Sedekah adalah salah satu amal baik yang tidak hanya berbuah pahala. Melainkan juga membangun dan meningkatkan solidaritas sosial. Bahkan, sedekah termasuk ke dalam upaya untuk mengatasi ketimpangan sosial. Menariknya, sedekah yang pada dasarnya merupakan ibadah sosial, tidak lebih digandrungi daripada ibadah individual, seperti shalat malam, membaca al-Quran, dan lain sebagainya. Padahal, Ramadhan sebenarnya adalah momen, di mana pahala sedekah dilipatgandakan.

Keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan banyak dijelaskan di dalam sumber hukum Islam yang kedua, yaitu hadis Nabi. Salah satunya diriwayatkan dari Anas ibn Malik radhiyallahu’anhu, ia berkata, bahwa sahabat bertanya, “wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?” Rasulullah SAW menjawab, sedekah di bulan Ramadhan [HR Tirmidzi].

Tidak hanya sekadar menyebutkan keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan. Faktanya, Rasulullah SAW memanifestasikan pula keutamaan tersebut dalam keseharian. Para sahabat bersaksi, beliau adalah orang yang paling dermawan. Namun, kemurahan hati atau kedermawanan Rasulullah berlipat ganda di bulan Ramadhan. Melebihi bulan-bulan lain selainnya.

Kita dapat membaca salah satu kesaksian sahabat dalam sebuah hadis shahih. Dari ibn Abbas, ia berkata, “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan saat beliau paling dermawan adalah di bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemui beliau. Malaikat Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam dalam bulan Ramadhan untuk saling mempelajari al-Quran. Pada saat itu, Rasulullah lebih dermawan dalam melakukan amal kebajikan melebihi (cepat dan luasnya) hembusan angin” [HR Bukhari & Muslim].

Hadis-hadis tersebut membuktikan dua hal. Pertama, perkataan yang keluar dari lisan Rasulullah bukan sekadar perintah, tetapi perkataan itu adalah dakwah (ajakan). Sebab Rasulullah tidak hanya menyuruh sahabatnya dan para pengikutnya untuk bersedekah di bulan Ramadhan, tetapi beliau menjadi teladan atau menjadi orang yang paling dermawan di bulan tersebut.

Tak ayal, tindakan Rasulullah SAW sejalan dengan perkataan yang disampaikannya kepada para sahabat. Dakwah inilah yang seharusnya dipraktikkan oleh para muballigh dan dai di masa sekarang. Tidak hanya sekadar ucapan atau perkataan saja yang disampaikan, tetapi diiringi pula dengan perbuatan dan tindakan dalam keseharian.

Kedua, meskipun sedekah itu baik dilakukan kapan saja, tetapi sedekah yang paling utama adalah sedekah yang dikerjakan di bulan Ramadhan. Semua sedekah yang dikeluarkan itu baik. Hanya saja, di bulan Ramadhan, banyak bonus yang akan didapatkan kaum Muslim yang gemar bersedekah. Sebab dalam al-Quran dijelaskan, bahwa kebaikan yang dikerjakan akan dilipatgandakan ganjarannya oleh Allah SWT. Secara sederhana, pelaku sedekah, baik itu laki-laki maupun perempuan dijanjikan pahala yang berlimpah [al-Hadid: 18].

Secara khusus, Nabi Muhammad SAW berpesan dalam sebuah hadis, siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun [HR Tirmidzi].

Hadis ini menjelaskan, bagaimana limpahan keberkahan dan pahala diberikan kepada orang-orang yang bersedekah di bulan Ramadhan. Seseorang yang bersedekah atau memberi makan orang yang berpuasa mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa cukup membuktikan, bahwa momen dilipatgandakannya pahala bersedekah adalah di bulan Ramadhan.

Dengan demikian, Ramadhan adalah momen di mana pahala orang bersedekah atau berdonasi dilipatgandakan. Di samping memberikan makan orang yang berpuasa, bersedekah juga dapat berupa memberikan harta, baik banyak, maupun sedikit kepada orang lain. Bukan hanya uang, tetapi dapat pula berupa baju atau barang-barang lain yang dibutuhkan orang lain. Untuk itu, manfaatkanlah momen Ramadhan untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan.[]

%d blogger menyukai ini: