Selalu banyak suara sumbang menjelang perayaan natal di negeri ini. Perihal atribut natal hingga ekspresi manusiawi berupa ucapan selamat berhari raya pun selalu dibawa ke ranah pertarungan teologis. Membuat keributan horizontal menjadi lestari. Institusi Islam, oleh pihak tertentu kerap dibingkai menjadi ajaran sempit, seolah menutup diri dari seni relasi antarumat beragama. Sederhana sebenarnya. Dalam urusan disparitas kepercayaan di tengah masyarakat, jika kita mencukupkan diri pada kapasitas sebagai manusia sosial yang berkebudayaan, kita pasti akan lebih terbuka mendialogkan perbedaan untuk membincang titik pertemuan, bukan memperlebar jurang pembeda.

Tesis bahwa natal itu Islami, ditarik dari garis tradisi saling memberi yang ada dalam perayaan hari besar umat Kristiani tersebut. Kultur berbagi itu selaras dengan perintah Islam untuk menjadi agen penebar kebahagiaan yang giat berbagi kepada sesama. Selain itu, natal membawa pesan syukur atas kehadiran hamba Tuhan yang sarat berkat yakni Isa al-Masih, yang dalam al-Quran kesyukuran tersebut dibicarakan dalam surat Maryam [19] ayat 33.

Praktik berbagi akan menautkan rasa cinta kasih antarmakhluk. Banyak dalil nash yang merangkum anjuran serta keutamaan tradisi tersebut. Dengan indah Rasulullah SAW menarasikan hikmah saling berbagi, Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai. (HR. Bukhari).

Mempersembahkan hadiah merupakan sunnah Nabi yang acap kali terlupakan. Padahal, ia bisa menjadi batu loncatan untuk menghangatkan persaudaraan. Ketika diberi sesuatu, hati kita akan merasa tersentuh spirit kasih sayang. Dan dengan sendirinya, ada kehendak pribadi untuk mengekspresikan balik rasa kasih tersebut kepada orang yang memberi tadi. Seolah ada transfer energi cinta antarmanusia yang saling berbagi. Dengan demikian, rasa kebencian dan permusuhan pun tak lagi memiliki kapling di dalam hati.

Rasulullah SAW menganjurkan untuk berbalas memberi saat kita mendapatkan suatu hadiah. Ummu al-Mukminin ‘Aisyah pernah bercerita, bahwa Nabi Muhammad SAW biasa menerima hadiah dan terbiasa pula membalasnya. (HR. Bukhari). Selain itu, Nabi mencontohkan adab luhur agar tidak mencela pemberian orang sekecil apapun. Sekaligus menghimbau supaya umat Muslim tetap menaruh perhatian kepada sesama manusia dengan berbagi, walau hanya perkara sederhana.

Selain dibesarkan dengan dimensi sosial yang tinggi, waktu-waktu natal pun bermakna khusus dan kudus yang memungkinkan umat Kristiani semakin bersyukur atas kehidupannya. Di dalamnya, tali kekeluargaan disambung dan kehidupan bersama dikukuhkan. Seperti halnya lebaran, perayaan natal juga menjadi hari yang dirindukan, di sana ada suka duka dan maaf yang terungkap kepada handai taulan. Natal menjadi momen penting penegas persaudaraan, yang dalam bahasa Islam dikenal dengan istilah silaturahmi.

Silaturahmi adalah basis pertalian sosial yang diperintahkan kuat oleh Islam. Silaturahmi bukan sekadar saling merespons suatu kebaikan. Lebih dari itu, silaturahmi merupakan upaya pro-aktif seseorang untuk tetap menjalin relasi positif meskipun ia mendapati kepahitan perusakan hubungan dari saudara. Demikian Rasulullah SAW menjabarkan.

Dalam teologi Kristen, tradisi natal dirayakan untuk memperingati sukacita kehadiran Messiah (juru selamat) Isa al-Masih di dunia. Terlepas dari perdebatan teologis, Islam mengimani Isa sebagai hamba Allah SWT yang diutus untuk menjadi Nabi yang membimbing umatnya. Unsur Islami dari natal juga dapat dilihat dari aspek ini, yakni eksistensi Isa al-Masih itu sendiri sebagai bagian dari khazanah kenabian dalam Islam. Maka dari itu, kebahagiaan menyambut natal, dapat dipahami pula sebagai perayaan dan penghormatan kita kepada Nabi Isa alaihissalam sebagai hamba Allah SWT yang dibekahi dan dibekali tauhid yang kuat.

Perdebatan teologis, dalam hal ini antara Kristen dan Islam, adalah urusan yang akan terus-menerus mengalami dialektika, koreksi dan pembaharuan. Kita tidak bisa mendikte keyakinan seseorang agar searus dengan apa yang kita percayai. Perihal keimanan, sudah sepatutnya diserahkan kepada pribadi masing-masing. Maka dari itu, tulisan ini bukan bertujuan memaksakan agar sama antara bangunan sistem kepercayaan Kristen dengan corak teologi Islam.

Melainkan berupaya mencari nilai dan pesan universal yang mendiami dua agama tersebut. Dan benar, ada banyak nilai-nilai kebaikan umum yang diemban baik oleh Islam maupun Kristen, seperti pesan cinta kasih, pengorbanan, solidaritas, serta persaudaraan. Fakta bahwa keduanya berakar dari rumpun agama Abrahamic kian mendorong upaya rekonsiliasi Islam-Kristen. Kerangka besarnya tak lain adalah untuk mengembangkan budaya toleransi antarumat beragama demi harmonisasi semesta. Lebih khususnya untuk mendidik umat mayoritas berempati kepada kalangan minor.

Dengan menyadari bahwa kerangka pesan perayaan natal sejalan dengan nilai-nilai mulia dalam Islam, diharapkan menjadi angin segar keterbukaan cara pandang yang toleran. Tidak lagi sinis dengan umat lain yang sekadar merayakan kebahagiaannya. Bukankah jelas, umat Islam diperintahkan untuk turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain? Tidak perlu jauh-jauh mencari dalil untuk bersikap menghargai dan menghormati mereka yang berlainan kepercayaan. Namun cukup melihat ulang jati diri kita sebagai manusia dalam ruang sosial. Wallahu a’lam. []

%d blogger menyukai ini: