يَا إِمَامَ الرُّسْلِ يَا سَنَدِي أَنْتَ بَعْدَ الله مُعْتَمَدِي

فَبِـدُنْيـَايَ وَآخِـرَتِي يا رسول الله خُذْ بِيَدِيْ

Ada yang akan tentukan nilai kepada tulang-tulang

yang berserakan sehabis perang

—Chairil Anwar, Karawang-Bekasi

Countries live by death of their heroes

—Naguib Mahfudz, Penyair Mesir

Iftitah

Sesuatu banget hari ini. Tak terasa Hari Pahlawan datang kembali. Suasana yang mengharu-biru karena cuaca pandemi menyelimuti, begitu sedih. Tentunya wajib kita merebahkan hati, disyukuri dengan secangkir kopi. Wajib hukumnya juga kita kirimkan do’a-doa dan surat al-Fatihah, specially kepada pahlawan bangsa.

Ya, Hari Pahlawan Nasional, hari bersejarah 10 November yang terinspirasi peristiwa pertempuran rakyat melawan Sekutu di Surabaya. Sebuah Resolusi Jihad 45 yang dikumandangkan oleh ulama linuwih, orang tua kita semua yakni Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Begitu juga seruan perlawanan, Amanat Jihad dari Muhammadiyah. Semuanya tentang cinta Tanah Air, mempertahankan bangsa dari penjajah harta dan penjarah haus darah.

Hari Pahlawan adalah gerak perubahan melawan manusia berekor, yang cinta dunia puncaknya. Perubahan butuh tekad yang besar, kegigihan, dan kerelaan untuk berkorban demi sesuatu yang Maha. Perubahan juga memerlukan teladan utama, digerakkan oleh pahlawan. Bangsa yang besar bukan saja bangsa yang menghargai para pahlawannya, tapi juga bangsa yang mengenang dan meneruskan perjuangan suci mereka.

Filsuf eksistensialisme bernama Sören Kierkegaard berkata,”seorang tiran mati dan kekuasaannya berakhir. Seorang martir gugur, dan kisahnya baru dimulai.” Begitulah yang terjadi pada bangsa Indonesia, banyak pahlawan yang gugur demi menegakkan bangsa dari Sabang sampai Merauke. Sejak itu, semua anak bangsa mengenang kematian mereka, mewarisi api perlawanan dan kisahnya pun baru dimulai di penjuru negeri. Kita dengan setia memperingati peristiwa legendaris dan berusaha mengambil hikmah dan teladan para pahlawan. Di bumi Indonesia, pahlawan abadi dalam sejarah, dalam keabadian.

Sekali lagi, semua anak bangsa tentunya mengingat terus jasa pahlawan. Meneladani pejuang negeri untuk mewarisi api perjuangannya di masa lalu, untuk masa kini dan masa depan. Pahlawan bangsa yang mengorbankan nyawanya demi kita saat ini, menikmati negeri ini. Walaupun 80% kekayaan bangsa ini dikuasai oligarki dan group-group asing. Tragis memang!

Mantap, tetap jangan pernah lupa. Jangan abai dan jangan sampai barisan milenial terputus dengan sejarah pahlawan negeri, pendiri bangsa. Janganlah kita semua jadi generasi a-historis, ngga kenal Bung Karno, Moh Hatta, Hadrattussyaikh, Tan Malaka, KH.Ahmad Dahlan, Bung Tomo dan lainnya. Jangan sampai tahunya Blacpink, BTS, Lee Min Ho, Gong Yoo dan Won Bin, Shah Rukh Khan, Erdogan, Donald Trumph, Kim Jong Un dan Joe Biden. Kan ngga lucu guys!

Dalam buku Indonesia Merdeka yang disusun berdarah-darah oleh Bung Karno, ada hal penting. Kenang-kenanglah pesan seorang pejuang nasional di Digul yang terdapat pada sebuah batu nisan di tempat pembuangannya, yang jauh dari sanak-keluarganya. Kata-kata itu ditulis di atas batu nisan yang sangat sederhana, tercantum syair yang mengharukan hati, ditulis saat detik-detik terakhir hidupnya:“De Toors, Onstoken In Den Nacht, Reik Ik Voorts, Aan Het Nageslacht” Artinya: Obor yang Kunyalakan di malam gelap ini, Kuserahkan kepada generasi kemudian. Generasi kemudian itu adalah kita semua dari Sabang sampai Merauke, generasi milenial nasionalis yang berdzikir menyiasati angin neo-imperialisme dan oligarki, melanda Indonesia seperti halnya Covid-19, wabah bangsa.

Bahkan saat ini kita menghadapi ancaman dan tantangan mempertahankan Pancasila dari serangan penegak khilafah, gerakan populisme agama, anarko syndakalis, fundamentalis pasar bebas dan lainnya. Siapkah kita hadapi itu semua?

Tentang Dia, Pahlawan

Punten bro! Saya pernah nonton dua film yang keren dan top berjudul Sang Kyai. Berkisah tentang hero, pahlawan-pahlawan bangsa yang berjihad melawan penjajah dan penjarah yang ingin menguasai bangsa. Ada dawuh keren dari Hadratussyaikh: Banyak orang yang wafat di medan tempur melawan penjajah, mereka tak dikenal sebagai pahlawan. Tapi saya yakin mereka adalah mujahid, mati sebagai syahid, mereka adalah syuhada. Film keren tenan yang harusnya diputer di semua media TV nasional, diajarkan di PAUD, TK, sekolah dan kampus.

Bagaimana mengenalkan Dia, pahlawan negeri yang luar biasa itu?

Kita bisa share and share perjuangan pahlawan di medsos, video youtube, instagram, twitter dan lainnya. Jangan sampai Naruto, Doraemon dan Sponge Bob, Spiderman, Batman, Marvel Avenger dan Super Hero jadi idola para krucil dan bocil. Peran mama-papa, ibu-bapak dan orang tua sangatlah penting dalam keluarga cemara, mengenalkan pahlawan bangsa. Apa kata dunia jika Pangeran Diponegoro, Patimura, RA Kartini, Cut Nyak Dien tenggelam dan hilang dalam sejarah arus era digital.

Kedua, film berjudul 300, tentang cerita raja Leonidas dari Sparta melawan Raja Xerxes dari Persia. Saat detik terakhir matinya, ia berkata: “Kenang-kenanglah, Kami”.

Nah, kita harus mengenang kembali, menghidupkan pahlawan-pahlawan negeri di era kekinian yang semakin keras, sadis dan bengis.

Sahabat fillah di penjuru Tanah Air, mohon izin sruput kopi.

Peringatan Hari Pahlawan tahun ini diselimuti wabah pandemi yang sungguh ngeri, ribuan warga meninggal dunia, ada ratusan dokter, petugas medis dan lainnnya. Mereka sudah berbuat yang terbaik, masyarakat juga bergotong royong di tengah sitausi yang mencekam ini. Dunia sedang dilanda bencana yang juga butuh kerja sama dalam berbuat baik. Karena mereka menyerap energi para pahlawan negeri.

Pahlawan berasal dari kata pahala, ya sebuah pahala dari Tuhan Yang Maha Kuasa, karena amal shaleh dan kebaikannya selama hidup di dunia. Tentunya amal baik untuk sesama manusia dan bangsa. Pahlawan adalah orang yang banyak berbuat baik, berakhlak dan menerima pahala. Coba saja yang berbuat baik di zaman pandemi saat ini adalah para penyelenggara negara, pasti sudah beres masalah bangsa. Berbuat yang terbaik untuk rakyat, dengan cepat dan tepat. Sekali lagi, pasti rakyat ngga kelimpungan kena dampak di-PHK, took-toko yang banyak tutup dan lainnya. Penyelenggara negara harus serius turba.

Ketika disebut nama pahlawan, yang terbayang adalah kematian. Syarat pahlawan memang sosok yang sudah gugur ke bumi. Kematiannya menjadi teladan dan inspirasi anak-anak negeri. Gugurnya pahlawan adalah legacy kebaikan yang ditularkan demi hidup hari ini dan kemudian hari.

Ya, menghadirkan sebuah kepahlawanan dalam diri kita sendiri. Kepahlawanan dalam diri inilah yang menggerakkan empati, peduli terhadap rakyat untuk berbagi kasih dengan para korban bencana, wabah pandemi dan saudara-saudara kita yang tertinggal. Bersama memprotes pemerintah dalam menyalurkan bantuan dan keputusan yang merugikan rakyat. Plus juga jangan korupsi dan menggarong APBN. Kepahlawanan pemimpin bangsa dan penyelenggara negara bisa menjadi contoh. Karena itu, nilai kepahlawanan seorang pemimpin nasional dan kepala daerah ditentukan oleh kemampuannya untuk menghidupkan jiwa kepahlawanan pada diri rakyatnya. Tentunya, dimulai dari pemimpin dan bawahannya. Baru rakyat mengikuti jalannya. Itu point pentingnya Pak!

Pengorbanan untuk bangsa

Ada banyak pakar yang katakan bahwa Indonesia sudah kalah tekad dan cita-cita dari orang Yahudi kulit putih Eropa. Belum lagi kita kalah dengan bangsa Cina, India, Barat, Rusia, Latin, Turki, Korsel, Iran dan bangsa lainnya dari langkah progresifitas sejarah, terutama bidang medis, sains, teknologi dan ekonomi. Itulah tantangan terbesar dan terberat masa kini.

What i’ve done sebagai anak bangsa Indonesia. Sebagai orang Muslim Indonesia? Sebagai milenial nasionalis? Sebagai penerus pahlawan? Tugas sejarah kita masa kini adalah seperti yang dilukiskan dalam metafora pakar sejarah bernama Arnold Toynbee,”harus memberikan jawaban yang tetap pada tantangan yang sudah berubah”. Kita harus berpijak di bumi Indonesia, untuk rakyat, dan bangsa. Kita harus menghidupkan pahlawan dalam diri kita di zaman yang serba cepat dan ngeri ini.

Sahabat milenial di café dan warung-warung kopi di penjuru negeri.

Pahlawan adalah sosok yang membumi dan melangit. Tentunya mereka sangatlah spesial dalam ingatan, nurani dan imajinasi. Saya selalu menganggap pahlawan selalu ada di masa lalu, masa kini dan masa depan. Pahlawan adalah sosok dengan laku kepahlawanan. Tak pernah berlaku egois, dan tampil menyelamatkan orang lain. Laku itu sangat langka dan tak dengan sendirinya melekat pada diri seseorang. Juga tindakan heroik tak pernah datang dari langit. Tauladan pengorbanan diri dalam kehidupan sejarah bangsa. Inilah sikap yang diwariskan dari generasi ke generasi, dengan perbagai ungkapan yang dibangun dan dijunjung tinggi sahabat-sahabati seperjuangan.

Kita bisa melihatnya, bagaimana sosok pemuda-pemuda yang di tengah ketegangan Kota Surabaya Oktober 1945 merobek Merah-Putih-Biru dan mengubahnya jadi bendera Merah-Putih di atap Hotel Yamato melakukan sesuatu yang bukan pribadi. Ketika Chairil Anwar menulis tentang mereka yang gugur dalam pertempuran di wilayah Karawang-Bekasi, tersirat sebuah kesadaran:”ada yang akan “tentukan nilai” kepada “tulang-tulang yang berserakan” sehabis perang”.

“Kenang, kenanglah kami….”. Ada kenangan bersama yang memberi makna. Bangsa, ungkap Benedict Anderson dalam Imagined Communities yang terkenal itu, selalu diikat sebagai sebuah hubungan setia kawan yang sejajar dan mendalam. Pada akhirnya,”rasa persaudaraan inilah” yang menyebabkan berjuta-juta rakyat, bersedia berkorban atau mati untuk sebuah kemerdekaan bangsa, Indonesia yang kita cinta.

Kopdar bareng milenial

Dalam sebuah agenda ngopi di warkop bareng milenial bernama Firman, ia mempertanyakan makna Hari Pahlawan tahun 2020. Ketika rakyat di pinggir-pinggir terluar negeri ini sama sekali tidak merasakan perbedaan hidup baik masa lalu dan masa kimi. Tetap terbelakang, tak tersentuh, tak terperhatikan, bahkan kian terimpit desakan hidup yang terus mendera di tengah pandemi. Ketika tiga hal pokok dalam hidup kita (ekonomi, kesehatan, dan pendidikan) kian hari justru menjadi tekanan, menjadi beban yang berat, apakah teriakan “merdeka! di Hari Pahlawan” masih punya getaran di jiwa?

Banyak sekali masalah bangsa misalnya masih ada 7 juta warga ialah pengangguran terbuka, puluhan juta yang tertutup. Bahkan, lebih dari setengah mereka yang bekerja tersebut, hanya lulus dari sekolah dasar. Lebih tragis lagi, persentase terbesar dari pengangguran itu ternyata lulusan perguruan tinggi dan sekolah kejuruan. Bahkan saat ini juga, kita semua mengalami tahap yang cukup ngeri yakni masalah dasar negara Pancasila. Pancasila tidak sekedar menjadi jargon yang diulang-ulang dan simbol belaka. Pancasila tidak boleh juga menjadi alat kekuasaan, tapi harus melampaui itu. Pancasila wajib menjadi payung tempat berteduh dan bubu indah semua anak bangsa yang warna-warni.

Pancasila sebagai tanda dari kehidupan berbangsa yang lapang dan waras. Saat ini banyak geng-geng yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi asing. Bahkan ada juga yang menghina dan mencaci-maki Pancasila. Angin populisme agama sedang melanda di negeri kita baik di media sosial dan tindakan di tengah masyarakat. Berhati-hatilah.

Yang jelas, langkah kita adalah mengamalkan dasar negara Pancasila, diamalkan sebagai working ideology di masa kini dan negara harus mewujudkannya. Problem penting yang melanda bangsa kita dewasa ini adalah tergerusnya nilai-nilai kebangsaan sekaligus menipisnya Pancasila dalam jiwa segenap bangsa. Sehingga Pancasila hadir sebagai pusat gerak tubuh manusia sebagai bangsa di tengah fenomena kebangsaan yang mulai sempal dan hancur. Kita adalah pejalan yang mengikuti kompas sejarah itu, nyaman dan selamat hingga ke tepian, menuju pulau harapan, kebahagiaan bangsa. Petunjuk arah, kompas itu bernama Pancasila.

Kita semua kaum milenial harus mampu mewarnai bangsa dengan energi pahlawan. Sosok milenial janganlah blank, menjawab tantangan zaman. Milenial harus berpikir bagaimana menyatukan dan memajukan bangsa di era digital saat ini. Milenial jangan sampai menjadi yatim-piatu secara kultural, krisis diri dan jati diri. Apalagi kalau masuk media sosial. Semua panduan hidup yang dipelihara bangsa ini hancur, media sosial isinya caci maki, fitnah dan provokasi semata tanpa pencerahan diri. Bahkan tuna empati kepada yang lain di tengah wabah pandemi.

Begitu juga banyak dari kita kaum milenial terlibat secara aktif dalam gerakan klandestin atau radikalisme teroris karena justru terpapar atau terinduksi ideologi yang berbeda, seperti khilafah dan lainnya. Dalam situasi bangsa yang limbung, instable, mereka mengais-kais pegangan sebagai acuan baru dan mereka menemukannya di dunia ‘hukum rimba’ tadi, internet dan medsos. Itu semua, kita alami saat ini. Ya, kita semua. Kehidupan kita saat ini dicengkeram gadget dan medsos dari subuh sampai tengah malam, dari tengah malem balik lagi ke subuh. Ampun!

Apa yang terjadi saat ini adalah tak adanya panduan yang berarti dari hidup yang kita jalani. Agama kering, penuh kebencian, kemarahan, dipolitisir demi nafsu kuasa oleh Imam Besar Post-Truth. Milenial dan kita semua akhirnya mengambil acuan di dunia medsos. Kita juga lebih mengenal Korea, Amerika, Turki atau Jepang, dibandingkan dengan daerah asal sendiri, kampung halaman dan bangsa sendiri. Indonesia menjadi kacau balau dan mengerikan bro. Akhlak pengabdian pahlawan harus dihidupkan kembali di masa kini agar kita tak tersesat di hutan rimba sejarah dan mabuk agama di masa kini dan masa depan.

Kata Bang Napi; waspadalah!

Akhirul Kalam,

Singkatnya cerita, kita mesti bisa berlaku seperti pahlawan-pahlawan bangsa, Bung Karno contohnya, dalam berbangsa dan bernegara di tengah era penuh dengan kekerasan, kemarahan, pecah belah antar sesama dan infiltrasi faham yang bertentangan dengan Pancasila. Yuk tidak melihat ras, budaya, agama, dan bahasa. Inilah visi Hari Pahlawan era kini. “Merawat atau hilang sama sekali”. Kata pahlawan kita, Soekarno,”bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan”.

Membangun kedamaian dan persaudaraan kepada sesama anak bangsa juga sifat dan karakter pahlawan, sekaligus juga saling gotong royong, dengan kolaborasi membangun bangsa dengan ide, gagasan yang baik dan positif, hubbul wathon minal iman, cinta Tanah Air adalah bagian dari iman. Itulah cara kita memaknai Hari Pahlawan Nasional. Yuk seluruh rakyat dan kaum milenial di penjuru Tanah Air, warisilah api pahlawan negeri. Kita gunakan untuk mewarnai Indonesia, menjaga Pancasila di era kemarahan yang melanda.

Pointnya, kita semua, kaum milenial dan ‘siapa pun dapat menjadi apa pun’, dari bukan siapa-siapa menjadi ‘siapa’, from zero to be (come) hero. Cuman penyelenggara negara saja yang ngga ngurus rakyat dan manusia unggul di Republik ini. Rakyat sendiri yang bergerak, memperkuat dirinya jadi hero. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa Pahlawan. Mereka telah mengorbankan nyawanya demi Kemerdekaan bangsa. Kita warisi api pahlawan negeri demi sebuah kebanggaan nasional (national pride). Kita perlu merawatnya dengan tujuan berbangsa dan bernegara yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagaimana lirik lagu Pahlawan yang super keren: gugur satu tumbuh seribu.

Saya akhiri ngopi-ngopi kita ya. The heroes of TV series and film are really lucky! The find the solutions to their problem in no time. Pahlawan-pahlawan di serial TV dan film bener-bener beruntung! Mereka menemukan solusi atas masalah mereka dalam waktu yang singkat. Tentunya hal ini bukanlah sosok pahlawan di bangsa kita, Indonesia. Pahlawan Indonesia ialah ia lahir, berjuang dan syahid membela negerinya. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari contohnya. Inilah pahlawan sejati, keren, bukan yang lain. Apalagi yang sekedar ngaku-ngaku pemimpin besar umat beragama di sebuah bandara.

Semoga dengan berkah atmosfer indah Maulid Muhammad Sang Nabi, ruh para pahlawan bangsa digabungkan dan menyatu dengan orang-orang sholeh sepanjang sejarah, senantiasa dirahmati Tuhan di taman syurgawi. Tentunya, hari demi hari kita senantiasa rapalkan puja-puji shalawat kepada manusia agung berakhlak sejati. Ya Rasulullah SAW Khud Bhiyadi!

Demikian, salam ngopi, jangan lupa bahagia.

Berkat jasa pahlawan, kita kini bisa bahagia dan ngopi.

Mereka senantiasa hidup di hati, di sini

dan dalam setiap sruputan kopi. Merdeka!

Al-fatihah maa shalawat.[]

%d blogger menyukai ini: