Lawatan Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus (84), ke Irak menjadi obor harapan akan perdamaian umat manusia. Kehadirannya yang disambut meriah oleh masyarakat Irak menandakan kerinduan mendalam akan suasana hangat dan bersahabat di sana. Irak adalah negeri terluka. Selama bertahun-tahun mengalami peperangan, kejahatan terorisme, dan konflik sektarian yang menelan banyak korban. Hal yang sama juga menimpa negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Pada hari kedua kunjungan apostoliknya tersebut, Sabtu (6/3/2021), Sri Paus bertemu dengan pemimpin spiritual Muslim Syiah, Imam Agung Ayatollah Ali al-Sistani (90), di Najaf, Irak. Keduanya menegaskan agar penindasan, kekerasan, dan diskriminasi terhadap minoritas disudahi. Irak didiami keragaman etnis dan kepercayaan, akan tetapi dijerat trauma mendalam akan konflik berdarah. Untuk itu, dialog sehat serta tenggang rasa harus dibina sebagai konsep hidup bersama dalam pluralitas.

Pertemuan dua tokoh besar keagamaan ini membawa pesan akan pentingnya dialog antaragama dan hidup berdampingan secara damai penuh solidaritas dengan semua golongan. Perbincangan 50 menit antara dua figur berpengaruh dunia itu merupakan simbol kuat persaudaraan lintas umat beragama yang diharapkan akan membawa fajar baru kebaikan dan kedamaian bagi seluruh keluarga manusia.

Kunjungan bersejarah ini termasuk perjalanan paling berisiko di tengah situasi pandemi dan keamanan Irak yang belum stabil, hingga diterjunkan 10.000 pasukan pengamanan. Milisi bersenjata masih berkeliaran di sana. Namun demikian, keinginan menebar toleransi dan ritme perdamaian bagi kaum tertindas yang lama teraniaya mendorong Sri Paus pergi.

Dalam waktu yang panjang, instabilitas telah menjadi bagian yang melekat dengan Irak. Delapan tahun lamanya, mulai 1980 hingga 1988, Irak berperang dengan Iran yang secara kumulatif hampir memakan satu juta korban jiwa. Lalu sejak 2003 negeri ini diinvasi oleh Amerika Serikat, di mana AS baru angkat kaki dari sana pada 2011. Irak pun dihantam kekacauan berdarah dan krisis kemanusiaan karena konflik regional dan global.

Irak seolah menjadi panggung teatrikal berdarah penuh mesiu dan asap. Belum juga pulih dari keprihatinan pasca perang, datang kemudian milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) atau ISIS pada 2014. Mereka menyapu hampir sepertiga wilayah Irak. Ketenangan adalah barang mahal dan mewah di negeri yang pernah menjadi pusat peradaban Islam ini.

Sekitar 400 km di selatan kota suci Najaf, terdapat kota Ur yang dihormati sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Di kota yang dipercayai sebagai tempat kelahiran Bapak monoteisme ini, Paus Fransiskus mengadakan misa lintas agama. Peristiwa ini kembali menjadi simbol pengukuh bagi persaudaraan kemanusiaan juga keagamaan, khususnya antara tiga agama samawi, Yahudi, Kristen, dan Islam.

Tiga kepercayaan tersebut lahir dari rahim yang sama, hanifiyah Ibrahim. Kesamaan genealogis ini merupakan bukti akan adanya titik temu yang berjejaring di antara ketiganya. Maka dari itu, sangat ironis ketika tiga bersaudara ini selalu berkabut konflik dan hanya mengedepankan sentimen perbedaan.

Agama-agama samawi itu berasal dari Tuhan yang sama, berintikan ajaran tauhid. Yang membedakan hanya Nabi, kitab suci, serta syariatnya karena turun dalam situasi kesejarahan yang berbeda. Kesadaran akan akar yang satu ini harus terus diangkat ke permukaan, sebagai upaya mengikis kecurigaan dan menciptakan sikap hidup saling menghormati antarpenganut kepercayaan.

Sampai sebelum AS menduduki Irak pada 2003, umat Kristiani di sana mencapai 1,5 juta jiwa. Mereka mengalami depopulasi. Kini, ditaksir paling banyak jumlahnya hanya sekitar 400 ribu. Banyak dari warga Kristen, umat Muslim, juga Yazidi yang mengungsi dan tewas di tengah perang saudara serta serangan NIIS. Selama periode konflik, banyak tempat ibadah kuno dan warisan peradaban yang berusia ratusan tahun dibumi hanguskan oleh milisi NIIS yang melakukan ekstremisme atas nama agama.

Dalam situasi demikian, ulama dan lembaga keagamaan Irak turun tangan melindungi masyarakat yang dibantai. Seperti Ali al-Sistani, ulama berpengaruh ini, berkali-kali menyatakan bahwa Muslim dilarang membunuh. Ia juga menyeru agar warga memerangi kelompok teroris NIIS pada 2014 silam. Praktisnya, lembaga keagamaan Irak merestui pembentukan unit pasukan Hasyd Sya’bi yang bertugas menumpas NIIS. Pasukan ini adalah gabungan lintas etnis dan agama yang dipimpin oleh Abu Mahdi al-Muhandis dan Jenderal Iran Qassem Soleimani.

Demikianlah ikhtisar konflik Irak serta Timur Tengah yang telah memenggal kemanusiaan. Itulah mengapa angin perdamaian menjadi hal yang amat didamba hembusannya di sana. Ekstremisme, permusuhan, dan kekerasan tidak lahir dari hati religius, tetapi mereka adalah pengkhianat agama, demikian ucap Paus. Setelah semua kepiluan, yang ingin dituju adalah kemenangan kebaikan, penghargaan kemanusiaan, dan rasa aman. Hidup dalam persaudaraan yang murni dan autentik dengan siapapun.

Ziarah Paus Fransiskus dan perjumpaannya dengan Imam Agung Ayatollah Ali al-Sistani memberi masyarakat Irak harapan dan keberanian untuk memulai hidup kembali, membangun masa depan negeri penuh permata peradaban tersebut dengan optimisme. Momentum ini semoga bisa menjadi tumpuan harapan bagi perdamaian dunia. Naluri kemanusiaan harus menjadi supremasi hidup karena kita semua sama, manusia. Kalian adalah bagian dari kami, dan kami juga bagian dari kalian. Kita bersaudara. Wallahu a’lam. []

%d blogger menyukai ini: