Kabar duka, Cendekiawan Muslim, KH. Jalaludin Rakhmat atau yang akrab disapa Kang Jalal meninggal dunia. Ia menghembuskan nafas terakhir di usia 71 tahun, setelah berjuang melawan sakit di Rumah Sakit Santosa, Bandung, pada Senin (15/2/2021). Kabar ini tentu menjadi duka bagi kita semua. Pasalnya, bangsa ini kembali kehilangan sosok pemikir Muslim yang memiliki pemahaman keislaman yang memperkokoh nasionalisme, memantapkan Pancasila sebagai ideologi bangsa, dan nilai-nilai luhur yang hidup sebagai karakter bangsa ini, yaitu Bhineka Tunggal Ika, toleran, dan moderat. Oleh karena itu, penting kita mempelajari sikap toleransi dari sosok Kang Jalal.

Kang Jalal memiliki pengalaman bergumul dengan persoalan hubungan antaragama, mengkaji berbagai pemikiran keagamaan, berjumpa banyak tokoh dunia, serta menulis sejumlah buku. Ia juga aktif mengajar di kampus dan mengentalkan gagasan pluralisme lewat sejumlah lembaga keagamaan.

Hingga kini, Indonesia masih saja tidak bisa terlepas dari konflik antarumat beragama. Agama yang seharusnya bersemangat dalam melakukan pembebasan dan menebarkan kedamaian bagi sesama manusia, ternyata justru kerap memicu pertentangan, bahkan mengusik keutuhan bangsa yang majemuk ini, seperti aksi terorisme.

Dalam persoalan tersebut, Kang Jalal menawarkan sebuah solusi, yaitu dengan cara mengembangkan pemahaman agama madani. Yang mana, menurut ia, pemahaman agama madani ini, merupakan pemahaman yang mengambil nilai-nilai universal dalam setiap agama dan berkonsentrasi memberikan sumbangan bagi kemanusiaan dan peradaban.

Wacana Islam madani berpusat pada kasih sayang kepada sesama manusia sehingga Islam menjadi rahmat bagi semua orang (rahmatan lil’alamin). Kesalehan diukur dari kadar cinta seseorang kepada sesama. Setiap pemeluk agama bisa memberikan makna dalam kehidupannya dengan berkhidmat pada kemanusiaan.

Ia merasa sudah saatnya bagi para dai Islam untuk mengetahui bahwa mereka tidak dituntut untuk mengislamkan orang-orang yang beragama selain Islam. Mereka tidak berhak mengklaim bahwa selain orang Islam akan masuk neraka, karena kunci-kunci surga bukan di tangan mereka. Sebab, sikap seperti itu merupakan pelanggaran keras terhadap wewenang Allah, yang dituntut dari para dai.

Ia pun menyatakan bahwa setiap umat beragama tidak boleh mengklaim bahwa agamanya yang paling benar, sementara agama lain dianggap salah dan keliru. Apabila satu agama mengklaim kebenaran hanya ada dalam agamanya, maka hal itu berarti ia telah berlebihan dalam menyikapi agamanya dan bersikap memushi agama lain.

Maka dari itu, konsep dakwah Kang Jalal, bertujuan agar manusia dalam keberagaman tidak memusuhi agama lain. Meski demikian, bukan berarti semua agama sama, tapi di sini ia mengajak umat Islam untuk menanamkan sikap kasih sayang dengan umat yang beragama non-Islam.

Kang Jalal yang memutuskan terjun ke dunia politik dan bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perujuangan (PDI-P) dengan alasan, hanya PDI-P yang menurutnya membela kaum minoritas. Hal ini dikarenakan ia merasa negara masih lemah dalam melindungi hak minoritas. Padahal, konstitusi jelas melindungi kebebasan beragama, sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 29 ayat (2) UUD 1945, bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Namun, pada kenyataannya amanat itu masih belum dijalankan dengan baik.

Meski ia merupakan tokoh Syiah, Kang Jalal memiliki ikhtiar untuk mendekatkan Syiah dan Sunni. Yang mana, salah satu puncak upayanya tersebut yaitu dengan turut mendirikan Majelis Ukhuwah Sunni Syiah Indonesia, Muhsin, pada Mei 2011 lalu. Dalam hal ini, terlihat bahwa Kang Jalal merupakan sosok yang menginginkan persatuan. Perbedaan bukan dijadikan sebuah kesalahan yang harus dipertentangkan, tetapi merupakan sebuah anugerah yang harus dijadikan sebagai keistimewaan dalam merajut persaudaraan.

Dengan demikian, kita melihat bahwa selama ini Kang Jalal merupakan tokoh Muslim yang mengedepankan sikap toleransi dengan menebarkan Islam cinta dan kasih, bukan Islam kebencian. Mencerahkan publik dengan dakwah kedamaian, menjadi bukti bahwa Ia sosok pemikir Muslim yang patut untuk kita teladani. Kang Jalal, selamat jalan, meski jasadmu telah terpendam, tetapi karyamu untuk negeri, akan tetap abadi. 

%d blogger menyukai ini: