Di negeri kita ini, tanggal 12 November diperingati sebagai hari ayah nasional. Peringatan ini tidak lain sebagai apresiasi terhadap peran ayah dalam keluarga dan juga masyarakat. Sejak kecil, kita sangat terbiasa dengan peran ayah sebagai sosok yang bekerja keras demi memenuhi setiap kebutuhan keluarga. Saya selalu dibangunkan oleh kecupan di kepala dari ayah saya yang pamit berangkat kerja pukul 05.00 pagi, tepat saat saya masih malas membuka mata. Ayah saya sangat sibuk bekerja, tetapi selalu mempersembahkan seluruh waktu luangnya untuk keluarga. Belakangan saya menyadari bahwa ayah saya bahkan kurang memiliki waktu untuk menikmati istirahat demi bermain dengan saya atau mengurus keperluan saya.

Peran Ayah dalam mencari nafkah halal, tidak perlu dipertanyakan lagi, jelas sangat mulia. Jasa itu memperoleh penghormatan tinggi di dunia dan di akhirat. Selain itu, ayah sebagaimana juga ibu dalam keluarga muslim, sebenarnya juga memiliki peran pengasuhan yang sangat signifikan. Kesibukan ayah dalam mengemban tanggung jawab pemenuhan nafkah, membuat para ayah sering absen dari peran ini. Sangat disayangkan, Paternal engagement atau peran penting seorang ayah dalam mencintai, malatih, dan menjadi model yang meliputi pengasuhan anak-anaknya, masih kurang memperoleh perhatian sebagian ayah.

Budaya patriarki yang kental, setidaknya, telah membuat laki-laki menjauhi peran pengasuhan anak dan menyerahkannya sepenuhnya pada perempuan. Meskipun tidak jarang pula, para ayah sendiri menginginkan kedekatan dengan anak-anak, namun sering terhambat oleh kepadatan pekerjaan dan tanggungjawab yang besar di luar. Hal ini menimbulkan isu Indonesia sebagai fatherless country, yaitu negara tanpa keberadaan ayah secara psikologis karena minimnya peran ayah terhadap pengasuhan. Kurangnya figure ayah dalam pengasuhan seorang anak dapat berdampak serius.

Ayah memberikan kontribusi penting bagi perkembangan anak, pengalaman bersama ayah akan berpengaruh pada seorang anak hingga dewasa kelak. Seorang profesor di bidang psikologi perkembangan, Richard M. Lerner, menyatakan bahwa hilangnya peran ayah menyebabkan seorang anak merasa kesepian, iri, dan berduka. Ketiadaan peran penting ayah juga akan berdampak pada rendahnya self-esteem ketika dewasa, marah, malu karena tidak bisa memiliki pengalaman kebersamaan dengan ayah yang dirasakan oleh anak lain. Dari sini dapat dilihat, ketiadaan kontribusi ayah dalam peran pengasuhan dapat menjadi penderitaan seumur hidup seorang anak.

Sebenarnya, sosok ayah yang terlibat erat dalam pengasuhan anak bukanlah hal yang baru disadari di era modern saat ini. Nabi Ibrahim AS, digambarkan di dalam al-Quran sebagai sosok ayah yang mendampingi dan menghabiskan banyak waktu bersama anaknya, serta menjalin komunikasi yang demokratis (QS. Ash-Shaffat: 108). Nabi Ya’kub AS juga merupakan figur ayah yang rasa kepercayaan dan kesabarannya dalam berinteraksi dengan anak-anaknya ditekankan dalam kisahnya di surah Yusuf . Ada pula Lukman di dalam al-Quran yang juga merupakan seorang ayah yang aktif melakukan pendidikan intensif bagi anak-anaknya (QS. Luqman: 13, 16-19). Para Nabi dan tokoh Qurani tersebut, secara paralel, mendoakan dan mewasitkan kepada anak-anak keturunannya untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Hal demikian menjadi isyarat tentang pentingnya peran seorang ayah dalam mementukan araah kehidupan anak-anaknya agar menjadi generasi shalih.

Sosok ayah dalam al-Quran, seperti yang sebagiannya disinggung di atas, menunjukan keterlibatan dalam pemenuhan kebutuhan psikis anak, bertanggung jawab, koperatif, dan terampil dalam komunikasi yang efektif serta resolusi konflik. Manfaat yang diterima anak-anak dari hubungan dengan ayah, sangat berbeda dari yang diperoleh dari hubungan mereka dengan ibu, keduanya harus seimbang. Para ayah memainkan peran lebih dalam dalam kedisiplinan, perlindungan, dan pencegahan penyimpangan. Ketegasan sosok seorang ayah kadang kala membuat para ayah menjadi kaku dalam mengungkapkan kehangatan kasih sayangnya pada anak. kekakuaan dalam menunjukan rasa cinta kepada anak-anak, seharusnya tidak dibiarkan begitu saja.

Menahan ekspresi cinta dan kasih sayang bagi anak-anak, atau menyerahkannya kepada ibu sendirian, dapat merusak keseimbangan psikologi anak. Rasulullah SAW merupakan sosok yang selalu meluapkan rasa cinta, termasuk kepada anak-anak. Beliau bahkan sangat menyayangkan seseorang yang tidak mengekspresikan rasa cintanya pada anak-anak dengan baik. Suatu hari, Saat al-Aqraʿ bin Habis menyaksikan Nabi SAW mencium cucu-cucunya, dia mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah mencium salah satu dari sepuluh putranya. Lalu, Nabi SAW bersabda “Apa yang bisa aku tawarkan kepadamu jika Allah telah menarik rahmat dari hatimu? Siapapun yang tidak menunjukkan kasih sayang tidak akan menerima kasih sayang“.

Dengan demikian, kehangatan cinta ayah sangat penting dalam keluarga Muslim, sebagaimana yang dicontohkan para nabi. Lebih dari sekedar pemenuhan kebutuhan materi, peran ayah dalam ranah domestik pengasuhan di rumah sangat dibutuhkan bagi perkembangan anak dan kemajuan keluarga. Tidak ada yang harus dipilih antara memenuhi kebutuhan emosional atau finansial anak-anak, dua-duanya sama-sama penting dan berharga. Jangan sampai ayah melewatkan kontribusi luar biasa yang satu ini, pengasuhan anak. Selamat Hari Ayah Nasional 2020.

%d blogger menyukai ini: