Cendekiawan Muslim Indonesia, KH. Jalaluddin Rakhmat telah wafat pada Senin (15/02) di RS Santosa Internasional. Sebagai tokoh, Kang Jalal sapaan akrabnya, kabar duka ini menyelimuti banyak masyarakat  yang kehilangan sosoknya yang rendah hati dan ramah senyum, dan loyalitas keilmuannya yang tinggi. Dimensi ukhuwah merupakan salah satu jejak pemikiran yang menjadi dasar perhatiannya, bahwa sosok Kang Jalal sangat peduli terhadap persatuan, perdamaian, dan menghindari pertikaian.

Kang Jalal lahir pada tanggal 29 Agustus 1949, di Bandung, Jawa Barat. Sepeninggalan hidupnya, Kang Jalal merupakan sosok yang sangat inspiratif yang mencintai banyak keilmuan, selain keagamaan. Di sisi lain beliau dikenal sebagai pakar komunikasi dan penguasaannya terhadap beberapa bahasa, seperti Arab, Inggris, Prancis, Persia, Belanda dengan baik, di samping bahasa Indonesia, Jawa, dan Sunda.

Kepakarannya dalam komunikasi tidak hanya terlihat dari profesinya sebagai dosen dan pendakwah yang mudah dicerna bahasanya oleh para audiensnya, melainkan cara berkomunikasi yang baik ini ia refleksikan untuk membangun ukhuwah atau mempererat tali persaudaraan kepada siapa pun yang ditemuinya. Kang Jalal sangat cakap menempatkan obrolan kepada lawan bicaranya, dari tingkat masyarakat awam sampai intelektual.

Di kala maraknya pendakwah yang lihai dalam berbicara agama tapi menghujat, omong kosong, meremehkan, dan hal negatif lainnya, hingga perkataan kerap memecah belah bangsa, justru Kang Jalal memanfaatkan kepakarannya ini untuk berbagi keilmuan dengan bahasa yang rendah hati lagi kritis. Berkat kepakarannya ini, Kang Jalal sering diundang menjadi pembicara di tempat kebaktian agama lain, hingga dari sini terjalil ukhuwah lintas agama Buddha, Hindu, Protestan, Katholik sampai ia kerap dicap sesat karena kedekatan dan sikap tolerannya kepada kaum tertindas kelompok Ahmadiyah.

Memang dahulu dakwahnya sempat dikritik, karena sebagian akidah Syiah yang belum sepenuhnya diterima masyarakat luas Indonesia, hingga dinilai meresahkan. Sebab itu, seluruh jadwal khutbah dan ceramahnya sempat dihapus di seluruh kota Bandung. Meski begitu, tak menyurutkan semangatnya untuk terus berdakwah. Kang Jalal mengalihkan dakwahnya melalui artikel dan menulis buku. Hikmahnya, Kang Jalal kini merupakan seorang cendekiawan Muslim produktif yang melahirkan banyak karya. Konon, menurut Zuhairi Misrawi tokoh cendekiawan Muslim NU yang sudah menganggap almarhum sebagai gurunya menyebutkan, bahwa saking produktifnya sampai perdetik ini, Kang Jalal memiliki beberapa karya yang belum sempat diterbitkan.

Sekian dimensi ukhuwah yang menjadi perhatiannya, Kang Jalal sebagai pembesar Syiah di Indonesia mengupayakan untuk mengikis sentimen di Indonesia antara kelompok Sunni dan Syiah adalah dengan dibentuknya Majelis Ukhuwah Sunni Syiah Indonesia pada 2011. Seseorang bisa saja tidak sepakat dengan pemikiran tokoh, tetapi memutus ukhuwah sebab perbedaan akidah tidak dibenarkan.

Kang Jalal, menulis dalam bukunya Islam Aktual (2001), orang bisa saja berbeda pendapat tapi tidak terpecah, seperti Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal mereka saling menghormati dan menyayangi, sementara orang lain juga berbeda pendapat, tetapi mereka terpecah. Perbedaan pemikiran atau pilihan hidup, selagi nilai-nilai menghormati dan menyayangi itu di jaga, frekuensi merasa saling bersaudara dan hidup berdampingan secara damai adalah keniscayaan.

Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU menanggapi, bahwa KH. Jalaluddin Rakhmat adalah cendekiawan yang komplit dan menuangkan pemikiran yang memberikan jawaban (Kompas, 31 Oktober 1997). Itu sebabnya, segenap pembesar ormas NU juga mengagumi sosok almarhum ini, selain karena kepakarannya, Kang Jalal senantiasa mencari orang yang mau bersambut menjalin persaudaraan.

Sebagai pembaca karyanya, saya merasakan Kang Jalal itu sosok yang teduh, persuasif dan rendah hati. Komitmennya tentang ukhuwah mendorong dirinya menempuh jalan hidup bermanfaat yang membekalinya dengan ilmu dan akhlak sebagai media komunikasi dengan banyak manusia. Ukhuwah adalah cara Kang Jalal merealisasikan sikap agamanya. Dari sini jelas, kalau ia sosok ulama cendekiawan yang humanis.

Pada usia yang ke-71 Kang Jalal menghembuskan nafas terakhirnya. Kepergiannya meninggalkan duka akan sosok cendekiawan yang produktif, bestari, teduh, berani, dan memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Pemikiran Kang Jalal yang mewarnai khazanah keislaman dan keindonesiaan, selamanya akan terkenang oleh banyak orang. Semoga Kang Jalal diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT dan kita semua bisa mendapat keberkahan ilmu dan melanjutkan komitmennya untuk menjaga ukhuwah demi persatuan, kemajuan, dan perdamaian bangsa.

%d blogger menyukai ini: