Setiap hari, pesan-pesan yang tidak jelas kebenarannya muncul di depan layar smartphone kita. Tidak sedikit orang yang sangat bergantung pada informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan seperti itu. Umat Islam kini sampai di zaman yang disebut-sebut ‘penuh ketidakpastian’ (uncertain times), ada juga yang menyebutnya sebagai era ‘matinya kepakaran’. Di masa ini, hoax dan misinformasi dapat berbalik menjadi sesuatu yang dipercaya sebagai kebenaran. Hal itu sangat mengganggu kewarasan masyarakat. Tidak heran, orang jadi cepat emosi, berkonflik, dan salah langkah.

Seorang Muslim harus melindungi dirinya dari caandu sosmed toxic dan menjaga kewarasannya. Bagaimanapun, kita selalu memiliki al-Quran untuk menyirami hati dan pikiran agar tidak mengering, retak, dan layu. Jauh-jauh hari, al-Quran hadir dengan karakteristik yang pasti, jelas, dan terang, sebagai antitesis bagi zaman yang penuh ketidakpastian, Kitab ini tidak mengandung keraguan, petunjuk bagi mereka yang bertakwa (Al-Baqarah: 2). Potensi transformatif dalam firman Allah ini, terletak pada hubungan intelektual dan spiritual kita dengan al-Qur’an.

Tidak diragukan lagi, refleksi sehari-hari yang mendalam pada pesan-pesan yang jelas dan terang akan membantu kita menjaga kewarasan dan hati nurani. Sebagaimana firman-Nya, Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman… (QS. Isra: 82). Tadabur atau merenungkan dan memaknai ayat-ayat al-Quran yang sedang dibaca, merupakan praktik kesalihan yang transformatif. Imam Ḥasan bin Ali RA menginformasikan bahwa, “Orang-orang sebelum kamu melihat al-Quran sebagai pesan dari Tuhan mereka, mereka biasa merenungkannya di malam hari dan mengimplementasikannya di siang hari.” (Al-Tibyan: 54).

Makna al-Quran hadir menginspirasi pembacanya dengan cara yang berbeda pada waktu yang berbeda. Ini bukan karena makna al-Quran yang subjektif, melainkan karena melalui tadabur, makna yang paling relevan akan muncul untuk menjawab masalah atau kebutuhan tertentu dalam kehidupan pribadi kita.

Selama ini, kita mungkin lebih peka untuk memperindah suara ketika membaca al-Quran, mengutamakan kuantitas bacaan untuk mengejar pahala dari setiap huruf-hurufnya, dan menghafalkannya demi menebus level surga setinggi-tingginya. Tetapi, perlu disadari bahwa semua motivasi dalam membaca al-Quran itu, sesungguhnya demi mengantarkan kita pada sesi tadabur. Merdunya Tartil, besarnya pahala hurufnya, dan kemuliaan penghafalnya itu, bukan untuk mengalihkan perhatian orang-orang dari pentingnya memahami makna-makna al-Quran, melainkan untuk memfasilitasi tadabur, dan membawa kita pada tujuan yang lebih besar, yakni memetik petunjuk-petunjuk al-Quran.

Jadi, saat sedang membaca dan mendengarkan al-Quran, sediakan jeda sejenak untuk berinteraksi lebih dalam dengan apa yang dibaca. Menurut banyak orang arif, pesan-pesan al-Quran itu akan mengalir seperti percakapan kita dengan teman, ia akan mengungkapkan rahasianya pada kita yang setia dan dekat dengannya. Ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan saat mengeksplorasi, menelusuri, dan merefleksikan makna al-Quran. Di antaranya, memperhatikan tema-tema umum al-Quran, memahami konteks ayat, dan berkaca atau menarik perbandingan dengan diri kita.

Pada dasarnya, al-Quran memiliki banyak tema dan tujuan umum yang harus kita ingat setiap kali kita merenungkannya. Seperti, menunjukkan kesempurnaan sifat dan tindakan Allah, hukum-hukum-Nya yang penuh keadilan, apresiasi terhadap perilaku baik, kritik terhadap perbuatan jahat, dan deskripsi tentang surga dan api neraka. Ini adalah beberapa tema al-Quran sering berulang yang perlu diperhatikan oleh pembaca.

Komponen lain untuk mengoptimalkan tadabbur kita sehari-hari adalah memahami konteks ayat. Kita perlu mengidentifikasi antara surat Makkiyah dan Madaniyah, sebab keduanya menyimpan konteks yang berbeda. Surat-surat Makiyyah misalnya, turun sebelum hijrah, dalam suasana penyembahan berhala, penganiayaan, dan kekacauan. Karena itu, ayat-ayatnya bersuara tentang penguatan akidah, keyakinan, optimisme, kesabaran, dan ketekunan. Sedangkan, ayat-ayat Madaniyah, turun di tengah-tengah berdirinya negara dan masyarakat. Jadi, banyak ayat yang mengatur stabilitas sosial, persaudaraan, dan peningkatan kesejahteraan. Merenungkan konteksnya akan memberikan penghayatan yang melampaui makna literalnya.

Selanjutnya ialah merefleksikannya, yaitu membandingkan diri maupun kondisi kita dengan para nabi dan tokoh-tokoh yang dikisahkan di dalam ayat-ayat yang sedang kita baca. Merefleksikan sebuah ayat yang berbunyi, Dan ingatlah, ketika Ibrahim membangun fondasi Baitullah bersama Ismail seraya berdoa, “Ya Tuhan kami terimalah amalan kami…” (QS. Al-Baqarah: 127), semestinya menyentuh ego kita semua yang terlalu cepat puas atas perbuatan yang belum seberapa layak untuk diterima. Sebagaimana Wuhayb bin al-Wardi menangis dalam tadabburnya pada ayat tersebut dan berkata, “ia adalah kekasih Allah, yang membangun Rumah Allah yang terbesar, namun ia memohon agar itu diterima darinya” (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 147).

Selain itu menyandingkan suatu adegan dalam al-Quran, dan membandingkannya satu sama lain, juga akan memperdalam penghayatan kita. Misalnya, saat kita menjumpai kisah Nabi Ibrahim AS siap menyembelih putranya tanpa ragu-ragu, sementara Bani Israil enggan menyembelih sapi pilihan mereka. Sehingga kita dapat memetik kesimpulan bahwa berislam itu lebih dari sekedar melaksanakan perintah, tetapi juga memiliki kebesaran jiwa. Setiap pengorbanan hanyalah detail, penyerahan hati dan jiwa itulah yang mendefinisikan seorang sebagai hamba Allah SWT.

Perlu dicatat bahwa, tadabur al-Quran secara mandiri tidak untuk melakukan interpretasi Al-Qur’an (tafsr), apalagi penarikan kesimpulan hukum fikih. Bagaimanapun, disiplin ilmu ini tidak boleh dimasuki tanpa kepakaran dibidang tersebut. Meskipun begitu, kita yang masih awam tidak boleh juga mengabaikan pentingnya tadabur al-Quran, dengan alasan bahwa kita tidak ahli dalam studi al-Quraan.

Kita tetap bisa merefleksikan, intropeksi diri, dan membangkitkan spiritualitas melalui al-Quran, meskipun bukan seorang ahli. Jika kita belum dapat mengambil manfaat dari hujan lebat petunjuk-Nya, jangan pernah meremehkan hujan gerimis hidayah-Nya ke dalam hidup kita. Dari sini, kita harus waspada pada manipulasi setan yang menghalangi upaya tadabbur al-Quran, khususnya di era sekarang di mana fokus dan perhatian kita dapat teralihkan dengan amat cepat.

Oleh karena itu, memahami pesan-pesan Allah dan memetik petunjuk-petunjuknya, tentu dapat menjamin kewarasan dan ketenangan batin kita. Di dunia yang penuh ketidakpastian ini, kita selalu membutuhkan pesan-pesan otentik, pasti, dan dapat kita percaya seluruh isinya, yakni al-Quran. Dari pada terlalu serius memperhatikan grup Whatsapp setiap hari, lebih baik kita beralih pada ketenangan diri dalam tadabur al-Quran, dan memperoleh bimbingan-Nya.

%d blogger menyukai ini: