“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Namun, perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”, demikian pesan Bung Karno yang mesti diingat oleh segenap masyarakat bangsa Indonesia. Apalagi, jika melihat perkembangan globalisasi dengan segala persoalannya. Rasa-rasanya pesan Bung Karno sangat relevan untuk kita renungkan bersama. Sebab, dalam kondisi dan situasi apapun kemerdekaan harus tetap dijaga.

Kemerdekaan Indonesia 75 tahun yang lalu merupakan pencapain adiluhung. Bagaimana tidak? Kemerdekaan, tidak kita dapatkan dengan mudah, jutaan nyawa pribumi menjadi korbannya. Untunglah kita memiliki pahlawan-pahlawan yang hebat dan tangguh. Para pendiri bangsa yang gigih dan tekun dalam memperjuangkan kemerdekaan atas penjajahan. Bung karno, misalnya, bapak proklamator kita, yang namanya tidak kalah besar dan harum dari bangsannya. Ia menjadi sosok sentral kemerdekaan, tidak saja untuk Indonesia, tetapi juga bangsa-bangsa di dunia. Mau diakui atau tidak, Bung Karno merupakan sosok pelopor kemerdekaan bangsa-bangsa di Asia-Afrika.

Diakui Mehdawi, duta besar Palestina untuk Indonesia, bahwa mayoritas negara Asia dan Afrika mengalami penjajahan pada tahun 1955, kemudian dapat terbebas melalui sebuah forum konferensi Asia-Afrika (KAA). Dan kita ketahui bersama, Bung Karno merupakan promotor berdirinya KAA. Konferensi Asia Afrika diawali dari ide Bung Karno, yang disampaikan oleh Ali Sastroamidjojo pada Konferensi Colombo. Idenya datang karena setelah Perang Dunia II, banyak negara yang masih bersitegang karena adanya Blok Barat dan Blok Timur. Di Konferensi Colombo (Srilanka), pemikiran membuat KAA menjadi bahan pembicaraan utama.

Padahal jika dilihat, di usia sembilan tahun kemerdekaan, rasa-rasanya sulit untuk Indonesia dapat dipercaya sebagai negara yang besar dan berpengaruh. Namun, memang demikian kenyataannya, berkat Bung Karno Indonesia disegani. Bahkan, menjadi energi positif terhadap negara-negara ketiga untuk dapat merdeka.

Konferensi Asia-Afrika 1955 menjadi pijakan awal Bung Karno untuk menunjukkan eksistensi Indonesia di mata dunia internasional. Indonesia tidak ingin masuk dalam polarisasi negara Barat yang saat itu dipimpin oleh Amerika Serikat, maupun negara Timur yang kala itu dimotori oleh Uni Sovyet. Perang dingin antara dua kutub dunia yang menimbulkan ketegangan dunia saat itu membuat Indonesia yang dipimpin oleh Bung Karno bersama lima pemimpin dunia membentuk dan melahirkan gerakan Non-Blok. Itulah fakta sejarah yang tak dapat terbantahkan hingga kapan pun, bahwa Bung Karno memiliki peran yang amat besar dalam kancah dunia internasional khususnya dalam kemerdekaan negara-negara Asia-Afrika

Pada dasarnya, apa yang diperjuangkan Bung Karno terhadap kemerdekaan baik untuk Indonesia, maupun di dunia bukanlah tanpa alasan. Tentu, kesadaran ini tidak lahir begitu saja, tetapi melalui proses dan perjuangan yang panjang dan berat. Pengalaman dari lamanya Tanah Air dijajah, kebodohan dipelihara, dan kemanusiaan ditindas menjadi tolak ukur Bung Karno gigih memperjuangkan kemerdekaan. Sebab, kewajiban mendukung kemerdekaan sebuah negara merupakan dasar dari kemanusiaan.

Dikatakan Bung Karno, dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (1965), dalam wawancaranya bersama Cindy Adama mengatakan, “aku ingin agar Indonesia dikenal orang. Aku ingin dunia tahu, bagaimana rupa orang Indonesia, dan melihat bahwa kami bukan lagi ‘bangsa yang pendir’, seperti orang Belanda berulang-ulang menyebut kami. Bukan lagi inlander goblok yang hanya pantas untuk diludahi dan bukan lagi penduduk kelas dunia”. Maka dari itu, di mata Bung Karno merdeka merupakan harga mati.

Manusia dilahirkan dengan keadaan merdeka, maka mendukung kemerdekaan merupakan dasar dari kemanusian. Hal ini, selaras dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Adanya KAA besutan Bung Karno dan beberapa tokoh revolusi dunia menjadi sangat penting artinya bagi negara-negara Asia-Afrika, yang kala itu bernasib sama, negara yang dijajah. Karena itu, tidak mengherankan jika sampai per-hari ini, Indonesia selalu keras dalam menolak aksi kolonialisme (penjajahan), seperti yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Hal ini, tentu tidak semata-mata karena Palestina negara berpenduduk Muslim, tetapi lebih kepada meneruskan perjuangan yang telah Bung Karno tanamkan. Perjuangan melawan segala penindasan dan penjajahan, tanpa harus melihat negara itu berpenduduk Muslim atau bukan. Seperti itulah, hakikat perjuangan Bung Karno, perjuangan atas kemerdekaan yang selalu ditunjukkan di kancah internasional.

Dalam hal bilateral terkait dengan perdamaian dunia, misalnya. Sebagai manifestasi dari politik bebas aktif yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945, mata internasional sudah berkali-kali menunjukkan peran serta bangsa Indonesia sebagai salah satu pelopor untuk perdamaian dunia sejak dulu.

Singkat kata, atas nama keadilan dan kemanusiaan, kemerdekaan harus tetap dijaga dan diperjuangkan. Di bulan Bung Karno kali ini, amat penting untuk kita dapat kembali mengingat dan merenungkan perjuangan-perjuangan Bung Karno terhadap dunia. Bung Karno telah menanamkan benih semangat kemerdekaan, saatnya kita memupuk dan menjaga, sehingga dapat dipetik hari kebahagiaan di masa depan. Selamat ulang tahun Bung Karno, pelopor kemerdekaan negara-negara Asia-Afrika.

%d blogger menyukai ini: