Ibnu Athaillah: Karakteristik yang Pantas Disebut Sahabat

KhazanahHikmahIbnu Athaillah: Karakteristik yang Pantas Disebut Sahabat

Mendapat sahabat yang baik merupakan salah satu kebahagiaan di dunia. Kendati demikian, seorang ulama besar asal Mesir mengingatkan kepada murid-muridnya, bahwa di antara karakteristik persahabatan dan orang yang pantas dijadikan sahabat adalah yang senantiasa membawa kita pada ke jalan Allah SWT.

Sebagamana yang dikatakan Ibnu Athailah, Jangan kau temani orang yang tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah. Dalam syarahnya di kitab Al-Hikam, Syekh Abdullah Asy-Syarqawi Al-Khalwati (2019), yang dimaksud Ibnu Athaillah dijelaskan, bahwa sekalipun seorang murid berteman dengan ahli ibadah atau ahli zuhud, orang semacam itu tidak ada gunanya andaikata berteman dengannya, membuatmu tidak bersemangat dan ucapannya tidak mengarah pada jalan Allah.

Karena sahabat memiliki peran yang signifikan untuk memengaruhi pola hidup bagi yang membersamainya. Itu sebabnya, lingkungan seperti ini tidak bisa dianggap sederhana. Pastikan kita menyadari bahwa pengaruh-pengaruh yang dibawanya tidak menjadi racun, istilah kekiniannya adalah toxic, melainkan suatu kemanfaatan.

Syahdan, Ibnu Athailah juga mengatakan, Bisa jadi, perbuatan burukmu tampak baik di matamu, karena persahabatanmu dengna orang yang lebih buruk daripada dirimu. Artinya, berteman dengan orang yang kualitas kebaikannya ada di bawahmu amat berbaaya karena bisa menyamarkan aib dan kekurangan. Akibatnya, kau selalu berbaik sangka terhadap dirimu sendiri. Kau bangga dengan amalanmu dan merasa puas dengan kondisimu sehingga kau rela hati dan selalu melihat kebaikaan-kebaikanmu. Itu adalah segala pangkal keburukan.

Baca Juga  Kebebasan ala Rabi’ah al-Adawiyah

Seorang sahabat yang tepat tentunya akan senantiasa saling memberikan nasihat-nasihat kebaikan, yang bukan berarti menganggap semuanya itu baik. Berani mengkritisi dengan seksama, walaupun ia mengetahui boleh jadi yang dikatakannya akan membuat yang ditegurnya merasa tidak nyaman atau berkenan. Memang berteman itu dengan siapa saja, tapi untuk dijadikan sahabat karakteristik-karakteristik tersebut patut dipertimbangkan.

Baca Juga  Otonomi Perempuan ala Asiyah, Istri Fir’aun

Maka dari itu, mari lebih teliti lagi dalam memilih sahabat. Namun ada yang lebih utama lagi yakni, alangkah luhurnya ketika kitalah yang berkehendak menjadi bagian sahabat yang dicari tersebut.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.