Ramadhan merupakan  bulan yang sangat istimewa. Bulan yang hadir satu kali dalam setahun ini begitu mengagumkan. Kedatangannya disambut suka cita lalu kepergiannya banyak yang menangisi. Laiknya tamu agung, Ramadhan telah lama dinantikan kehadirannya oleh segenap umat Muslim di dunia.

Keistimewaan Ramadhan makin terasa jika dilihat dari kemuliaannya yang bersifat multidimensional. Pada dasarnya, manusia yang beriman dan percaya kepada Allah Swt, maka ia harus melaksanakan dan menjauhi larangan-Nya. Pekerjaan melaksanakan perintah Allah SWT pada umumnya dikualifikasikan sebagai ibadah, yaitu upaya seseorang untuk mendekatkan diri dengan Allah. 

Sementara, Ibadah menurut para ahli fiqih, diklasifikasikan ke dalam dua hal, yaitu pertama ibadah yang bersifat individual, atau disebut syari’ah mahdhah atau qashirah, yaitu ibadah yang manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri. Kedua, ibadah yang bersifat sosial, yaitu ibadah yang manfaatnya menitik beratkan kepada kepentingan umum.


Bagaimana Islam meyikapi dua dimensi ibadah, yaitu individual dan sosial ini? Di dalam kaidah ushul fiqih disebutkan: “Ibadah yang bermanfaat kepada orang lain lebih utama dari pada ibadah yang manfaatnya hanya kepada diri sendiri”.  Di sini lah pentingnya kita harus teliti memahami konteks kaidah ini, jangan sampai disalah-artikan dengan suatu pengertian lebih baik kita beribadah yang muta’addiyah (sosial) saja, dan meninggalkan atau melalaikan ibadah qashirah (individual).

Namun jika dalam kenyataan kita menghadapi sesuatu yang dilematis (ta’arudl) antara ibadah yang qashirah dan ibadah yang muta’addiyah, maka dari itu lebih  diutamakan untuk memilih yang muta’addiyah, ini dengan catatan sepanjang yang qashiroh tidak berupa fardlu ‘ain.

Bahkan, Rasulullah SAW menyebutnya Ramadhan  sebagai Syahr al-Muwasah atau bulan kepedulian sosial. Pendidikan dan pelatihan yang sangat komprehensif di mana tidak sekedar kecerdasan emosional-spiritual saja, tetapi juga kepekaan dan solidaritas sosial.

Penguatan dan solidaritas sosial itu juga salah satu jihad di bulan Ramadhan. Karena berusaha saling membingkai kerukunan dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari. Kita diajak bagaimana mengoptimalkan sosialisasi dengan baik, yang kemudian akan bisa mengembangkan pentingnya kebersamaan yang mendamaikan. Pun dengan begitu akan selalu terjaga sosialisasi dan komunikasi yang saling mendukung untuk menjaga kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara

Sebagaimana keutamaan bulan Ramadhan, alangkah bahagianya jika dalam hidup ini kita bisa melaksanakan ibadah yang memberikan manfaat atau bermanfaat bagi orang lain, karena orang seperti itulah yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai sebaik-baiknya manusia. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang lebih bermanfaat bagi orang lain.” (HR ath-Thabrani).

Alhasil, ternyata memang banyak keutamaan dan nilai baik dari bulan suci Ramadhan. Demikian juga ibadah puasa mengajarkan kita bukan hanya untuk beribadah secara individu, tetapi juga ibadah sosial.

%d blogger menyukai ini: