Shalawat Burdah Syair Cinta untuk Nabi SAW

BeritaShalawat Burdah Syair Cinta untuk Nabi SAW

Sejak masa klasik, Arab dikenal memiliki nilai kesastraan yang tinggi. Sebagaimana shalawat burdah memuat nilai-nilai cinta yang ditunjukkan kepada Nabi Muhammad SAW, hingga kini shalawat tersebut masih bertahan dan populer di kalangan awam maupun budayawan. Melalui kasidah Burdah ini, kiranya kecintaan kepada beliau kian bertambah karena keindahan dan makna dari setiap kalimat yang terkandung di dalamnya.

Shalawat Burdah dibuat oleh Abu Abdillah Muhammad bin Khammad ad-Dalashi as-Shanhaji asy-Syadzili al-Bushiri yang dikenal sebagai Imam Bushiri, seorang merupakan seorang sufi. Pada tahun 1450 di usianya yang sekitar ke-40 tahunan, ia mempelajari dan menekuni ilmu-ilmu tasawuf dan jalur yang dipilihnya, yakni Syadziliyah. Sebuah tarekat rintisan sufi asal kebangsaan Tunisia yang bernama Abu al-Hasan Asy-Syadzili. Berkat tarekat yang ditekuninya, alhasil membawa pengaruh besar pada pemikiran dan orientasi kehidupan sastranya.

Judul asli dari kasidah burdah adalah al-Kawakib ad-Durriyah (Bintang-bintang yang bergemelapan). Namun, kemudian disebut burdah karena berkaitan dengan latar belakang lahirnya shalawat ini. Secara bahasa, burdah berarti mantel dari wol. Menurut cerita Imam Bushiri sendiri, ketika itu ia menderita kelumpuhan akibat penyakit angin merah. Dalam mimpinya, ia bertemu Rasulullah SAW dan beliau memberikan mantel (burdah) kepadanya seperti halnya mantel yang diberikan pada Ka’ab. Ia terkejut dan terperanjat dari tidurnya, lantaran mimpinya itu ia merasa kakinya tidak lagi berat dan pulih sehingga bisa digerakkan dengan bebas. Imam Bushiri merasa terharu dan ia membuat syair indah tersebut yang khusus ditujukan kepada Nabi SAW.

Para sastrawan menyebut shalawat burdah memiliki kekuatan sastra yang tinggi. Pasalnya, di kawasan Eropa tidak kurang dari enam edisi terjemahan shalawat burdah diterbitkan, sastrawan Belanda yang pertama kali menerjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Carmen Mysticum Borda Dictum. Syairnya juga mudah dilantunkan dengan berbagai macam nada. Di pesantren-pesantren Indonesia sendiri, secara kreatif kerap terdengar menggunakan nada jawa, india, dan sebagainya. Sejak awal diunggahnya, burdah mendapat perhatian banyak lapisan masyarakat awan, sastrawan, dan budaya, itu sebabnya, shalawat burdah masih populer hingga kini.

Baca Juga  Habib Luthfi: Dakwah Wali Songo Tanpa Kekerasan
Baca Juga  Ijazah Gus Mus untuk Menangkal Virus Corona

Di samping itu, yang menjadi kekuatan dari nilai sastra ini tidak lain karena objek yang ditunjukkan tak kalah kuatnya, yakni Nabi Muhammad SAW. Imam Bushiri menyadari syair-syair itu menjadi indah karena memiliki poros yang sempurna. Kekaguman yang diungkap dalam kasidah burdah merupakan penghayatan sekaligus apresiasi atas segala apa yang ada dalam diri Nabi SAW sebagai manusia sempurna yang diciptakan Allah SWT, baik dari jasmani, akhlak, akal budi, kesantunan, kelembutan, dan kebijaksanaannya.

Tidak hanya itu, kasidah yang terdiri 160 bait ini bertemakan pula peringatan dan bahaya menuruti hawa nafsu, puji-pujian, kelahiran, mukjizat, al-Quran, isra’ mi’raj, jihad dan yang ditutup dengan permohonan pertobatan.

Walhasil, keindahan yang ada pada shalawat burdah merupakan cerminan cinta sang pencipta syair terhadap Nabi SAW. Jadi wajar, jika semua orang dapat merasakan besarnya kekuatan cinta yang ada dalam shalawat burdah tersebut. Semoga kita yang senantiasa senang bersenandung dan mendengar shalawat burdah diberikan dorongan rasa cinta yang besar serta mendapat syafaat dari beliau. Amin 

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.