Pentingnya Dakwah Berwawasan Budaya

KhazanahPentingnya Dakwah Berwawasan Budaya

Setiap Muslim berhak berdakwah, kita memang dianjurkan untuk menyebarkan kebenaran dan kebaikan ajaran Islam demi mendorong kemajuan peradaban umat manusia. Akan tetapi, hal itu harus didukung oleh kemampuan yang baik dalam menyampaikan pesan-pesan otentik dari Islam sebagai mana para nabi dan rasul. Seorang ulama, dai, atau pendakwah yang tidak menghargai budayanya sendiri, sebenarnya mencerminkan buruknya pengetahuan aktual dan rendahnya kualitas dakwah di dalam dirinya.

Orang yang tidak berbudaya mudah melanggar norma sosial dan terjebak perilaku menyimpang. Jika dilakukan oleh seorang dai, hal demikian tidak hanya menjatuhkan status mereka sendiri di mata publik, tetapi lebih dari itu, melunturkan kepercayaan masyarakat pada dakwah Islam. Ajaran Islam menjadi kehilangan daya tariknya karena dipresentasikan oleh orang-orang yang tidak sah, yang tidak malu membuat keributan, permusuhan, dan kontroversi.

Maka dari itu, penting sekali untuk menyegarkan eksistensi dakwah Islam kita, dan memandu masyarakat agar tidak mudah tertipu dengan dakwah palsu. Dakwah Islam yang dapat dipercaya publik, idealnya, merupakan ajaran Islam yang kontekstual dan relevan bagi jati diri setiap orang dengan latar belakang budaya dan bangsa apapun, bukan yang menyeret kita ke dalam budaya asing dan meninggalkan keindahan budaya yang telah kita miliki.

Salah satu ayat al-Quran yang secara fundamental menegaskan pentingnya dakwah kontekstual sesuai dengan seting budaya kita sendiri ialah Ibrahim ayat 4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (QS. Ibrahim: 4). Perlu dipahami di sini bahwa, ‘bahasa yang dipahami kaumnya’, bukan hanya bermakna berbicara dalam bahasa asli. Seorang pendakwah dapat berbicara dengan bahasa yang sama, namun terlihat tidak dapat menyatu dengan kaumnya karena mengadopsi mode busana asing, pandangan budaya kaum lain, atau atribut yang sebenarnya bukan tuntutan Islam. 

‘Bahasa kaumnya’ tidak terbatas pada ucapan. Tetapi Lebih dari itu, yakni kedekatan budaya dan keakraban. Artinya, da’i dan pesan-pesannya harus relevan dan berhubungan erat dengan masyarakatnya, sebagaiman dakwah para Nabi dan Rasul. Maka dari itu, Kearifan dalam dakwah  di Tanah Air,  harus bertolak dari dua hal penting. Yakni, kita sebagai orang Indonesia yang beragama Islam, sekaligus orang Islam yang merupakan warganegara Indonesia. Negeri ini adalah rumah kita, sehingga muatan dakwah yang kita butuhkan ialah ajaran Islam yang mampu mengembangkan budaya bangsa kita sendiri. 

Setidaknya, kita dapat menyegarkan bahasa dakwah dengan meminimalisir hiasan ‘urf’ atau budaya yang tidak diperlukan dari bangsa lain. Misalnya, atribut kearaban yang sebenarnya bagian dari budaya, namun seringkali dianggap sebagai identitas Islam. Meminimalisir budaya lain itu penting agar tidak menciptakan keterasingaan atau sekat di antara masyarakat kita sendiri.Seorang dai perlu mengapresiasi dan menghargai urf atau kearifan masyarakatnya sendiri, agar menciptakan ikatan sosial yang kuat dan bertahan lama. Inilah yang telah dilakukan oleh para wali yang telah memimpin penyebaran Islam di negeri kita.

Baca Juga  Syekh Abdul Qadir al-Jailani: Menyikapi Pujian dan Celaan seperti Pergantian Musim
Baca Juga  Grand Syaikh al-Azhar: Al-Azhar Tidak Mengajarkan Paham Takfiri

Dakwah Walisongo merupakan dakwah yang sukses, ramah, dan menjadi catatan istimewa dalam sejarah penyebaran Islam. Salah satu inti dakwah mereka adalah menghindari konflik-konflik dengan cara melakukan pendekatan budaya. Di antaranya, Sunan Kalijaga menggunakan kesenian wayang dan gamelan sekatennya untuk menarik perhatian masyarakat pada ajaran Islam, dan Sunan ampel memperbaiki etika masyarakat masa itu dengan menanamkan perinsip Moh-Limo, yaitu sebuah filosofi kehidupan berbahasa jawa untuk masyarakatt jawa, yang sebenarnya mengandung ajaran Islam.

Hal demikian tentu diilhami oleh cara dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Beliau merintis dan memperkuat kedudukan Islam di tengah peradaban Jahiliyah dengan tetap menghargai segala kebudayaan baik yang telah berkembang di tengah masyarakatnya. Karakteristik dakwah inilah yang terus dilestarikan oleh kyai, tuan guru, dan ulama kita diberbagai daerah negeri kita.

Jadi, perlu kita pahami lebih lanjut di sini, kehilangan keindahan budaya sendiri bukanlah hasil dakwah yang ideal, sebab, Islam sifatnya esensi dan bukan sekadar eksistensi. Ketidaktahuan tentang urf geografis, yang meliputi adat istiadat, norma atau pandangan hidup suatu kaum, semestinya tidak muncul dari dakwah yang mengaku dibimbing oleh sunnah kenabian. 

Tentunya, setiap individu dan situasi itu berbeda-beda. Tetapi ajaran umum dakwah selalu fokus pada adaptasi ‘urf lokal yang dewasa dan sosiologis, serta kesadaran tentang akhlak kenabian dalam orientasi dakwah. Jadi, strategi dakwah yang sangat membanggakan dalam peradaban Islam ialah akulturasi bijak dari sistem syariah, yang tidak menyebabkan keterasingan di ‘rumah sendiri’ yang sebenarnya tidak beralasan secara agama.

Kesimpulannya, kita harus mengingat bahwa ilmu yang diajarkan dan disampaikan oleh para ulama dan dai adalah sakral, agung dan mulia. Mereka harus benar-benar membawa pesan dari al-Quran yang mulia (QS. Al-Waqiah: 77), bukan ideologi transnasional atau budaya manapun. Untuk itu, para pendakwah yang dapat kita percaya ialah ulama dan dai yang mencontohkan keluhuran dan martabat dirinya, dan mampu mengontekstualisasikan ajaran Islam dengan kita. Pesannya mulia, pembawa pesannya juga harus mulia. 

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.