Istilah revolusi nampak terdengar keren untuk melakukan suatu perubahan. Namun apakah sudah tepat jika kita menggunakannya dengan istilah revolusi akhlak. Padahal, Rasulullah SAW sebagai pemilik akhlak agung tidak mengatakan demikian. Sebab akhlak sejatinya telah ada dalam pemikiran dan hati nurani setiap manusia, jadi beliau hanya mengamalkan agar umat Islam mencontoh sekaligus sebagai refleksi dan bukti tempaan Tuhannya secara langsung. Maka dari itu, adakah dari kita yang merasa berhak merevolusi akhlak menyaingi beliau?

Menyoalkan istilah revolusi yang disandingkan dengan akhlak sebagaimana kini trending di media sosial merupakan kepongahan kelompok yang mengagungkannya. Orasi Rizieq Syihab tentang revolusi akhlak yang dihimbau kepada pengikutnya FPI justru menjadi bumerang bagi citra Rizieq Syihab dan kelompoknya. Bagaimana bisa mereka mengatakan demikian, tetapi secara bersamaan melakukan yang dianggap tak bisa dikompromi, seperti beberapa fasilitas dan taman dibandara mengalami kerusakan.

Selain itu penerbangan sempat tertunda dan sepanjang jalanan menuju bandara Seotta macet karena kerumuan massa penjemputan Rizieq Syihab (10/11). Mesti digarisbawahi, sebenarnya yang menadi problemnya bukan tentang penjemputan Rizieq Syihab, tetapi mereka yang mengganggu ketertiban publik perlu diperhitungkan untuk bertanggung jawab atas tindakannya, apalagi di masa pandemi massa sebanyak itu tidak bisa dikatakan tidak melanggar protokol kesehatan yang harusnya menghindari perkumpulan.

Dari pemberitaan yang trending di media sosial tersebut, kita dapat merasakan perlu ada yang meluruskan, baik dari istilah maupun perilaku terkait revolusi akhlak. Sebab peristiwa ini mengatasnamakan Nabi Muhammad SAW. Kiranya istilah revolusi akhlak perlu ditinjau agar tidak terjadi kerancuan dalam menggunakan istilah. Sebab yang dilakukan Nabi Muhammad SAW selama hidupnya adalah pengamalan pada norma-norma yang telah ada dan dikuatkan tuntunan ajaran Islam.

Misalnya, menjamu tamu, menjenguk orang sakit, menghibur mereka yang berduka, membantu kesulitan orang lain, tersenyum, berutur lembut dan sebagainya bukanlah suatu perilaku baik yang baru. Kendati dahulu adalah zaman jahiliah, tetapi tradisi akhlak seperti ini sesuatu yang lazim. Jadi penempatan istilah revolusi di sini tidak ada dalam konsep akhlak.

Sifat manusia yang suka pilih-pilih dan tidak konsisten dalam berbuat baik, menjadi perbedaannya yang mendasar antara Rasulullah SAW dengan umatnya. Akhlak beliau senantiasa menyamaratakan agar kebaikannya diberlakukan untuk semua orang. Kepada yang kaya dan miskin, berkulit hitam dan putih, memfitnah dan menghujat, siapapun mereka Rasulullah SAW tetap bebuat adil. Bukan termasuk akhlak Nabi, seandainya kebaikannya pada kelompoknya saja dan yang bisa memberi keuntungan, selainnya cenderung mengebaikan atau acuh.

Dalam syair Qashidatul Burdah oleh Imam Sa’id al-Bushiri disebutkan kausalitas terciptanya dunia ini dikarenakan keagungan dari Nabi Muhammad SAW. Meski Nabi Adam AS adalah orang pertama diciptakan dan bapak dari seluruh manusia, tetapi yang melatarbelakangi penciptaan dunia dan seisinya ternyata adalah al-Musthafa Muhammad SAW. Itu sebabnya, beliau sosok yang disempurna dengan akhlak mulia yang telah menjadikan dirinya teladan umat.

Latar belakang penciptaan tersebut dinarasikan dalam hadis kudsi tentang kisah Nabi Adam AS yang memohon ampun atas kekhilafannya. Kala itu nama Nabi Muhammad SAW turut disebutkan sebab dilihatnya lafaz La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah pada tiang-tiang Arsy. Kemudian Allah SWT mengijabahi permohonannya sembari menjawab, kalau bukan karena kau menyebut namanya (Muhammad) aku tidak akan menciptakanmu. (Syekh Ibrahim al-Bajuri: Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah).

Maka tak heran, contoh kesempurnaan sebagai manusia terpupuk dalam akhlak mulia Rasulullah SAW. Muhammed Arkoun berpendapat bahwa akhlak saat ini merosot diakibatkan kurangnya kesadaran kolektif. Di masa Rasulullah SAW akhlak bermartabat tinggi bukan saja karena bernilai baik, tetapi beliau sebagai pembina berhasil mengejewantahkan akhlaknya kepada para sahabat, sehingga berpengaruh besar bagi bangsa Arab yang watak keras.

Di sisi lain, akhlak baik yang diamalkan beliau sejatinya berunsur filosofis dan teologis. Dan ini sering terlupakan oleh mereka yang meniru akhlak Rasulullah dengan bersabar, tetapi tidak tahu untuk apa ia bersabar. Seorang yang mengamalkan akhlak tersenyum, mengasihi anak kecil, berpikir positif, atas apa yang diperbuat sepenuhnya tak sedikit yang tidak tahu untuk apa sikap itu dilakukan, kecuali kepentingan pribadi atau ketidaksengajaan.

Sedikit menyinggung filosofis dan teologis tentang akhlak,mengapa Rasulullah SAW mengatakan tersenyum adalah sedekah? Jawaban pertanyaan ini mungkin tidak penting bagi mereka yang mencukupkan mengetahui senyum itu bisa membahagiakan orang lain. Namun jawabannya menjadi penting untuk seorang yang ingin lebih menghayati dan menghargai arti sebuah senyuman.

Sebab faktanya lebih dari itu, kita bisa melihat dari perspektif medis sebuah senyuman dapat mengurangi kecemasan dan menyembuhkan. MD Burg dalam buku Smiling in The ED (2006: 473) menyatakan senyum sangat dibutuhkan, terlebih dalam keadaan gawat darurat. Sebab senyuman adalah energi positif yang dapat mendatangkan kekuatan.

Selanjutnya unsur teologis dari senyuman dapat dimaknai secara sederhana sebagai bukti rasa syukur kepada Tuhan agar manusia tidak melulu mengeluh karena nasib dan melupakan nikmat yang diberikan. Jadi tersenyum adalah ibadah dan ungkapan cinta kepada Tuhan. Demikian akhlak yang diamalkan Rasulullah SAW yang memiliki sarat makna.

Saya selalu merasa takjub setiap mengingat amal sederhana, tetapi memiliki faedah luar biasa yang diajarkan beliau. Sekian manusia yang terlahir, tak ada yang lebih mulia akhlaknya selain Rasulullah SAW. Karena itu, seorang Muslim yang sadar sebagai umat Nabi Muahmmad SAW sudah semestinya bersyukur sebab tidak usah repot-repot merevolusi akhlak karena kemuliaan akhlak beliau tak ada yang sanggup membandingi kesempurnaannya.

Catatan umat Islam sekarang ini ialah berusaha mengamalkan dan menerapkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak mengklaim merasa paling berakhlak. Pada akhirnya, semoga kita termasuk umat Muslim yang ahli dalam mengamalkan akhlak mulia Rasulullah SAW. Amin

%d blogger menyukai ini: