Siapa yang tak kenal Imam Syafi’i. Namanya tersohor sebagai salah satu dari empat imam mazhab besar fikih. Untuk konteks Muslim Indonesia yang mayoritas menginduk mazhab fikihnya, merepetisi profil Imam Syafi’i ibarat menggarami lautan. Sekalipun tidak semua orang memahaminya secara detail, sekurang-kurangnya Muslim di sini tidak asing saat mendengar namanya.

Yang barangkali belum banyak diketahui orang, Imam Syafi’i adalah sosok yang begitu mencintai Ahlul Bait. Ia menaruh penghormatan tinggi kepada keluarga Rasulullah SAW. Karena besarnya rasa cinta dan hormat Imam Syafi’i kepada Ahlul Bait Nabi, membuatnya pernah dituduh berlebihan dalam mahabbahnya (cintanya) hingga terlibat gerakan kaum Rafidhah (sekte sempalan Syiah yang ekstrem). Labelling itu tak membuat al-Syafi’i gentar menyatakan diri sebagai pecinta Nabi beserta keluarganya yang suci. Imam Syafi’i tidak terdikte oleh istilah Syiah yang dalam kesejarahan selalu menerima stigma dan tuduhan negatif.

Dengan penuh kesadaran, al-Syafi’i menggubah syair untuk mengungkapkan betapa kecintaannya pada Ahlul Bait Nabi tulus, tanpa rasa takut. Setelah dituduh sebagai seorang Rafidhi, Imam Syafi’i menuturkan ungkapan hatinya, “Sekiranya hanya disebabkan mencintai Ahlul Bait Nabi disebut Rafidhi, maka saksikanlah oleh kalian wahai jemaah jin dan manusia, aku adalah Rafidhi”. Cukup bagi al-Syafi’i untuk mengungkapkan kembang cintanya kepada Rasulullah sekalian keluarga. Ia tak peduli lagi pada asumsi yang dialamatkan padanya.

Menilik dari segi kebahasaan, Syiah adalah bentukan dari kata bahasa Arab sya’a-yasyi’u-syi’an-syi’atan yang bermakna pendukung, pengikut, atau pembela. Secara terminologis, kata Syiah merujuk pada pengikut Imam Ali bin Abi Thalib yang percaya bahwa khalifah pasca Nabi Muhammad SAW wafat semestinya adalah Imam Ali, ungkap Murtadha Muthahhari dalam Karakter Agung Ali bin Abi Thalib dengan beragam argumentasinya.

Imam Ali adalah anggota dari Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dikukuhkan dalam hadis kisa’, yakni peristiwa ketika Nabi menaungi Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein dengan kain kemudian mengukuhkan mereka sebagai Ahlul Baitnya serta mendoakan kesucian mereka. Kemudian turunlah surat al-Ahzab [33] ayat 33. Ali bin Abi Thalib adalah sepupu juga menantu yang dididik Rasulullah SAW sejak kecil. Dan termasuk pada barisan orang yang pertama mengimani risalah Nabi.

Bisa dibilang, kelompok Syiah adalah jalur khusus dari spirit keislaman yang mengambil jalan kecintaan dan ketauladanan pada Nabi Muhammad SAW. Maka tak heran jika pecinta keluarga Nabi selalu lekat dengan Syiah. Yang sayangnya selalu disalahpahami. Karena Imam Syafi’i adalah pengikut dan pembela Imam Ali beserta keluarganya (Syi’atu Ali), ia meneladani jalan kenabian melalui kecintaan pada Ahlul Bait, maka tak salah menyebut Imam Syafi’i sebagai Syiah.

Hal ini juga mengabarkan bahwa siapapun berhak mencintai keluarga Rasulullah SAW, bahkan diwajibkan. Kecintaan pada Ahlul Bait bukanlah monopoli Syiah. Teks agama banyak menyebutkan tentang perintah mencintai keluarga Nabi dan keutamaan mereka. Seperti dalam surat Asy Syura [42]: 23, Allah berfirman, Katakanlah (Muhammad): Aku tidak meminta upah kepada kalian kecuali kecintaan pada keluarga (al-qurba). Juga ayat tathhir (penyucian) keluarga Nabi dalam al-Ahzab [33]: 33.

Sejarah merekam, bahwa al-Syafi’i memang tak pernah menyembunyikan simpati dan kecintaannya kepada Ali bin Abi Thalib serta Thalibiyyin (keturunan Abu Thalib). Ia gemar menghadiri majelis-majelis ilmu bersama mereka dan mencukupkan diri sebagai pendengar, sebab merasa tak pantas berbicara di hadapan kalangan yang lebih berhak, yakni Thalibiyyin, karena mereka memiliki keutamaan dan kepemimpinan. Tutur Abdurrahman al-Syarqawi dalam bukunya A’immah al-Fiqh.

Terdapat satu riwayat yang mengisahkan ketinggian adab al-Syafi’i kepada Sayyidah Fathimah. Ia pernah mengutip hadis tentang komitmen Nabi yang tak akan membedakan hukuman bagi pencuri. Hadis yang masyhur itu, oleh al-Syafi’i diriwayatkan dengan redaksi kata ganti orang ketiga hingga membuat keilmuannya sempat dipertanyakan. Kutipan al-Syafi’i itu pun begini, Demi Allah, sekiranya Fulanah binti Fulan mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya. Ahlul Bait mustahil melakukan hal demikian. Imam al-Syafi’i pun merasa tak pantas dan tak mungkin mengucapkan pengandaian putri Nabi mencuri.

Mengasihi Ahlul Bait, oleh al-Syafi’i dipahami sebagai bagian dari agama, karena sebagaimana sabda Nabi bahwa para kekasih dan keturunannya adalah orang-orang yang bertakwa. Lagi-lagi, oleh karena ekspresi kasihnya pada kerabat Nabi, nyawa Imam al-Syafi’i pun pernah terancam. Ia dianggap menghimpun kekuatan dan berkomplot dengan kalangan Alawiyyin untuk menuntut khalifah, yang saat itu dijabat oleh Harun al-Rasyid. Namun tuduhan makar itu pun terpatahkan.

Secara silsilah sendiri, Muhammad bin Idris al-Syafi’i masih satu keturunan dengan Rasulullah SAW dari Abdu Manaf bin Qushay. Ibunda Imam Syafi’i adalah cucu dari saudara perempuan Fathimah binti Asad, Ibu Imam Ali bin Abi Thalib. Yang berarti, Ahlul Bait Nabi merupakan rumpun nasab Imam al-Syafi’i pula. Argumen genealogis ini secara alamiah akan memunculkan rasa memiliki dan cinta yang murni.

Dalam hal keilmuan, al-Syafi’i juga belajar kepada pengikut Imam Ja’far al-Shadiq (imam ke-6 dalam tradisi Syiah Itsna ‘Asyariyah) untuk mempelajari mazhab fikih Ja’fari serta keputusan-keputusan hukum Imam Ali bin Abi Thaib. Sang Ibunda sendiri pun mengarahkan anaknya ini untuk mempelajari fikih Imam Ali bin Abi Thalib dan mengambilnya dari murid-murid Ibnu Abbas serta murid-murid Imam Ja’far al-Shadiq.

Kembali diceritakan oleh Abdurrahman al-Syarqawi dalam A’immah al-Fiqh, bahwa Al-Syafi’i satu ketika tak kunjung mendapat jawaban yang memuaskan atas penjelasan tafsir kata “dassaha” setelah datang kepada beberapa guru. Sang Ibu pun mengarahkannya untuk mendatangi Muqatil bin Sulayman, murid Imam Ja’far al-Shadiq. Ternyata dari Muqatil lah ia memeroleh kepuasan jawaban dan sirna kemudian kerisauannya.

Dugaan saya, akan ada banyak prejudice ketika membaca judul kolom ini. Menilainya sebagai judul yang ngawur, tak berdasar, dan menyesatkan. Tidak masalah. Karena kemapanan yang peyoratif akan istilah “Syiah” harus didobrak. Dari masa ke masa kita masih saja diperbudak istilah dan terjebak konflik bersaudara karena keterbatasan ataupun kesalahan informasi atas suatu nomenklatur. Dan dalam hal ini adalah Syiah.

Imam Syafi’i mengajarkan kita sekalian untuk melepaskan diri dari perbudakan istilah dan beranjak untuk lebih memahami substansi dari istilah tersebut. Banyak dari masyarakat merasa alergi dan memaknai secara peyoratif kata Syiah. Padahal sangat sederhana, Syiah bermakna pengikut, simpatisan Ali bin Abi Thalib yang menekankan pengajaran untuk mencintai Ahlul Bait Rasulullah SAW. Kita sepatutnya malah bersyukur, ada komunitas yang secara khusus dan aktif menjaga tradisi Nabi dari jalur keluarganya.

Selain itu, keteladanan yang kita dapati adalah keutuhan dan paripurnanya ke-Syiah-an al-Syafi’i. Di mana kasih cintanya kepada Nabi beserta keluarganya tulus dan kokoh. Kembara intelektual, patron nasab, dan bahasa sikap Imam al-Syafi’i kian mengukuhkannya sebagai pecinta Ahlul Bait. Secara tak langsung, ungkapan syair Imam al-Syafi’i di atas mengajarkan kita, sebagai umat Islam khususnya untuk berani dan lantang dalam menunaikan kebaikan.

Perintah mencintai keluarga Nabi diserukan oleh Rasulullah SAW sendiri bagi semua umat Islam, tanpa memandang afiliasi dan mazhab. Selama ini kita adalah korban algoritma kebencian sektarianisme karena sentimen istilah, hingga konflik antarsaudara pun terus berulang. Sudah waktunya bagi kita berpikir substantif dan dialogis untuk mengembangkan persaudaraan yang hangat antarsesama. Kurang lebih, jika syair Imam al-Syafi’i tadi dikonversi dalam bahasa kekinian, akan berbunyi: Disebut sebagai Syiah, siapa takut! Wallahu a’lam. []

%d blogger menyukai ini: