Tersebar paham di kalangan masyarakat, bahwa perempuan adalah penghuni neraka paling banyak. Berdasarkan hal tersebut, publik bebas merendahkan kaum perempuan. Paradigma masyarakat religius ini bersumber dari sebuah hadis yang dianggap sebagian feminis sebagai hadis misoginis. Padahal, jika kita mengetahui metode yang benar dalam memahami hadis Nabi SAW yang dianggap misoginis, maka kita justru akan lebih menghargai, melindungi, dan memuliakan perempuan.

Hadis yang acap kali diucapkan demi mengucilkan perempuan merupakan hadis shahih dengan sejumlah riwayat. Salah satunya berasal dari Ibn Abbas berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda, aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita. Sebab mereka sering mengingkari.

Ditanyakan kepada Nabi SAW, “apakah mereka mengingkari Allah?” Beliau bersabda, mereka mengingkari suami (kufur terhadap suami), dan mengingkari kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap seseorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata, aku belum pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu [HR Bukhari].

Dalam hadis lain dijelaskan, bahwa hadis ini turun (asbab wurud) saat Nabi melewati sekelompok perempuan Madinah. Ketika itu juga Nabi menasihati mereka dengan redaksi sebagaimana tertulis di atas. Di mana karakteristik perempuan Madinah lebih kuat dan dominan dalam rumah tangga dibandingkan dengan perempuan Makkah. Karakter perempuan Madinah yang demikian kadang kala memicu sifat meremehkan atau kufur terhadap pemberian suami.

Imam Ibnu Hajar al-Asqlani dalam Fathu al-Bari menafsirkan kufur sebagai pengingkaran nikmat yang telah diberikan suami dan meninggalkan kebaikan yang telah dilakukan, sehingga membuat istri tersebut tidak taat. Bukan kufur yang berarti menjadikan kaum Muslim keluar dari Islam.

Oleh karena itu, tidak heran jika Rasulullah SAW menyatakan, kebanyakan penghuni neraka adalah perempuan, karena watak perempuan Madinah yang kerap kali mengingkari suami atau mudah melaknat. Namun, jika kebanyakan perempuan berlaku baik terhadap suami, tidak mengingkarinya, dan berbuat kebaikan (al-ma’ruf), maka kebanyakan perempuan tidak menjadi penghuni neraka.

Sedangkan pada masa sekarang, tidak semua perempuan berwatak seperti perempuan Madinah. Ada yang posisinya dalam rumah tangga begitu dominan, tetapi ada juga yang tidak. Meskipun beragam, tetapi saling menghargai dan akhlak yang baik yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupan rumah tangga. Dengan begitu, baik laki-laki, maupun perempuan akan selamat dari siksa api neraka.

Di sisi lain, dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi disebutkan. Rasulullah SAW bersabda, saya berdiri di depan pintu neraka. Kebanyakan orang yang masuk neraka adalah perempuan. Al-Mubarakfury dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan, bahwa yang dimaksud dalam hadis di atas bukan berarti kuantitas penghuni neraka didominasi kaum perempuan. Melainkan hadis di atas merupakan anjuran bagi perempuan untuk menjaga agama dan akhlaknya.

Hadis ini menunjukkan, bahwa kebanyakan perempuan masuk neraka sebab akhlak buruknya, yaitu ingkar terhadap suami. Tidak jauh berbeda dengan hadis sebelumnya. Untuk itu, memahami hadis tidak bisa secara parsial, tetapi diperlukan juga faktor-faktor penyebab, mengapa Rasulullah SAW berkata demikian.

Dengan demikian, hadis perempuan penghuni neraka paling banyak harus diluruskan dan tidak dipahami secara parsial. Melainkan memahaminya dari faktor-faktor lain, seperti asbab wurud dan hadis lain yang menjelaskan maksud hadis tersebut.[]

%d blogger menyukai ini: