Generasi milenial merupakan tulang punggung bangsa yang memiliki kepercayaan tinggi dalam menghadapi tantangan. Mereka memandang dan meyakini agama sebagai sesewatu yang sangat penting bagi kehidupan mereka. Sayangnya, meski memandang agama sebagaai suatu hal yang amat penting, namun yang terjadi mereka lebih menonjolkan identitas keagamaan mereka ke publik sebatas simbol matrial belaka, tanpa dibarengi dengan perilaku layaknya orang beragama.

Sebagian generasi milenial masih belum siap menerima perbedaan beragama, bahkan enggan untuk berjalan beriringan dengan yang tidak seagama. Kericuhan-kericuhan yan terjadi dibeberapa daerah, banyak diakibatkan karena sentimen agama. Bahkan, berdasarkan pengalaman saya bermedia sosial seperti Facebook, masih sangat banyak kaum milenial yang berdebat saling menyalahkan dan mengkliam agama miliknya yang paling benar, yang lain salah. Namun yang lebih parahnya, sesama Muslim saling mengkafirkan. Banyak diantara lakon dalam kasus tersebut adalah kaum milenial yang sedang bersemangat mencari jati diri, menemukan kebenaran sejati.

Sebagai generasi mayoritas, penting bagi kita menjaga dan mengarahkan generasi milenial agar tidak terjebak ajaran ekstreamisme, baik ekstream kanan maupun ekstream kiri. Moderasi beragama merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukuan beragama dalam sekala nasional dan global. Dengan menolak ekstreamisme dalam beragama, maka akan tercipta keseimbangan hidup dan terpeliharanya peradaban yang damai.

Salah satu prinsip dasar dari moderasi itu sendiri ialah adil dan seimbang. Dan moderasi ini saya meyakini, ada pada tiap-tiap agama. Moderasi beragama mendorong kesadaran untuk saling menghargai perbedaan. Lingkungan generasi milenial seperti kampus dan sekolah-sekolah mesti mengajarkan moderasi beragama. Karenanya, moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara sikap pengamalan agama sendiri, dengan sikap menghormati keyakinan orang lain yang berbeda.

Generasi milenial adalah calon pemimpin dimasa yang akan datang, maka perlu adanya pemahaman lebih jauh mengenai moderasi beragama. Hal ini menjadi penting, supaya generasi milenial memiliki sikap santun, mencintai kerukunan, dan menghormati perbedaan yang ada. Dengan menanamkan moderasi beragama sejak dini, harapannya kita menjadi bangsa yang kokoh, tidak mudah terpecah belah. Apalagi berpecah-belah hanya karena konflik agama.

Menanamkan moderasi agama bagi generasi milenial tentu harus menyesuaikan cara berfikir dan ruang lingkup kaum milenial. Andai menempatkan tidak pada tempatnya, khawatir suatu hal yang nilainya permata, berakhir seperti noda yang tak berharga. Ada beberapa hal yang sekiranya sesuai dengan generasi milenial dalam menebarkan moderasi beragama:

Pertama, memanfaatkan media sosial. Bisa dikatakan, generasi milenial adalah generasi serba digital serba instan dan generasi yang paling banyak mengkonsumsi media sosial. Mengutip data dari Data Reportal, Senin (15/2/2021), Indonesia memiliki pengguna internet untuk mengakses media sosial sebanyak 202,6 juta jiwa. Media sosial seperti Youtube, Tik-tok, Instagram, Whatsap, Twitter, Line, Snackvideo, dan lainnya, sangat mungkin dijadikan sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat.

Selain itu, menebarkan moderasi beragama di media sosial lewat musik yang banyak diakses di media-media sosial. Bukan hal asing jika menyinggung musik, generasi milenial kita sangat fanatik dengan grup-grup musik dengan berbagai genre. Jika dunia permusikan diisi dengan lagu-lagu yang memuat syair-syair yang moderat, mengajak pada hal-hal positif, perlahan tapi pasti akan dapat mempengaruhi jalannya pemikiran milenial terhadap pentingnya moderasi beragama. Terahir, menebarkan moderasi beragama yang berkaitan dengan internet dan media sosial yakni melalui game online. Hal yang bisa dilakukan diantaranya membuat karakter tokoh-tokoh moderat. Mengapa game online bisa menjadi lahan menebarkan moderasi beragama bagi milenial? Karena disanalah sebagian besar dunia milenial hidup dan berintraksi dengan teman-temannya. Bila konten-konten game online mampu diiringi dengan konten yang moderat, maka pemahaman agama yang santun, ramah dan penuh cinta akan mudah diterima oleh milenial.

Kedua, melibatkan generasi milenial dalam bermacam kegiatan di masyarakat, semisal istighosah, peringatan Maulid Nabi dan Isra Mi’raj, kerja bakti, dan lainnya. Ketiga, mengenalkan generasi milenial kepada kearifan lokal. Ini penting dilakukan sedini mungkin, untuk menetralisir masuknya budaya luar yang dapat mempengaruhi cara pandang generasi milenial terhadap pemahaman agama. Kita tau, budaya-budaya lokal memiliki nilai-nilai luhur yang bersumber daripada agama dan kitab suci, yang di dalamnya mengajarkan persatuan dan perdamaian.

Nilai luhur budaya Nusantara sendiri, menurut Koentjaraningrat merupakan kristalisasi dari lima masalah kehidupan manusia, yakni hakikat dari hidup manusia, hakikat karya manusia, hakikat dari kedudukan manusia dalam ruang dan waktu, hakikat hubungan manusia dengan alam sekitar, dan hakikat dari hubugan manusia dengan sesamanya. Jelas, nilai-nilai tesebut ada dalam ajaran agama, khususnya Islam, oleh karenanya, amat penting untuk dikenalkan pada generasi milenial.

Selanjutnya yang keempat ialah, menghadirkan komunikasi atau dialog yang intens tentang pemahaman agama dalam sudut-sudut ruang milenial, utamanya dalam keluarga. Keluarga sebagai pusat pembinaan karakter positif mesti memanfaatkan posisinya secara optimal dalam rangka menerapkan moderasi beragama.

Sebagai generasi penerus, kaum milenilal layak mendapatkan pemahaman yang serius tentang moderasi beragama. Untuk apa? Untuk menjaga stabilitas jalannya hidup berbangsa dan bernegara. Kita tentu tidak ingin, mendapati generasi milenial yang kaku terhadap sebuah perbedaan dan bercerai berai karena tak siap dengan kemajmukan. Dengan moderasi beragama, generasi muda akan tangguh dan tidak mudah terpecah belah.

Jika kaum milenial telah memahami moderasi beragama, haqul yaqin, kita tidak lagi memandang rendah agama lain, tidak memandang agamanya apa ketika akan berbuat kebaikan, akan merangkul perbedaan demi terciptanya keharmonisan hidup. Intinya, moderasi beragama akan membawa kita pada kebaikan bersama. Gus Dur sang guru bangsa pernah mengingatkan; “Tidak penting apa agama dan sukumu, kalau kamu bisa melakukan seseuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”.

Generasi milenial merupakan harapan bangsa, jangan biarkan terjerumus dalam kefanatikan yang salah. Moderasi beragama menjadi suatu yang urgen untuk diterapkan pada generasi milenial. Bahwa dalam memandang sebuah perbedaan, agama mengajarkan kita untuk bersikap berada di tengah-tengah. Pada generasi milenial, keberadaan pemikirian moderasi beragama harus sesuai porsi dan tempatnya. Moderasi beragama menjadi kunci generasi milenial menjawab semua tantangan.

%d blogger menyukai ini: