Hikmah Ayat Kisah dalam Al-Quran

KhazanahHikmahHikmah Ayat Kisah dalam Al-Quran

Banyak sebagian orang yang mengira bahwa al-Quran hanya berisi ayat-ayat yang membahas tentang hukum-hukum. Padahal ayat-ayat tentang hukum-hukum itu tidak banyak, bahkan tidak mencapai 10% dari keseluruhan ayat al-Quran yang terdiri atas 6236 ayat, terdiri dari 114 surat dan disusun menjadi 30 bagian. Syeikh Thantawi Jawhari, mengatakan ayat tentang hukum berjumlah sekitar 150 ayat, sedangkan Ibn al-Arabi menyebutkan 400 ayat. Meskipun para ulama berbeda-beda pendapat tentang jumlah ayat hukum, mereka sependapat bahwa jumlahnya tidak lebih dari 500 ayat. Sisanya, al-Quran berbicara tentang seruan kepada keesaan Allah SWT, serta kisah-kisah masyarakat sebelumnya. 

Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa sebagian besar ayat-ayat dalam al-Quran menceritakan kisah masyarakat di masa lampau? apakah semua kisah-kisah itu dongeng untuk menarik anak-anak, atau sebagai hiburan saja? Al-Quran sendiri telah memberikan jawabannya, bahwa kisah-kisah yang dimuat di dalam Al-Quran tersebut mengandung kebenaran yang penting (QS. Ali Imran: 62), bermanfaat sebagai pelajaran (QS. Yusuf: 111), untuk memperkuat hati dan keyakinan nabi Muhammad SAW dan umatnya (QS. Hud:120), serta yang terpenting adalah untuk direnungkan dan dijadikan teladan (QS. al-Hajj: 45-46).

Kisah dalam al-Quran selalu melibatkan fenomena sosial yang seringkali berulang di setiap zaman. Hal demikian memberikan pemahaman mendalam tentang dampak perilaku sekelompok orang pada nasib peradabannya. Itulah mengapa kisah al-Quran dapat berfungsi sebagai petunjuk, sesuai dengan konsep dasar al-Quran. Kisah-kisah tersebut merupakan tuntunan hati bagi kita karena berasal dari Allah SWT. Bagaimanapun, fenomena sosial adalah sesuatu yang penting dari kondisi manusia atau tatanan sosial. Jika dicermati, setiap perilaku penyebab keruntuhan peradaban masyarakat terdahulu yang dikisahkan di dalam al-Quran, juga ada pada masyarakat saat ini. 

Baca Juga  Mandat Sosial Zakat

Seperti, diskriminasi kaum Nabi Nuh terhadap fakir miskin (QS. Hud: 27), kaum Nabi Syu’aib yang curang dalam bisnis (QS. Hud: 84-89), dan kaum Musa yang menyalahgunakan kekuasaan dan kekayaan, kesuksesan Nabi Yusuf dalam mengatur keuangan negara, dan lain sebagainya. Fenomena sosial seperti itu tentu dapat berulang di mana saja dan kapan saja. Kisah al-Quran merupakan cermin kehidupan yang sangat jernih.

Kita perlu lebih menyadari lagi bahwa melalui kisah dan sastranya yang kuat, al-Quran memberikan pelajaran hidup yang sangat indah. Ia mengakui bahwa setiap kemajuan atau kehancuran kaum atau masyarakat, tidak hanya bergantung pada sejauh mana mereka menerima dakwah rasul. Tetapi juga secara jelas menyatakan bahwa, perilaku buruk di masyarakat yang dilakukan secara meluas juga akan mendatangkan kehancuran. Informasi tentang sifat dan karakter kehidupan sosial di masa lalu, dapat melatih intuisi masyarakat setelahnya agar mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang telah terjadi sebelumnya.

Al-Quran banyak membahas fenomena yang dapat menghancurkan struktur sosial, seperti pengkhianatan, melalaikan kepercayaan, hubungan tidak benar, penindasan, penipuan, kecurangan dalam urusan bisnis dan lain-lain. Dengan merenungkan kisah-kisah yang sering kita temukan saat membaca al-Quran, kita diajarkan dengan cara yang sangat bijak agar tidak mengulangi kesalahan orang-orang sebelumnya. 

Intinya, setiap muslim yang membaca al-Quran harus selalu merawat keimanan dan memperhatikan perilaku sosialnya. Kisah dari ayat-ayat al-Quran tersebut menyuntikkan pengetahuan rohani ke dalam fenomena sosial yang sering kita temui di kehidupan sehari-hari.

Selvina Adistia
Redaktur Islamramah.co. | Pegiat literasi yang memiliki latar belakang studi di bidang Ilmu al-Quran dan Tafsir. Menuangkan perhatian besar pada masalah intoleransi, ekstremisme, politisasi agama, dan penafsiran agama yang bias gender.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.