Setiap tahun, kita disibukkan dengan sebuah perdebatan soal ucapan selamat natal. Narasi pengharaman ucapan Selamat Natal bagi Muslim merupakan polemik tidak berkesudahan yang tidak bermanfaat, sesuatu hal yang sia-sia atau tidak berfaedah, bahkan narasi ini cenderung memecah belah. Faktanya, tidak ada satu pun aturan hukum negara yang melarang mengucapkan Selamat Natal kepada Non-Muslim. Terlebih Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang selalu mengklaim representatif dari fatwa-fatwa Muslim Indonesia, tidak pernah sekalipun mengeluarkan fatwa haram tersebut.

Kesalahpahaman fatwa Buya Hamka (1981) MUI yang dinarasikan oleh sebagian umat Islam terkait ucapan selamat natal, menunjukkan kesempitan berpikir hitam putih, benar salah, dan halal haram. Faktanya, pada zaman Orde Baru yang pada waktu itu sedang santer isu “Natal Bersama” dan sangat fenomenal. Di sinilah kemudian Buya Hamka mengeluarkan fatwa terkait Natal.

Mengutip fatwa Buya Hamka berdasarkan referensi H. Rusydi Hamka dari buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka, (2016), Dalam sebuah khutbah jumat di Masjid Agung Al-Azhar, dengan suara lantang Ayah mengingatkan umat bahwa haram hukumnya, bahkan kafir bila ada orang Islam yang menghadiri upacara Natal. Natal adalah kepercayaan orang Kristen yang memperingati hari lahir anak Tuhan. Itu adalah akidah mereka. Kalau ada orang Islam turut menghadirinya, berarti dia melakukan perbuatan musyrik.

Fatwa tersebut meliputi dalam menyalakan lilin bersama, menyanyikan lagu-lagu natal, berdoa dan ritual misa ibadah Kristen lainnya. Maka dari itulah, Buya Hamka dengan MUI mengharamkan umat Islam untuk ikut merayakan Natal bersama, dan bukan mengucapkan Selamat Natal. Apalagi Menteri Agama pada saat itu turut merayakan Natal bersama.

Menurut cucu Buya Hamka yang bernama Naila Fauziah, saat Buya Hamka tinggal di Jl. Raden Patah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tetangga-tetangganya banyak dari kalangan Non-Muslim, atau penganut Kristiani. Dan setiap kali hari raya Natal, neneknya atau andung dalam bahasa minang, rutin memasak rendang. Ibu, Ayah, Paman, Bibi, dan saudara-saudaranya, mereka yang mengantarkan langsung makanan kepada tetangga-tetangga yang sedang berbahagia merayakan hari Natal. Tak lupa sekaligus mengucapkan Selamat Natal kepada mereka.

Sampai titik ini, menjadi jelas jika MUI tidak pernah menerbitkan fatwa, bahwasanya mengucapkan Selamat Natal kepada Non-Muslim adalah haram. Hanya merayakan bersama yang diharamkan. Hal itu pun sebagai dampak dari wacana perayaan Natal bersama yang pada waktu itu sedang santer di kalangan pemerintah. Namun memang ada pula beberapa ulama yang berpendapat mengucapkan Selamat Natal itu haram. Lebih lagi, MUI merupakan lembaga swadaya informasi yang memberikan keterangan mengenai kondisi umat Islam kepada pemerintah. Tidak lebih dari itu.

Sebagian menganggap ulama yang mengucapkan Selamat Natal tidak bisa mempersatukan umat Islam terkait ucapan Selamat Natal. Hal itu akan menimbulkan perpecahan di antara umat Islam. Apalagi bagi kelompok yang selalu berpikir politis yang dalam hal perbedaan dianggapnya melemahkan Islam. Tapi banyak pula yang berpendapat sebaliknya, perbedaan bagi mereka termasuk penulis sendiri, adalah sebuah kenyataan, kemajemukan, dan keniscayaan dari Tuhan. Karena pada hakikatnya manusia diciptakan berbeda-beda, baik dalam tingkah laku, maupun cara berpikir.

Karena itu, perbedaan semestinya harus bisa diterima dengan lapang dada, atau bahkan disyukuri dan dirayakan sebagai bagian dari anugerah Tuhan yang memberikan banyak pilihan kepada kita semua, manusia. Yang dilarang oleh Islam adalah memaksakan kehendak suatu kebenaran secara sepihak. Tidak boleh ada paksaan dalam beragama ayat al-Quran menyebutkan.

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa persamaan pendapat sangat penting demi terciptanya satu kesatuan dan persatuan. Akan tetapi, di sisi lain, memaksa orang lain agar sependapat dengan kita, hanya menimbulkan perpecahan seperti yang dalam kondisi kita sekarang ini. Selain itu, yang lebih penting esensinya adalah mengupayakan persatuan dan harmonisasi persaudaraan, bukan memperuncing suatu persoalan. Umat Islam perlu bersatu dalam hal-hal pokok, tapi tidak dalam cabang-cabangnya. Pendapat yang berbeda, semakin memperkaya khazanah keislaman kita.

Seperti kita ketahui bersama, sepanjang sejarah hubungan Islam-Kristen, banyak terlibat konflik. Misalnya saat perang salib. Tapi seiring perkembangan zaman, pemeluk kedua agama ini dapat hidup berdampingan secara damai. Karena kita semua telah belajar dari sejarah yang banyak terlibat konflik berdarah-darah satu sama lain. Tentu saja bagi siapapun dan penganut agama manapun yang masih berpikiran waras, sudah dipastikan lebih mengutamakan hidup dalam kedamaian ketimbang benturan dan konflik. Untuk itulah ucapan Selamat Natal dinilai penting dalam menjaga harmonisasi hubungan antarumat beragama.

Apalagi bagi umat Islam, Yesus adalah Isa Al-Masih, salah satu Rasul Allah yang utama, dan seorang Putra Maria atau Maryam yang kelahirannya Isa—Natal dalam istilah Kristen—merupakan suatu mukjizat. Sebab Rasulullah Isa lahir dari seorang wanita perawan shalehah. Karena itu semestinya pula kita sebagai umat Islam turut senang dan merayakan, sebagaimana kita merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Meski tidak ada kejelasan pasti mengenai tanggal kelahiran Isa Al-Masih, tapi tidak menutupi kenyataan, kita pun sudah sepatutnya bergembira atas mukjizat Allah SWT. yang diyakini suatu saat akan turun ke bumi dalam rangka mengembalikan umat manusia untuk bertakwa kepada Allah SWT.

KH. Mustofa Bisri atau lebih akrab disapa Gus Mus, pernah mengatakan dalam ceramahnya saat haul Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, bahwa di dunia ini, manusia yang ditandai sebagai Hari Nasional atas kelahirannya sekaligus dirayakan yang ia ketahui hanya ada tiga orang. Pertama, tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Isa Al-Masih atau Hari Raya Natal—terlepas dari kontroversi tanggal kelahiran Yesus—menjadi Hari Nasional yang dihormati oleh seluruh penduduk negeri ini.

Yang kedua adalah Maulid Nabi Muhammad SAW. 12 Rabiul Awal akan disesuaikan dengan kalender masehi untuk menandai hari kelahiran baginda Nabi SAW. yang dirayakan dengan penuh rasa cinta melalui shalawat. Dan yang ketiga, adalah Hari Nasional Ibu Kartini. Selain itu, semua tokoh besar yang ditandai adalah hari kematiannya dengan apa yang kita kenal sebagai Haul Almarhumin. Tentu mereka yang ditandai hari kelahiran, merupakan tokoh-tokoh kunci yang menandai zaman, menandai peradaban.

Maka tidak dapat dimungkiri bahwa pada periode atau era tertentu, spirit toleransi umat Islam semakin tergilas oleh kecenderungan mayoritas umat Islam yang terbelenggu oleh dogmatisme, fatalisme, intoleransi, dan fanatisme buta yang berakibat destruktif. Padahal, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara dengan tingkat kemajemukan dan pluralitas yang kaya—budaya, tradisi, bahasa, suku, etnis, ras, dan agama—menjadikan kesetaraan dan persatuan merupakan kekuatan super power yang paling ampuh dalam menghadapi pemecahbelahan.

Di mata negara, tidak ada istilah mayoritas dan minoritas. Semua setara, semua saling menghormati. Rasanya Islam sempit sekali jika hanya mengucapkan Selamat Natal saja diharamkan. Kita semua perlu menebarkan kasih sayang melalui hal-hal sederhana seperti mengucapkan Selamat Natal kepada saudara-saudari kita umat Kristiani. Terlebih, Yesus mengajarkan cinta kasih kepada sesama manusia, bahkan kepada musuh sekalipun. Demikian kita akan hidup dalam ajaran cinta semesta yang lebih luas.

Islam merupakan agama rahmat. Bukankah rahmat itu amat luas? Demi keluasan rahmat Tuhan, semestinya umat Islam turut mengucapkan Selamat Natal, bila perlu turut bergembira atas lahirnya Yesus, dan berdoa semoga kita pun tetap dalam ajaran cinta kasihnya. Ucapan Selamat Natal, merupakan salah satu contoh toleransi paling tinggi dari Islam yang menebarkan cinta dan kasih sayang kepada seluruh alam semesta—rahmatan lil alamin.

%d blogger menyukai ini: