Sebelum Ramadhan dikenal sebagai bulan puasa (Syahr al-Shiyam), lebih dulu Ramadhan dikenal dengan bulan diturunkannya al-Quran (Syahr al-Quran). Kemudian puasa masuk dalam kategori rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim selama bulan Ramadhan. Semestinya, bulan Ramadhan lebih terkait dengan al-Quran ketimbang puasa.

Keistimewaan Ramadhan yang disebut Syahr al-Quran adalah keistimewaan yang luar biasa atas turunnya al-Quran di bulan suci ini. Bahkan menurut perawi hadits, Watsilah bin al-Aqsa, bahwa Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat pada malam ke-6, Injil pada malam ke-13, Zabur pada malam ke-18, dan Al-Quran pada malam ke-24 (Dr. KH Ahsin Sakho Muhammad, 2017: 227). Keistimewaan bulan Ramadhan, lebih disebabkan oleh peristiwa agung diturunkannya al-Quran. Syahr al-Shiyam menjadi pelengkap yang utuh perihal kesucian bulan Ramadhan.

Turunnya al-Quran sebagai kalamullah (ucapan Allah), telah mengalami beberapa proses dalam turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Allah menyampaikan firman kepada Malaikat Jibril, berdasarkan pemahaman Malaikat Jibril, disampaikanlah firman Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui instrumen bahasa Arab.

Proses selanjutnya adalah Nabi Muhammad SAW menyampaikan firman Allah kepada para sahabat dan kaum Muslim. Berbeda dengan proses kalam dari Malaikat Jibril, Nabi Muhammad SAW menyampaikan, menafsirkan maksud dari ayat, hingga mencontohkannya secara praksis dalam kehidupan sosialnya.

Proses selanjutnya adalah pengumpulan ayat-ayat al-Quran pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW. dari para penghafal seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang paling banyak memberikan dan mengumpulkan ke dalam pelepah qurma, kesaksian, dan pembentukan mushaf. Pada proses selanjutnya, banyak terjadi perdebatan di antara para sahabat. Misalnya perdebatan itu seputar perbedaan qiraat (bacaan), jumlah mushaf yang dikirim ke daerah, dan lain sebagainya. Setelah proses itu semua selesai, jadilah mushaf seperti yang kita baca sekarang ini.

Kemudian proses yang terakhir, yakni penerjemahan dan penafsiran. Tafsir dan terjemah disesuaikan dengan berbagai bahasa di seluruh dunia yang tentu saja menyentuh aspek lokalitas suatu tempat. Terjemah, makna, interpretasi, dan tafsir tertentu, kadang-kadang tidak sama. Tetapi sehebat apapun seseorang menafsirkan al-Quran, kualitasnya tidak akan sama dengan kalamullah yang ditransfer ke Jibril lalu ke Nabi Muhammad SAW.

Tafsir, makna, dan pemahaman terhadap teks al-Quran berbeda-beda, namun perbedaan tersebut sebagai khazanah dan mozaik yang memperkaya pemahaman tentang Islam. Bagaikan berlian yang bersinar berbeda warna, menerangi dan memancarkan cahaya sesuai dengan sudut pandang masing-masing yang dapat disesuaikan. Prof. Quraish Shihab mengatakan, al-Quran merupakan sumber baca yang begitu luas dan luar biasa, bukan hanya karena sejarahnya, tapi juga ayat demi ayat, segi masa, musim, dan waktu-waktu turunnya.

Karena menjadi sumber baca, al-Quran yang turun pada bulan Ramadhan ini merupakan petunjuk, pedoman, dan penuntun umat manusia. Sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Quraish Shihab bahwa al-Quran bertujuan, pertama, membersihkan akal dan menyucikan jiwa. Kedua, mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga, menciptakan persatuan dan kesatuan; kesatuan ilmu, iman, rasio, kesatuan sosial-kehidupan, ekonomi, dan politik. Keempat, al-Quran mengajak seluruh umat manusia berpikir sekaligus bekerja sama dalam menjaga keteraturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kelima, menghapus kemiskinan materi dan kemiskinan spiritual, penyakit kebodohan, penderitaan, dan seluruh aspek penindasan manusia. Keenam, rahmat dan kasih sayang melalui tegaknya kebenaran dan keadilan sosial. Ketujuh, menciptakan ummatan wasathan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kedelapan, menciptakan peradaban manusia melalui penekanan ilmu dan teknologi, dengan panduan cahaya Illahi.

Bagi umat Islam, pengaruh al-Quran dalam menjalani kehidupan yang penuh cinta dan kasih sayang jika kita melihat sejarah peradabannya. Al-Quran adalah bukti cinta Allah kepada manusia, dan manusia kepada Allah. Tentu kita berharap bisa dekat dengan Allah. Hal itu bisa dilakukan melalui medium dzikir, bermunajat, dan tentu saja membaca sekaligus mengamalkan al-Quran. Apalagi di bulan turunnya al-Quran, bulan suci Ramadhan (syahr al-Quran).

Karena itu, menurut ulama terkemuka dari Suriah, Syaikh Dr. Al-Buthy, bahwa tugas manusia di bumi ini adalah berupaya semaksimal mungkin untuk mempertahankan cinta Allah yang melahirkan kehormatan dan kemuliaan ini. Melalui petunjuk al-Quran dan sunnah, manusia menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Maka kita akan memperoleh cinta dan ridha Allah. Al-Quran juga memiliki dimensi cinta antar sesama manusia. Meski begitu, Syaikh Dr. Al-Buthy menegaskan bahwa al-Quran “mewanti-wanti” agar ia tidak menjadikan cintanya kepada yang lain melebihi atau sepadan dengan cintanya kepada Allah (Dr. Al-Buthy, Al-Quran Kitab Cinta, 2010: 75).

Tidak dapat dimungkiri, sebagian umat Islam yang rasa cintanya berlebihan, akan tetapi pemahaman tentang al-Quran yang dangkal seringkali tidak sesuai dengan konteks dan realitas, berujung pada konfliktual. Ayat al-Quran seringkali digunakan dan dimanfaatkan demi tujuan-tujuan dan kepentingan politik keduniawian.

Karena itu, saat ini, momentum syahr al-Quran ini, kita memiliki tugas yang tidak ringan untuk memberikan pemahaman, makna, tafsir, yang menyisir sisi kemanusiaan, kebermanfaatan, dan kemaslahatan ke depan. Jadikan kesempatan Ramadhan ini untuk lebih mengedepankan al-Quran, ketimbang menahan haus dan dahaga karena puasa, meski puasa juga merupakan kewajiban (fardhu) yang tertulis dalam al-Quran. []

%d blogger menyukai ini: