KH. Mustofa Bisri—Gus Mus ditetapkan sebagai salah satu tokoh Muslim berpengaruh di dunia. Hal itu dirilis oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre, lembaga riset independen yang berbasis di Amman, Yordania. Gus Mus berada diurutan ke-146 dalam daftar Muslim 500: The World’s 500 Most Influential Muslims 2021. Gus Mus masuk kategori sebagai cendekiawan, intelektual Muslim, penyair, novelis, pelukis, dan juga ulama yang sangat berpengaruh di Indonesia.

Atas dasar itu, kiranya tak berlebihan jika kita menempatkan Gus Mus sebagai imam dan ulama yang wajib kita ikuti dan teladani segala petuah-petuah serta nasihatnya. Pertanyaannya, sebenarnya siapa Gus Mus ini? Bagaimana kisah perjalanan hidupnya, sehingga menjadi seorang tokoh yang sangat dihormati dan memiliki pengaruh kuat di negeri ini?

Gus Mus adalah seorang ulama karismatik. Ia lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. Ia merupakan putra dari KH. Bisri Musthofa, seorang ulama Indonesia yang memiliki karya besar, yaitu Tafsir al-Ibriz li Ma’rifah Tafsir al-Quran al-‘aziz (Ensiklopedi Ulama Nusantara, 2019: 131). Ia adalah seorang kiai, sastrawan, pelukis, sekaligus intelektual Muslim yang hingga kini menjadi Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Perjalanan pendidikan Gus Mus dimulai ketika menjadi santri. Ia pernah berkelana nyantri di beberapa pesantren, seperti Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, dan Raudlatuth Thalibin, Leteh, Rembang, pesantren ayahnya sendiri. Lalu, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir (Mustofa Bisri, 2019: 293). Selama di Mesir, ia juga menjadi sahabat karib dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden Republik Indonesia ke-4.

Selepas pulang dari Mesir, Gus Mus kembali ke Rembang dan turut mengelola Pesantren Raudlatuth Thalibin. Bahkan, ia menjadi pengasuh sekaligus pimpinannya. Terkini, selain aktif dalam berdakwah, mengurus pesantren, dan menulis untuk berbagai media massa, ia juga kerap mengisi kajian keislaman melalui kanal Youtubnya, GusMus Channel.

Lebih dari itu, pada 30 Mei 2009, Gus Mus memperoleh gelar doktor honoris causa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam penganugerahan gelar itu, ia menyampaikan orasi ilmiah berjudul Mengkaji Ulang Beberapa Konsep Keislaman sebagai Mukaddimah Reformasi Keberagaman untuk Mengembalikan Keindahan Islam (Ensiklopedi NU, 2014: 137).

Melihat perjalanan hidup dan kiprah Gus Mus di atas, wajar saja kalau Gus Mus sangat dihormati oleh masyarakat. Karenanya, tak mengherankan pula jika Gus Mus dinobatkan sebagai salah satu tokoh Muslim yang berpengaruh di dunia. Kontribusi dan sumbangsihnya dalam dunia Islam, khususnya di Indonesia, tak diragukan lagi. Berbagai ceramah dan karya-karya Gus Mus banyak memberikan pencerahan dan menginspirasi umat.

Sebagai seorang kiai dan sastrawan, Gus Mus banyak menulis puisi, cerpen, dan novel seputar permasalahan sosial, budaya, dan politik. Di antaranya yaitu, Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (1988), Tadarus, Antologi Puisi (1993), Wekwekwek: Sajak-Sajak Bumi Langit (1993), Rubaiyat Angin dan Rumput (1995), Pahlawan dan Tikus (1995), Gelap Berlapis-lapis (tt), Gandrung, Sajak-Sajak Cinta (2000), dan Negeri Daging (2002). Bahkan, cerpen Gus Mus yang berjudul “Gus Jakfar” masuk sebagai salah satu cerpen terbaik Kompas pada tahun 2003.

Selain itu, Gus Mus juga rajin menerbitkan karya-karya buku keagamaan dan terjemahan dari bahasa Arab. Di antara karya-karya tersebut adalah Dasar-Dasar Islam (1401 H), Ensiklopedi Ijma’ (bersama KH. M.A. Sahal Mahfudh, 1987), Kimiya-us Sa’adah, Syair Asmaul Husna, Mahakiai Hasyim Asya’ari (1996), Metode Tasawuf al-Ghazali (1996), al-Muna (1997). Ia juga menulis esai sosial-keagamaan yang sebagian juga telah diterbitkan, seperti Mutiara-Mutiara Benjol (1994), Saleh Ritual Saleh Sosial (1995), Pesan Islam Sehari-hari (1997), Fikih Keseharian I-II (1997), Konvensi (2018), dan Melihat Diri Sendiri (2019).

Banyaknya karya-karya Gus Mus di atas, menjadi bukti nyata bahwa Gus Mus adalah seorang kiai, sastrawan, cendekiawan, sekaligus ulama yang memiliki kedalaman ilmu. Seorang ulama yang memiliki wawasan keilmuan yang luas. Tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu agama saja, melainkan juga ilmu bahasa dan sastra, sosial, serta budaya. Gus Mus adalah samudera ilmu kehidupan bagi umatnya.

Kedalaman ilmu yang dimiliki Gus Mus juga menjadikannya sebagai ulama yang arif dan bijaksana. Pada muktamar NU ke-33 di Jombang misalnya, sikap arif dan bijaksana Gus Mus terlihat dari penolakannya terhadap jabatan Rais Aam di PBNU, karena adanya dua kelompok yang menginginkan jagonyalah yang menjadi Rais Aam. Namun, dengan segala kerendahan hati, Gus Mus memilih meletakkan kembali jabatannya kepada ahlul halli wal aqdi (AHWA). Dalam hal ini, ketidaksediaan itu menunjukkan sikap arif, bijaksana, dan tawadhu Gus Mus yang tak berambisi menduduki jabatan di NU.

Pada akhirnya, kearifan dan kebijaksaan Gus Mus tersebut membuatnya menjadi pengayom bagi umat dan masyarakat. Gus Mus menjadi peneduh dan penyejuk di tengah kegaduhan dan kering kerontangnya relasi sosial kita. Ia laksana oase di tengah padang pasir yang panas, yang selalu memberikan kesejukan dan kedamaian bagi siapapun yang menghampirinya. Sekali lagi, Gus Mus adalah pengayom bagi siapapun tanpa terkecuali.

Karenanya, tidak salah jika kita menyebut Gus Mus menjadi imam dan ulama kita semua. Sebab, berdasarkan poin-poin di atas, setidaknya ada empat alasan yang dapat disebutkan. Pertama, Gus Mus merupakan salah satu tokoh Muslim berpengaruh. Kedua, Gus Mus memiliki kedalaman dan wawasan ilmu yang luas. Ketiga, Gus Mus seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Terkahir, Gus Mus adalah pengayom bagi umat dan masyarakat.

Maka dari itu, sudah sepantasnya Gus Mus menjadi panutan kita. Sudah sepatutnya Gus Mus menjadi pemimpin kita semua. Sudah seharusnya Gus Mus menjadi ulama teladan kita. Sebab, Gus Mus adalah imam kita bersama.

%d blogger menyukai ini: