Nasionalisme, sebagaimana sudah disampaikan dalam kolom saya Nasionalisme dalam al-Quran, Rabu (11/11/2020), merupakan suatu paham kebangsaan yang lahir karena adanya perasaan senasib dan sepenanggungan untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa yang merdeka, berdaulat, dan bersatu dengan didasari cita-cita yang sama dalam membentuk suatu negara kebangsaan. Hal ini tidak lain karena didasarkan atas rasa cinta terhadap Tanah Air. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika nasionalisme sering diasumsikan sebagai ideologi pemelihara suatu bangsa.

Nasionalisme, dalam perjalanannya telah membawa dan membangkitkan semangat dan upaya perlawanan bangsa-bangsa Timur terhadap kolonialisme Barat. Walau nasionalisme adalah produk Barat itu sendiri, tetapi bangsa-bangsa Timur merepresentasikan nasionalisme tidak sebagaimana Barat, yang identik dengan kolonialisme. Sementara itu, nasionalisme Timur sebaliknya, yakni nasionalisme berkemanusiaan. Aktualisasi demikian, yang kemudian dapat diterima oleh sebagian besar kelompok Islam.

Baca selengkapnya: Nasionalisme dalam al-Quran

Islam mengakui bahwa Tuhan menjadikan manusia berkelompok-kelompok dan berbangsa-bangsa. Namun, dalam pandangan Islam secara tegas tidak membenarkan pemahaman nasionalisme chauvinistic. Jika sebelumnya saya membahas nasionalisme dalam perspektif al-Quran, dalam kesempatan kali ini, saya akan berupaya mencari titik temu dalil-dalil nasionalisme dalam perspektif hadis. Hal ini tidak lain karena upaya penegasan, jika nasionalisme selaras dengan pandangan Islam, tidak sebagaimana pemahaman kelompok-kelompok Islam fundamentalis. Seperti HT, IM, Wahabi, dan kelompok-kelompok Islam konservatif lainnya.

Adapun beberapa hadis yang menggambarkan nasionalisme diantaranya, sebagaimana Diriwayatkan dari sahabat Anas: bahwa Nabi Muhammad SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. (HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari (1379) menegaskan, bahwa dalam hadits tersebut terdapat dalil ihwal nasionalisme.

Dari hadis di atas setidaknya kita dapat menemukan pesan nasionalisme. Yakni, dalil atas keutamaan kota Madinah. Kota yang dicintai Rasulullah SAW serta kota di mana beliau menemukan kemerdekaannya untuk pertama kali dalam berdakwah. Sependapat dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar, Badr Al-Din Al-Aini dalam ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari menyatakan: “Di dalamnya (hadit) terdapat dalil atas keutamaan Madinah, dan dalil atas disyari’atkannya cinta Tanah Air dan rindu padanya.”

Hadis berikutnya yang dapat dijadikan dalil nasionalisme adalah, sebagimana disampaikan Abu al-Qosim Syihabuddin Abdurrahman bin Ismail dalam kitabnya Syarhul Hadits al-Muqtafa fi Mab’atsil Nabi al-Mushtafa (1999). Al-Suhaily berkata: Dan di dalam hadis (tentang) Waraqah, bahwasanya ia berakata kepada Rasulullah SAW; sungguh engkau akan didustakan, Nabi tidak berkata sedikitpun. Lalu ia berkata lagi; dan sungguh engkau akan disakiti, Nabi pun tidak berkata apapun. Lalu ia berkata; sungguh engkau akan diusir. Kemudian Nabi menjawab: Apa mereka akan mengusirku?

Dalam hadis ini, kita dihadapkan pada konteks yang sangat menyayat hati. Kita melihat rasa haru dan cemas Rasulullah tatkala akan diusir. Dari hadis ini pula, kita dapat menemukan perasaan atas cintanya Rasulullah SAW terhadap Tanah Air dan beratnya berpisah dengan Tanah tercinta. Abdurrahim bin Husain al-Iraqi juga menegaskan dalam Tatsrib fi Syarh Taqribil Asanid wa Tartibil Masanid, “al-Suhaily berkata: di sinilah terdapat dalil atas cinta Tanah Air dan beratnya memisahkannya dari hati”. Secara ekspilisit, bahkan Rasulullah pernah bersabda: ,,,Ya Allah, jadikanlah Madinah sebagai kota yang kami cintai, sebagaimana kami mencintai Mekkah atau bahkan lebih dari itu,,,(HR. al-Bukhari).

Dari beberapa hadis di atas, secara gamblang dan jelas jika nasionalisme dibenarkan dalam hadis. Bahkan, kita menemukan rasa nasionalisme (cinta Tanah Air) yang diimplementasikan Rasulullah SAW dalam kehidupan nyata. Karena itu, cukup mengherankan jika dewasa ini masih saja ada kelompok-kelompok yang menyoal dalil nasionalisme dalam Islam. Padahal, baik dalam al-Quran maupun Hadis, keduanya menyimpan dalil-dalil yang membenarkan nasionalisme itu sendiri. Dan bahkan jumhur ulama mengamini itu.

Pendek kata, tidak ada lagi alasan menyoal dalil nasionalisme dalam Islam. Karena, baik al-Quran maupun hadis keduanya membenarkan, dengan syarat bukan nasionalisme chauvinistic.

%d blogger menyukai ini: