22 Desember menjadi momentum kita memperingati Hari Ibu setiap tahun. Peringatan Hari Ibu idealnya sudah bukan lagi seremoni tanpa substansi, melainkan harus dimaknai sebagai momentum penuh esensi. Menkontekstualisasikan Ibu sebagai rangka memberdayakan dan memantapkan sumber kasih sayang dan inspirasi. Pendidik pertama untuk para generasi bangsa yang nasionalis. Bung Karno mewanti-wanti, bahwa wanita adalah tiang negara, apabila dia baik maka baiklah negara, dan apabila dia rusak maka rusaklah negara itu.

Hari Ibu kali ini terasa beda dan spesial, karena dirayakan di tengah pandemi. Pandemi Covid-19 menjadi momentum peran ibu diuji. Seberapa besar ibu dapat menjadi asa generasi bangsa masa depan. Sebab, peran ibu tidak saja fundamental dalam keberlangsungan bangsa, tetapi juga menjadi lumbung baik atau tidaknya bangsa di tangan para generasi kedepan.

Dengan menyongsong tema ”Perempuan Berdaya, Indonesia Maju”, Hari Ibu kali ini dapat menjadi gambaran arti sesungguhnya peringatan Hari Ibu. Apalagi, jika kita melihat dari kacamata historis ditetapkannya Hari Ibu, tidak terlepas daripada Kongres Perempuan Indonesia pada 22 Desember 1928. Yang kemudian, kesepakatan menjadikan tanggal 22 Desember sebagai tonggak lahirnya Hari Ibu disampaikan dalam Kongres Perempuan ketiga di Bandung tahun 1938. Presiden Soekarno menjadikannya hari peringatan nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.

Kongres Perempuan, tidak saja membawa asa bagi para generasi perempuan, tetapi juga membidani kemerdekaan bangsa. Hal ini tercermin dari pembahasan yang diangkat. Yakni, mengenai kondisi perempuan yang mengalami diskriminasi dan kekerasan. Perkawinan anak perempuan menjadi norma umum, poligami sangat mudah dilakukan, terjadi kawin paksa, dan perceraian secara sewenang-wenang terhadap perempuan. Pendidikan bagi anak perempuan, hak kesehatan reproduksi, serta kondisi ekonomi perempuan menjadi perhatian penting generasi perempuan kala itu.

Karena itu, tidak salah jika asa kebangsaan generasi muda berada dipundak ibu. Sebab, dari tangan-tangan kasih seorang ibu akan terbentuk pribadi generasi yang bertakwa, adil, berkemanusiaan, dan nasionalis. Ibu tidak saja harus pintar, cerdas, dan hebat, tetapi juga inspiratif.

Idealnya ibu baik itu bervisi profetik. Bukan hanya merawat, mengajar, mendidik, membelajarkan anak-anaknya, tetapi juga menyayangi, melakukan transformasi, memotivasi, menginspirasi, dan memberi teladan terbaik bagi mereka. Dengan kata lain, ibu harus dipersiapkan, dididik, dilatih, dan dikembangkan secara profesional serta terintegrasi dengan institusi pendidikan lainnya. Ibu diharapkan mampu berperan optimal dalam menggerakkan revolusi mental spiritual bagi regenarasi bangsa.

Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Maju dan mundurnya bangsa dan negara sangat ditentukan oleh fungsi dan peran ibu sebagai basis revoluasi mental spiritual. Ibu merupakan tiang pancang keluarga dan rumah besar bangsa. Dengan kata lain, ibu memiliki fungsi dan peran revolusional dalam membentuk karakter positif, mentalitas, dan spiritualitas masa depan generasi bangsa yang nasionalis. Hal Ini pula yang menjadikan Finlandia sebagai negara berbasis pendidikan terbaik. Teacher Professional Development in Finland: Towards a More Holistic Approach, Hannele Niemi (2015), sebagaimana menjelaskan bahwa sistem pendidikan di Finlandia bisa maju, karena sistem dan model pengembangan profesionalitas guru bersifat holistik dan terintegrasi dengan pendidikan informal dengan optimalisasi peran edukatif sang ibu.

Karena itu, melihat dari sepak terjangnya kaum perempuan dalam gelangang kebangsaan kita. Sudah sepatutnya semangat kebangsaan itu harus tetap subur dan membuahi semangat-semangat baru. Dari rahim perempuan akan lahir generasi bangsa. Menjadi ibu tidak saja menanggung beban asi, tetapi juga beban menjadi sosok yang menginspirasi. Menginspirasi, bahwa nasionalisme harus tetap ada dan keutuhan bangsa-negara mesti tetap dijaga. Selamat Hari Ibu!

%d blogger menyukai ini: