Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan. Banyak sekali keutamaan atau sunnah Nabi Muhammad SAW yang dapat kita teladani atau praktikkan dalam keseharian di bulan puasa ini. Di samping makan sahur sebelum melaksanakan puasa seharian penuh, menyegerakan berpuasa merupakan keutamaan atau sunnah.

Tersebar pemahaman yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi di kalangan masyarakat. Pemahaman yang dimaksud, yaitu mengakhirkan berbuka puasa lebih baik daripada menyegerakannya. Dikiranya, dengan cara mengakhirkan berbuka di malam hari setelah maghrib atau ‘isya, maka pahala atau ganjaran yang akan didapatkan lebih banyak dan melimpah daripada menyegerakan berbuka.

Namun fakta berkata sebaliknya, menyegerakan berbuka puasa setelah masuk waktu shalat maghrib merupakan sunnah Nabi SAW. Pada bulan Ramadhan, beliau berbuka sebelum melaksanakan shalat maghrib. Sebagaimana tertulis dalam hadis mauquf (hadis yang disandarkan kepada sahabat) berikut.

عن أنس رضي الله عنه قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي، فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات، فإن لم تكن حسا حسوات من ماء

Dari Anas ibn Malik radhiyallahu’anhu. Ia menceritakan, “Rasulullah SAW berbuka puasa dengan memakan kurma basah. Jika tidak ada, beliau memakan beberapa buah kurma masak yang kering. Jika tidak ada pula, Rasulullah meneguk beberapa tegukan air sebelum melaksanakan shalat maghrib” [HR Abu Daud & Tirmidzi, lafadz hadis ini milik Abu Daud].

Hikmah menyegerakan berbuka puasa adalah menghidupkan sunnah Nabi SAW (ihya al-sunnah). Berkata Imam ibn Hajar al-Asqalani, berkata Imam Syafi’i, “mempercepat berbuka puasa adalah perbuatan yang disunnahkan. Sedangkan mengakhirinya bukanlah perbuatan yang diharamkan, kecuali apabila menganggap bahwa mengakhirkan berbuka puasa terdapat keutamaan di dalamnya.”

Hal ini menunjukkan, bahwa mengakhirkan berbuka puasa dengan meyakini, bahwa pahala yang didapatkan lebih besar daripada menyegerakannya adalah perbuatan yang diharamkan. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Syafi’i di atas. Sebab Islam itu memudahkan para pemeluknya, bukan menyulitkan, atau bahkan menyiksa mereka untuk mengakhirkan berbuka.

Sedangkan makanan yang disunnahkan untuk dimakan saat berbuka adalah kurma dan air putih. Dalam hadis mauquf yang diriwayatkan dari Anas ibn Malik di atas kita tahu, bahwa Rasulullah memakan kurma atau air untuk berbuka. Sebab kurma yang mengandung rasa manis dapat dengan cepat memulihkan energi. Sedangkan air putih dapat melepas dahaga. Dalam hadis lain disebutkan,

قال صلى الله عليه وسلم: لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

Rasulullah SAW bersabda, manusia yang senantiasa berada dalam kebaikan adalah mereka yang menyegerakan waktu berbuka puasanya [HR Bukhari & Muslim]. Hikmah selanjutnya, di samping sebagai pembeda dengan pemeluk agama lain, karena orang-orang yahudi dan Nasrani selalu mengakhirkan puasa mereka. Menyegerakan puasa dapat menyegarkan tubuh. Mengembalikan tenaga agar kuat beribadah di malam hari. Baik itu menunaikan shalat tarawih, maupun melaksanakan i’tikaf di masjid.

Dengan demikian, menyegerakan berbuka puasa adalah sunnah Nabi Muhammad SAW. Meskipun mengakhiri berbuka diperbolehkan selama tidak meyakini, bahwa pahala yang akan didapatkan lebih besar, mengakhiri berbuka juga menyulitkan atau melemahkan tubuh untuk melaksanakan ibadah di malam hari. Bahkan, tidak menghidupkan sunnah Nabi (ihya al-sunnah). Karenanya, utamakan berbuka puasa sebelum melaksanakan shalat maghrib di bulan Ramadhan, sebagaimana Rasulullah lakukan semasa hidupnya.[]

%d blogger menyukai ini: