga sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Abu Dawud. Lebih dari itu, dalam berkomunikasi Nabi tak pernah memotong pembicaraan orang lain. Tutur katanya lembut, tegas, dan tak tergesa-gesa.

Komunikasi merupakan kebutuhan kita sehari-hari. Suatu cara untuk mengekspresikan diri guna membentuk jaringan interaksi sosial. Segala bentuk komunikasi harus didasarkan pada etika agar menghasilkan hubungan yang sehat, saling memahami, dan tidak saling menyakiti. Itu semua bisa kita cermati dan tiru dari figur Nabi Muhammad yang akhlaknya tiada cela. Rasulullah adalah model yang paripurna untuk diteladani tutur kata dan sikapnya. Wallahu a’lam. []


Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.