Akulturasi Hinduisme, Bukan Pemurtadan Agama

KolomAkulturasi Hinduisme, Bukan Pemurtadan Agama

Islam merupakan agama impor yang datang ke Indonesia. Tak ayal untuk penyebaran agama yang damai para Walisongo berupaya beradaptasi dengan tradisi keagamaan lokal, yakni mengharmonisasikan antara agama Hindu dan Islam, misalnya melalui wujud tumpengan. Oleh karena itu, setiap tradisi yang diserap Islam tidak semerta-merta dikatakan pemurtadan agama, sehingga kehadiran Islam Nusantara menjadi penjelasan bahwa proses akulturasi tersebut  tidak menyalahi syariat Islam berdasarkan esensi nash-nash dalam al-Quran maupun hadis.

Dalam sejarah Antropologi kepercayaan pertama manusia adalah animisme-dinamisme, yakni adanya makhluk halus yang memiliki roh dan jiwa sebagai penunggu alam semesta. Manusia primitiv mengimajinasikan agar lebih dekat dengan para penguasa alam semesta, sudah semestinya manusia memberikan penghormatan kepada para dewa. Pelbagai ritual pun dilakukan, termasuk memberikan persembahan sesaji makanan.

Sementara tradisi sesaji tumpengan yang ada di Indonesia, baru ada sekitar pada abad ke-4 berhubungan dengan sejarah masuknya agama Hindu-Budha ke Nusantara setelah kepercayaan animisme-dinamisme. Agama Hindu yang berasal dari India memiliki mitologi bahwa legenda gunung mahameru bagian dari konsep alam semesta sebagai tempat suci. Demikian para leluhur bangsa Indonesia, khususnya yang beragama Hindu-Budha, mereka juga menganggap gunung-gunung sebagai tempat suci dan membuat tumpeng sebagai persembahan sesaji. Ini keterkaitannya juga mengapa bentuk tumpeng berbentuk kerucut seperti gunung.

Namun dalam perkembangannya, fungsi tumpeng mengalami pergeseran. Jika dahulu sebagai wujud persembahan, maka sekarang fungsi tumpeng direfleksikan sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan, nikmat rezeki, dan tercatat sebagai makanan tradisional khas Indonesia yang mesti dijaga kelestariannya. Untuk itu tidak ada kaitannya dengan tumpeng yang membuat murtad seseorang. Mungkinkah dengan memakan makanan tumpeng keimanan seorang Muslim menjadi berkurang? Atau apakah kelezatan rasa tumpeng secara sekejap dapat mengubah pemikiran yang tiba-tiba ingin menjadi seorang Hindu?

Islam Nusantara menjembatani, bahwa tidak ada permasalahan ketika terdapat budaya yang melebur dengan masyarakat dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, selagi tidak berseberangan dengan ajaran-ajaran Islam. Menurut Said Aqil Siradj, dakwah Islam Nusantara berupaya mengkampanyekan pemahaman yang realistis, bersama ormasnya pula NU berkomitmen tinggi terhadap kebangsaan dan kemanusiaan (2015). NU sejak berdirinya, memang dikenal sebagai organisasi masyarakat yang paling berani dan berinisiatif masif mempertahankan identitas bangsa Indonesia, demi tradisi rakyat, tradisi Islam Nusantara.

Sebagaimana rekam jejak Walisongo adalah landasan terciptanya Islam Nusantara. Tradisi Hindu yang masih dilestarikan di Indonesia selain tumpeng ialah media pewayangan. Mulanya plot alur cerita pewayangan berasal dari ajaran Hindu. Namun oleh Walisongo dimodifikasi dengan meleburkan nila-nilai islami dalam kisahnya. Misalnya, modifikasi cerita ‘Jimat Kalimah Shada’ yang bernuansa teologi Hindu, jimat kalimat maha Usada dialihkan menjadi ‘azimah kalimah Syahadah’ yang berfrase kalimat tauhid sebagai penyelamat manusia di kehidupan dunia dan akhirat, serta pemahaman pada unsur keislaman (Agus Sunyoto: 2019).

Baca Juga  Nikah Sirri, Mudharat!

Proses akulturasi Hinduisme yang terjadi selama ini, faktanya justru menyemai keislaman di Indonesia. Sebab Islam yang lahir di Tanah Air melalui Walisongo, tidak pernah menentang secara keras dan kasar terhadap apa yang telah menjadi tradisi rakyat. Islam bukanlah agama yang sempit, baik dalam pemaknaan dan praktik. Menjadi murtad tidak seharusnya membutuhkan pernyataan orang lain, kecuali dirinya sendiri yang mengakui bahwa dirinya telah keluar dari Islam. Sebab bagaimana keadaan seseorang, kita tak mempunyai hak untuk mengklaim seseorang bahwa ia telah murtad.

Baca Juga  Wahabisme: Ideologi Kaum Ekstremis (Bagian 2)

Jika dengan tumpeng sebelum makannya diucapkan basmalah dan diakhiri dengan hamdalah, maka itu termasuk akulturasi hinduisme tetapi sama sekali tidak memengaruhi keimanan. Bahkan, boleh jadi keimanan seseorang menjadi bertambah, karena selama menikmati tumpeng yang dilahapnya ia mengingat Allah SWT sembari berucap syukur atas nikmat karunia yang berikan padanya. Oleh karena itu, jangan memersoalkan keimanan manusia hanya karena tumpeng.

Islam mengenal Indonesia yang beragam budaya, menyebutnya dengan sunnatullah dan rahmatan lil alamin. Akulturasi yang berada dilingkungan sekitar mestinya dapat dipahami sebagai proses alami yang tak dapat terelakkan. Jadi sudah semestinya keberagaman dan tradisi-tradisi yang penuh nilai dan filosofi ini, dirawat dengan sebaik-baiknya untuk menjadi sumber kekayaan dan kekhasan bangsa Indonesia.

Dalam jurnal Bisnis dan Birokrasi, Aryani dan Rosinta menilai anak muda zaman sekarang lebih berminat dan kerap merayakan hari-hari penting dengan makanan menu cepat saji, seperti fried chicken, pizza, dan sejenisnya, ketimbang makanan lokal, ibarat tumpeng (2011: 2). Lambat laun kebiasaan seperti ini menghilangkan kearifan lokal dan punahnya tradisi tumpengan. Perlu adanya revitalisasi agar tumpengan tetap eksis. Pihak pemerintah hendaknya bekerja sama dengan pengusaha kuliner upaya menyediakan menu tumpengan dengan penyajian yang praktis dan rasa yang diminati.

Penjelasan di atas dapat dipahami, bahwa akulturasi Hinduisme tidak membuat seseorang menjadi murtad. Islam adalah agama yang terbuka dengan segala perbedaan. Jangan memarginalkan budaya Hindu, sementara budaya Arab mati-matian dipaksakan untuk ditiru. Islam di Indonesia relatif dapat mengakulturasi macam budaya, sehingga mencerminkan Islam sebagai agama yang ramah, bukan agama yang mudah memurtadkan orang-orang.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.