Tuma’ninah Menenangkan Jiwa

KhazanahHikmahTuma’ninah Menenangkan Jiwa

Untuk mendapat ketenangan dalam beribadah, memelihara tuma’ninah mesti diupayakan. Shalat yang dilakukan secara terburu-buru, barang tentu membuat kekhusyukan kita berkurang, sehingga ketenangan yang mestinya dicapai dalam shalat minim kita rasakan. Itu sebabnya, memelihara tuma’ninah itu penting agar seseorang dapat tenang jiwanya, yang pada gilirannya akan melahirkan positif thinking setiap kali usia mengerjakan shalat.

Tuma’ninah membutuhkan latihan. Tak sedikit, seseorang dalam shalatnya merasa terburu-buru karena ada pekerjaan yang menanti atau alasan lainnya. Alhasil, shalat yang dididirikan tidak lain sekadar untuk menunaikan kewajiban saja. Sebagai Muslim yang baik, tentu ada naluriah untuk lebih meningkatkan kualitas kita dalam beribadah. Oleh karena itu, ketika ada banyak hal keburukan yang dilakukan dalam kehidupan dan bingung harus memperbaikinya dari mana, orang bijak mengatakan “perbaikilah shalatmu, perbaiki dirimu, maka Allah akan memperbaiki hidupmu”.

Seorang Muslim tidak patut menyoalkan, kalau shalat itu bisa digantikan dengan berbuat baik atau hal yang menurutnya serupa. Shalat hukumnya wajib dan tidak bisa diganggu gugat. Andaikata ada orang yang mengatakan yang penting berbuat baik terhadap sesama lalu tidak melakukan, nalar demikian sangat keliru. Mestinya orang yang jujur tentu akan mengatakan, shalat itu wajib. Kalaupun ia tidak menunaikannya, bukan karena shalatnya yang sudah tidak wajib baginya, melainkan karena ia yang lalai atau culas saja. Pola pikir demikian masih lebih baik, sebab suatu saat ia benar-benar menyadari pentingnya shalat dan tidak lagi meninggalkannya.

Shalat itu sebagai ibadah yang menenangkan. Dalam buku Buat Apa Shalat karya Haidar Baghir (2021), shalat yang diselenggarakan dengan memelihara tuma’ninah kiranya merupakan latihan sekaligus sarana untuk menaikkan tingkatan jiwa kita sehingga mencapai derajat “jiwa yang tenang” itu. Dan jika derajat tenang itu bisa dicapai, niscaya seseorang dapat mengalami keadaan pulang kembali kepada Allah, bahkan sebelum ia mengalami kematian. Dengan kata lain, tuma’ninah benar-benar menjadikan shalat sebagai mi’raj, sebagai wahana pertemuan hamba dengan Tuhannya.

Baca Juga  Cara Gus Dur Mendeteksi Makanan Haram

Ketenangan sangat dibutuhkan bagi manusia. Segala pernak-pernik kehidupan acapkali membuat seseorang dirundung kegelisahan dan kerisauan lantas berputus asa. Memang, orang yang terlalu jauh dari nilai spiritual menjadikan jiwanya gersang, seperti ada ruh yang hilang dalam dirinya.

Baca Juga  Cara Gus Dur Mendeteksi Makanan Haram

Dengan demikian, tuma’ninah dalam shalat mengajarkan kita tentang perlunya memiliki ketenangan dari sumber yang hakiki. Ketenangan batin barang tentu akan mengantarkan kita untuk selalu positif thinking, tidak mudah pesimis. Peran shalat sebagai sumber ketentraman dan kebahagiaan telah dikonfirmasi oleh ilmu pengetahuan modern dan psikologi.

Pada suatu kisah yang populer, Imam Ali bin Abi Thalib terkena anak panah karena peperangan. Ia tidak mampu menahan rasa sakit setiap kali anak panah itu dicabut, akhirnya Rasulullah SAW memerintahkan agar mencabutnya kala Imam Ali sedang shalat. Dan benar, saat Imam Ali mengerjakan shalat anak panah tersebut dicabut oleh dokter hingga darah mengalir deras dari kakinya. Usai mengerjakan shalat, justru ia bertanya, dari manakah darah ini mengalir. Sungguh ia tidak menyadari dan tidak merasa sakit sedikitpun saat penah itu dicabut. Itu artinya, jelas Imam Ali di sini merasakan puncak tuma’ninah yang luar biasa dalam shalatnya.

Kemudian dalam al-Quran Allah SWT juga berfirman, Wahai jiwa yang tenang (muthma’inah). Pulanglah kamu kepada Rabbmu dalam keadaan kamu rela dan Tuhan rela kepadamu. Maka masuklah kamu ke golongan hamba-hambaku. Dan masuklah kamu ke surga-ku (QS. Al-Fajr: 27-30).

Ayat di atas mengisahkan akhir perjalanan jiwa manusia yang telah sampai kembali kepada puncak ketenangan. Pada akhirnya, semoga kita bisa mencapai ketenangan ini melalui shalat, dan menghadap kehadirat Tuhan dengan kerelaan.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.